Mendidikan Diri di Anak Benua

9:04 PM Add Comment
Graduation Ceremony by PPI Hyderabad


 Pertanyaan terpopuler selama saya menempuh pendidikan di India adalah, ‘Kenapa memilih India?’. Jawaban saya sederhana, karena Bahasa Inggris saya biasa saja. Kepercayaan diri saya tidak sehebat itu jika harus kuliah di Eropa dengan modal bahasa rata-rata. Maka dari itu sebisa mungkin saya mencari negara tujuan belajar dimana Bahasa Inggris bukan menjadi bahasa ibu namun menjadi bahasa resmi negara tersebut.  Jika saya kuliah di negara dimana Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, maka mereka akan lebih memahami saat tata bahasa Inggris saya kurang pas ataupun tenses yang salah, karena saya  bukan English native speaker, begitu pula dengan mereka.


Saya merasa kuliah di India merupakan batu pijakan untuk bisa kuliah di Eropa. Jarang sekali ada beasiswa S-1 luar negeri. Oleh karena itu ketika ada pembukaan beasiswa India untuk S-1 sampai S-3 tanpa banyak basa-basi saya langsung mendaftar.

India dalam Sejenak
India, negara berpenduduk lima kali lebih banyak dari pada Indonesia, sesungguhnya (dan memang sebetulnya) mempunyai ikatan cukup erat dengan Tanah Air beta. Walaupun latar belakang saya adalah sains, tapi saya pernah kok kenalan dengan cabang ilmu yang disebut Sejarah. Si Sejarah bercerita bahwa mantan Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru, pernah berkarib dengan Ir. Soekarno. Mungkin tak boleh dilupakan juga bahwa Bahasa India kuno, Sansekerta, pernah diadopsi oleh negara kita dalam rangka pemberian nama Indonesia.

Selain Bollywood, banyak ‘kemewahan’ yang ditawarkan oleh negara ini. Siapa yang sangka bahwa Negeri Pak Gandhi ini pernah melakukan Mars Orbiter Mission termurah? Tak hanya itu, sembilan warga negara India pernah menerima penghargaan Nobel. Angka yang bisa dibilang lumayan untuk negara yang (masih) berkembang. Mantan negara jajahan Inggris ini juga tak kalah saing di dunia Multinational Corporation. Tak sedikit nama-nama India yang masuk dalam jajaran CEO, seperti Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe) dan lain sebagainya. India juga sudah punya angkutan umum metro atau subway yang sangat bagus dan murah. Mobil asli India, Tata Nano, pun sudah ‘berkeliaran’ dimana-mana. Dua bandara internasional India, Indira Gandhi International Airport (New Delhi) dan Chhatrapati Shivaji International Airport (Mumbai) tahun 2015 lalu dinyatakan sebagai bandara terbaik kedua se-Asia Pasifik setelah  Singapore Changi Airport.

Kuliah Bak Kacang Goreng
Secara umum biaya pendidikan kampus negeri di India lebih murah dari pada kampus negeri di Indonesia. Tak sedikit mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing dari Thailand, Cina, Korea Selatan belajar di India tanpa beasiswa alias self-financing lataran biaya pendidikan dan biaya hidup yang murah. Saya ambil contoh Delhi University, universitas terbaik di India, untuk jurusan sains hanya mematok biaya Rs 19.000 (± Rp 4 juta) per tahun. Untuk jurusan ilmu sosial mahasiswa hanya perlu membayar Rs 7.000 (± Rp 1.4 juta) per tahun untuk jenjang S-1 dan Rs 13.000 (± Rp 2.6 juta) per tahun untuk jenjang S-2. Kampus favorit lain adalah Jawaharlal Nehru University (JNU) yang hanya mematok biaya maksimal USD 750 per tahun untuk program sains jenjang S-2 dan S-3. Biaya tersebut adalah biaya untuk mahasiswa asing. Untuk warga lokal sendiri, di JNU, cukup dengan Rs 300 (± Rp 60 ribu) per tahun sudah bisa kuliah S-2. Kampus JNU hanya membuka program S-2 dan S-3.

Selain biaya kuliah yang sangat murah, biaya buku pun tak kalah murahnya. Kami mahasiswa Indonesia tak perlu lagi repot-repot mencari buku bajakan. Untuk kualitas buku tak perlu diragukan. Buku-buku terbitan Oxford University Press, Cambridge University Press, Mc Graw Hill, Willey, sudah bisa ditemukan dimanapun bahkan di toko buku kecil sekalipun. Buku Microbiology oleh J. Pelczar, JR terbitan Mc Graw Hill Education setebal hampir seribu halaman bisa didapat hanya dengan Rp 135 ribu. Buku-buku terbitan India sendiri juga tak kalah bagusnya. Buku-buku kuliah terbitan India rata-rata ditulis oleh para dosen yang sudah S-3 bahkan postdoctoral. Rata-rata aktivitas dosen-dosen disini selain mengajar adalah menulis buku. Tak sedikit dosen saya yang sudah menerbitkan banyak buku. Saya pribadi lebih senang dengan buku-buku karangan dosen India karena harganya lebih murah, walaupun buku terbitan internasional juga murah, dan penggunaan Bahasa Inggris yang lebih simpel sehingga mudah dipahami.

Menimba Sains di India
Saya masih ingat hari pertama kuliah, jujur saja, saya merasa seperti orang yang tidak pernah sekolah. Hal pertama yang cukup membuat saya syok adalah scientific English. Selama saya sekolah di Jogja, fokus saya belajar Bahasa Inggris hanya sebatas kemampuan berkomunikasi secara umum. Kalau saya tidak kuliah di India mungkin saya tidak akan pernah tau bahwa Bahasa Inggris nya Alkana adalah Alkane, Alkena adalah Alkene, and Alkuna adalah Alkyne. Itu hanya sebagian kecilnya saja. Hingga sekarang saya masih terus belajar untuk itu. Teman saya orang Indonesia yang juga anak sains pun menghadapi permasalahan yang sama terkait scientific English. Walaupun saat itu saya dan teman-teman India saya sama-sama baru lulus SMA, namun saya merasa pengetahuan mereka khusunya tentang sains jauh melampaui saya. Padahal saat di Indonesia, saya sekolah di SMA negeri di Yogyakarta, yang notaben nya adalah Kota Pendidikan, dan sekolah saya termasuk lima besar SMA negeri terbaik di DIY saat itu.

Satu hal yang cukup menggembirakan tentang India bagi para penggemar ilmu eksak adalah spesifikasi jurusan. Jurusan ilmu alam untuk jenjang S-1 di India menurut saya cukup variatif. Tidak hanya sekedar Biologi, Kimia, atau Fisika namun sudah lebih spesifik seperti Genetics, Biotechnology, Microbiology, Biochemistry, Biomedical Sciences, Botany, Zoology, Molecular Biology, dsb. Saya pernah cek di NTU dan NUS untuk jurusan sains jenjang S-1 dan S-2 tak sevariatif disini.

Sistem jurusan interdisipliner pun tersedia di kampus India. Misal di kampus saya sendiri ada beberapa kombinasi jurusan yang bisa diambil antara lain Microbiology, Genetics, and Chemistry (MGC), Microbiology, Biochemistry, and Chemistry (MBiC), Biotechnology, Genetics, and Chemistry (BtGC), Mathematics, Physics, and Computer (MPC); Electronics, Mathematics, and Computer (EMC), dsb. Saya pribadi melihat sistem jurusan kombinasi ini sangatlah bagus mengingat saat ini kita hidup di era interdisipliner. Walaupun demikian tak menutup kemungkinan juga jika ingin fokus pada satu disiplin ilmu saja sebab program honors pun banyak tersedia.

Menyandang gelar Ph.D nampaknya bukan lagi jadi barang mewah di India. Tak heran jika hampir semua dosen disini sudah mengantongi gelar Ph.D bahkan Postdoctoral. Sejak semester pertama pun kami sudah ‘disuguhi’ dengan dosen-dosen hebat. Satu hal yang saya senang dengan dosen India adalah, mereka tidak pernah absen mengajar. Mereka hanya mengajar di satu tempat jadi sangat mudah untuk menemui dosen kapanpun jika dibutuhkan. Dua tahun saya belajar di India belum pernah menemukan dosen yang sibuk mengajar sekaligus melakukan penelitian atau proyek. Biasanya mereka akan mengajukan izin cuti untuk penelitian supaya bisa digantikan oleh dosen lain.
Masalah bahasa saya yakin semua mahasiswa Indonesia mengakui bahwa India sudah jauh lebih baik dalam kemampuan berbahasa Inggris. Di kelas saya sendiri masih ada satu atau dua orang yang belum bisa berbicara dalam Bahasa Inggris dengan lancar. Walau demikian, mereka tidak malu untuk berbicara dalam Bahasa Inggris walaupun belum terlalu fasih. Dalam hal menulis, membaca, dan mendengar secara umum mahasiswa disini sudah lancar sebab saat ujian pertanyaan dan jawaban ditulis dalam Bahasa Inggris. Buku pelajaran dan kegiatan belajar mengajarpun semua dalam Bahasa Inggris.

Perkuliahan Sehari-hari
Perkuliahan disini cukup padat. Tak seperti kampus di Indonesia pada umumnya dimana dalam satu hari hanya ada beberapa kelas saja, perkuliahan disini lebih mirip seperti sekolah. Masuk kuliah setiap Senin - Sabtu pukul 10.00 hingga 16.30. Istirahat setiap jam 11.45 dan 14.00.
Dalam satu hari ada empat kelas teori, masing-masing 60 menit, dan satu kelas praktikum selama 120 menit. Proses belajar mengajar hampir tidak pernah dilakukan dengan proyektor atau LCD layaknya di Indonesia. Disini selalu mengandalkan buku dan papan tulis. Selama 60 menit kelas teori, 40 menit dosen akan menjelaskan dan sisa 20 menit untuk mendikte poin-poin penting. Kami dilarang untuk mencatat saat dosen menjelaskan sebab penjelasan dosen selalu berkaitan dengan pemahaman. Satu mata kuliah teori kami mencatat rata-rata 3-4 halaman. Untuk praktikum di lab dilakukan secara individu. Saat praktikum setiap mahasiswa harus bisa mandiri. Jika ada hal yang belum dimengerti selalu diwajibkan bertanya kepada dosen. Saya pernah kena marah karena bertanya pada teman saat praktikum, bukan pada dosen.

Ada saat dimana saya tidak ada praktikum. Biasanya saya akan ke perpustakaan bersama teman-teman untuk mencari bahan tugas. Penugasan atau assignment disini tidak seperti di Indonesia yang bisa dikerjakan dengan Microsoft Word. Semua tugas yang diberikan dosen harus ditulis tangan. Satu tugas biasanya akan menghabiskan  20-25 halaman kertas HVS A4. Tak heran jika dosen biasanya akan memberikan tugas satu bulan sebelumnya. Perlu diketahui bahwa India sangatlah book-oriented. Google nampaknya tidak terlalu menarik perhatian mahasiswa disini. Jika ada hal yang mereka tidak paham, mereka lebih senang mencarinya di buku dari pada google.

Sistem Ujian Semester
Ujian Akhir Semester (UAS) adalah salah satu topik unggulan saat kita membahas pendidikan India. Sistem UAS untuk jenjang S-1 dan S-2 kurang lebih sama. Tidak hanya bagi mahasiswa Indonesia, bagi mahasiswa lokal pun, ujian selalu menjadi momok tersendiri. Bagi mereka nilai adalah segala-galanya. Tak heran saat mendekati ujian mahasiswa akan belajar mati-matian.
Sistem ujian disini amat kontras dengan Indonesia. Tak jarang saat awal-awal semester mahasiswa Indonesia agak keteteran dalam menyesuaikan. Bentuk ujian disini adalah esai. Satu mata kuliah mahasiswa harus menuliskan jawaban rata-rata 20-30 halaman. Sebetulnya tidak ada jumlah minimal halaman untuk menulis jawaban, namun jenis pertanyaan yang diajukan memang mengharuskan kami menulis sebanyak itu. Waktu yang diberikan tiap mata kuliah di ujian teori adalah 3 jam. Tidak ada waktu istirahat. Tidak ada istilah boleh dikerjakan dirumah.

Bentuk pertanyaan yang diajukan di semua mata kuliah adalah short answer dan long answer. Untuk tipe short answer biasanya saya hanya menulis jawaban sekitar dua halaman sedangkan untuk long answer bisa sampai lima halaman atau lebih. Untuk long answer sebisa mungkin saya menyertakan gambar atau diagram. Gambarpun juga saya buat dengan pensil dan tangan saya sendiri.
Dengan sistem ujian yang sedemikian rupa, kami memang selalu dituntut untuk banyak membaca. Satu bulan sebelum UAS dosen sudah mulai ‘menghantui’ kami dengan kata ujian. Persiapan ujian saya lakukan minimal 1,5 bulan sebelumnya. Satu setengah bulan itupun saya tidak bisa sepenuhnya fokus karena satu bulan sebelum UAS aka nada Internal Exam dan tiga minggu sebelumnya akan ada pre-final practical exam. Pre-final practical exam bisa dibilang seperti simulasi ujian praktek. Ujian praktek sendiri akan dilakukan setelah UAS selesai.

Budaya Belajar
India sangat menghargai mereka yang belajar. Mereka selalu yakin bahwa ilmu pengetahuanlah yang bisa membuat kehidupan lebih baik di masa depan. Seperti yang sudah saya tulis diatas bahwa UAS disini bisa dibilang cukup ‘horor’. Tak heran jika mahasiswa India punya semangat membaca yang luar biasa. Dimanapun kita bisa menemukan orang yang asik berkutat dengan bukunya. Metode belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) pun tak berlaku disini. Mahasiswa Indonesia senior, alumni Delhi University, pernah menasehati saya , “Kalau kamu persiapan UAS cuma satu bulan, mending nggak usah ikut ujian. Ikut ujian tahun depan saja.” Kasarannya adalah, jika persiapan UAS hanya satu bulan sudah bisa dipastikan kita tidak lulus.

Pengalaman belajar di negara yang sedang berproses untuk menjadi negara maju menurut saya adalah pengalaman yang luar biasa. Dari situ kita bisa lebih memahami proses dan bentuk kerja keras negara itu dalam membangun negaranya. Jika pengetahuan kita akan India hanya sebatas film Bollywood atau kain sari nya, think again! Di luar sana banyak negara yang justru mengenal India karena roketnya, dokternya, misi ke Mars termurah-nya, CEO-nya, dan lain sebagainya. Dan nampaknya Indonesia perlu mencontoh budaya belajar negara berkembang satu ini. (Rahma S)



Note : Artikel ini pernah dimuat di buletin Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4)

A Poem on Love : The Landlord

11:28 PM Add Comment

[PART I]
I found a home,
I found a home, but that home left me.
Another home came to me.
I went inside the home,
and I found a piece of heart.
I stared at it closely.
The heart was glowing like a diamond.
I took the heart with both hands carefully.
Oh! the heart was so delicate,
and warm, and was radiating affection.
I was wondering,
"What kind of heart is this?"
"What kind of home is this?"
Suddenly I remembered my own heart.
I took mine. I was astounded.
Both hearts were fit perfectly to each other like pieces of a puzzle.
I questioned again, "Whose home is this? I want to see the owner of this home."I walked around the home, holding both the hearts looking for The Landlord.
And that time, I saw you, standing nearby the door.
You were heart-less.
And I understood that you were The Landlord.
 
[PART II]
The heart-less Landlord kept staring at me.
His gaze on me like a child who had just seen his mother for the first time.
He came closer and took his heart delicately from my hand.
"You own a powerful heart, Your Majesty. It's been wounded but still radiating warmth and affection," I said.
But The Landlord spoke none.
"Apology. I have committed a sin by displacing it from the nest." Still, he spoke none.
His tongue now pounded louder than his heart.
But still, he spoke none.

I gazed to the window.
The sun began to set upon the lap of The Mother Earth.
I wished a good night to the asleep sun.

"Bring me home. Bring my heart home. I see my home in you. I see The Eden in you." said the Landlord.
But I spoke none.


*******


I wrote this poem exactly one year ago. 

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

12:33 AM Add Comment

This world already lacks of love and humanity.
Do not live in that kind of world.
Build your own world.
Decorate it with love, joy, and humanity,
and live in it.
That is the actual world.
The prior is fake,
or you can nickname it, The Rotating Sphere.
If your own world does not have those accessories,
then where will you run when the sphere becomes totally loveless?

We are too busy running for president,
or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies,
or memorizing a hundred digits of Pi.
We describe it as civilization.
But pity, within us, are uncivilized.

Be on The Mother Earth. Stay on Her lap.
But do not live it.
Live what is within, and you will be more humane.

****


I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publication on my blog. This poem was written as my condolences to the number of terrorist attacks happening nowadays. The latest occurrence was the shooting attack happened in Christchurch, New Zealand on March 15. 


There are some philosophical ideas behind The Rotating Sphere. But the main point that I would like to convey through my poem is, it is always the best to maintain the balance between what we build 'outside' and 'inside'. What we build outside is what we have been doing since ages ago, building on civilization. But what we build inside is the one that we may have just started, that is when we start observing injustice and violence. 


Hyderabad, 17th March 2019


Rahma S

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

12:37 AM 7 Comments

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations

(ICCR) 2019-2020


Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.

Sekilas Tentang ICCR 
Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) dan Kedokteran Gigi (Dentistry) bagi mahasiswa asing di seluruh dunia. Beasiswa yang diberikan ICCR bersifat full-scholarship.

Beasiswa untuk tahun akademik 2019-2020 sudah dibuka sejak tanggal 30 Desember hingga 28 Februari 2019 (Diperpanjang hingga 31 Maret 2019).

Berkas yang Dibutuhkan
1. Foto ukuran 3.5x4.5 cm backgroud warna putih (untuk di upload di formulir)
2. Marksheet ijazah SMA
3. Marksheet pendidikan sebelumnya (jika mendaftar S2 maka sertakan markseet S1)
4. Physical Fitness yang diisi dan ditanda tangani oleh dokter
5. Surat rekomendasi dari sekolah atau kampus
6. Unique ID (Bisa pakai KTP)
7. Sinopsis bagi pendaftar S3
8. Silabus kopi pendidikan sebelumnya (dibawa saat daftar ulang)
7. English Proficiency Certificate i.e. TOEFL, IELTS, etc *

*) Ada beberapa perubahan untuk berkas-berkas yang harus di submit ketika angkata saya dan angkata baru-baru ini. Salah satunya adalah English Proficiency Certificate. Saat tahun saya, ICCR secara jelas menuliskan bahwa kami wajib mengirim tes TOEFL/IELTS bahkan ICCR juga mematok batas minimun skor untuk jenjang S1, S2, dan S3. Sejak dua tahun terakhir, ketika sistem ICCR mulai berubah, saya tidak melihat ICCR secara eksplisit dan secara jelas menuliskan bahwa wajib submit TOEFL/IELTS, sebab nantinya pihak Embassy atau Konjen di Indonesia akan mengadakan tes kemampuan Baasa Inggris.

Jadi apakah tetap harus submit English Proficiency Test? Nah, berhubung bukan ICCR yang akan mengevaluasi berkas kita, namun pihak universitas langsung (ICCR akan mengirimkan berkas ke univ tujuan kita), maka opsi paling aman adalah tetap melampirkan hasil tes sebab pihak kampus biasanya akan meminta bukti hasil tes TOEFL/IELTS saat daftar ulang.

Note: Semua berkas asli harus dibawa saat proses daftar ulang di kampus India.

Fasilitas Beasiswa ICCR
Rs 1 = Rp 200 (kurang lebih)

a. Biaya Hidup Bulanan (Living Allowance)
Untuk jenjang S1 uang saku sebesar Rs 18,000 per bulan. Untuk jenjang S2 uang saku bulanan sebesar Rs 20,000 . Untuk jenjang S3 uang saku bulanan sebesar Rs 22,000 dan untuk jenjang Postdoc sebesar Rs 25,000.

b. Uang Kuliah/SPP
Dibayarkan langsung oleh pihak ICCR ke kampus 

c. Uang Sewa Rumah
Bagi penerima beasiswa yang berada di kota Grade 1 yakni kota metropolitan seperti Delhi, Chennai, Bangalore dan Mumbai maka uang sewa rumah sebesar Rs 6,500 per bulan. Untuk yang tinggal di kota lain yakni sebesar Rs 5,500

Note: setiap penerima beasiswa wajib tinggal di asrama kampus (hostel) dan biaya sewa hostel + listrik akan dibayarkan langsung oleh ICCR kepada pihak kampus. Bagi yang ingin tinggal diluar kampus maka harus mendapat persetujuan dari ICCR dan besaran uang sewa seperti yang tertulis diatas. Bagi yang tidak mendapat persetujuan dari ICCR maka ICCR tidak akan memberikan uang sewa rumah sehingga biaya sewa rumah harus dibayar dengan uang saku pribadi.

d. Uang Buku (Contingent Grant)
Besaran uang buku sebesar Rs 5,000 (S1), Rs 7,000 (S2), Rs 12,500 (S3) dan Rs 15,500 (Postdoc). Nominal tersebut hanya didapat sekali selama masa kuliah berlangsung.

e. Biaya Penelitian atau Projek
Bagi mahasiswa S3 yang wajib melakukan thesis atau desertasi maka ICCR memfasilitasi dana penelitian sebesar Rs 10,000 (S3). Untuk jenjang S1 dan S2 yang tidak wajib thesis namun kampus mewajibkan pembuatan project work maka fasilitas dana yang diberikan sebesar Rs 7,000.

f. Biaya Kesehatan (Medical Benefit)
ICCR akan memberikan biaya kesehatan bagi penerima beasiswa dengan cara menyertakan bukti periksa atau bill obat. Bill periksa atau obat yang dicover oleh ICCR hanya yang berasal dari Klinik atau Rumah Sakit kampus dan Rumah Sakit Pemerintah.

g. Visa Belajar
Semua penerima beasiswa akan mendapatkan VISA  gratis.

h. ICCR Winter and Summer Trips
Setiap tahunnya ICCR akan mengadakan Winter Trip dan Summer Trip ke beberapa tempat wisata di kota pilihan. Biaya trip gratis bagi para penerima beasiswa. Fasilitas yang diberikan berupa transportasi, penginapan, makan, dan tiket masuk tempat wisata.

 
Bagaimana Cara Mendaftar?
ICCR adalah salah satu beasiswa yang paling tidak ribet prosedurnya menurut saya hehe... karena pelamar hanya cukup registrasi melalu website ICCR http://a2ascholarships.iccr.gov.in/
lalu mengisi data-data yang diperlukan dan upload semua dokumen-dokumen yang disyaatkan. Demi proses penulisan artikel ini dan kemudahan teman-teman dalam memahami maka saya juga melakukan registrasi di website ICCR.

Homepage A2A ICCR

 Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat akun di portal Admission A2A ICCR http://a2ascholarships.iccr.gov.in/ pada tab Applicant Registration di pojok kanan atas homepage (lihat gambar)

Setelah klik tab Applicant Registration maka akan muncul halaman seperti dibawah. Setelah itu klik submit dan jika registrasi berhasil maka teman-teman akan mendapatkan email dari ICCR.

Applicant Registration

Setelah proses pembuatan  akun selesai, silakan kembali ke homepage dan log in menggunakan email dan password teman-teman. 

Setelah log in maka teman-teman akan melihat halaman akun seperti dibawah.

Halaman Akun

Pada halaman akun ini tersedia 3 pilihan pada sisi samping kanan; Apply Application, Check Status, dan View Profile. Apply Application untuk mendaftar beasiswa, Check Status untuk melihat status pendaftaran, dan View Profile untuk melihat profil singkat teman-teman. 

Klik tombol Apply Application untuk mulai mendaftar. . 



Setelah selesai mengisi semua data di halaman pertama lalu klik tombol NEXT dan akan muncul halaman kedua seperti dibawah


Bagi pelamar program S1 maka Previous Educational Qualification diisi berdasarkan ijazah SMA, untuk pelamar S2 berdasar ijazah S1, dan pelamar S3 berdasar ijazah S2. Untuk Percentage (%) Grade diisi berdasarkan nilai akhir yang didapat yang sudah diubah kedalam bentuk persen. Misal nilai akhir adalah 8.1 dari 10 maka perentage adalah 81%, jika IPK 3.00 dari 4.00 maka percentage adalah 75%, dst. 

Setelah selesai klik tombol NEXT dan akan muncul halaman seperti dibawah



Jangan lupa untuk siapkan foto tanda tangan dalam format JPG yang tidak lebih dari 200 kb. Setelah itu klik tombol NEXT dan akan muncul halaman akhir pendaftaran yakni upload berkas. 


Perlu diingat bahwa semua dokumen yang disertakan sudah harus berbahasa Inggris. Jika ada dokumen yang masih berbahasa Indonesia maka wajib diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Untuk pelamar S1 dimana ijazah biasanya masih berbahasa Indonesia maka ijazah wajib diterjemahkan oleh Penerjemah Tersumpah.

Note: Ketika Final Admission (Final Submit) sudah dilakukan maka informasi dan berkas yang di-submit tidak bisa diubah lagi.

Setelah semua berkas selesai diupload lalu klik FINAL SUBMIT maka proses pendaftaran telah selesai. Status berkas bisa  dilihat pada halaman awal di bagian Check Status.

Koreksi sebelumnya : data teman-teman akan tetap tersimpan walaupun teman-teman tidak langsung final sumit saat itu juga. Jadi mulai sekarang teman-teman sudah bisa nyicil untuk mengisi formulir dan melanjutkannya di lain waktu


Segala prosedur pendaftaran dilakukan secara online di website ICCR. Pelamar tidak perlu lagi mengirimkan berkas-berkas ke Indian Embassy atau Konjen.

Demikian info seputar beasiswa ICCR 2019-2020. Mudah-mudahan bermanfaat. Budayakan selalu membaca sebelum bertanya karena kompetisi paling awal dalam merai beasiswa adala kesabaran, ketelitian, dan kecermatan dalam membaca formulir.

Teman-teman, sekedar informasi saja bahwa apa yang saya tulis disini juga merupakan hasil saya riset, membaca, dan mempelajari segala informasi yang diberikan oleh ICCR (semejak regulasi dan peraturan baru dari ICCR dua tahun lalu). Jadi, saya mohon maaf apabila informasi hasil riset dan sedikit pengalaman yang tertuang di artikel ini masih banyak ketidaksempurnaan. Saya terbuka untuk segala koreksi demi kebaikan bersama. Saya sangat menyarankan untuk membaca Guidelines dalam format PDF yang sudah saya cantumkan link-nya diatas. Saya akan sesekali membuat penambahan dan sedikit koreksi pada artikel ini jadi saya harap teman-teman tidak berkeberatan untuk membaca 2-3 kali artikel yang sama.

Bagi teman-teman yang ingin bertanya secara langsung bisa dm saya di IG @rahma.fs. Saya akan berusaha menjawab semua pertanyaan. Info-info terkait FAQ berdasarkan pertanyaan teman-teman akan saya posting di Insta Story. Teman-teman bisa cek sesekali jika luang. Alasan saya untuk posting di Insta Story karena itu lebih praktis dan sangat memudahkan saya (berhubung jadwal kuliah semester akhir saya yg sangat padat) ketimbang saya harus berkali-kali memperbaharui tulisan ini (kecuali memang ada banyak info yg wajib saya sampaikan maka saya akan memperbaarui tulisan ini), selebihnya akan saya sampaikan via IG. Mudah-mudaan hal ini tidak menyulitkan dan memberatkan teman-teman dalam mendapatkan informasi yang up-to-date. Sekian dari saya.

Wassalamu'alaikum

Rahma S

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

11:34 PM Add Comment
Acara BBQ PPI Komisariat Hyderabad

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di kampus tersebut. Maka dari itu,  saya selalu lebih menyarankan teman-teman untuk mencari kampus dimana sudah ada orang Indonesianya. Hal tersebut semata-mata demi kemudahan dan kenyamaan selama beradaptasi di lingkungan baru.

Beberapa kampus di Delhi seperti Delhi University (DU) dan Jawaharlal Nehru University (JNU) memiliki fasilitas hostel untuk mahasiswa asing. Di DU misalnya, bagi mahasiswa asing laki-laki bisa tinggal di International Student House (ISH) atau International Student House for Women (ISHW) bagi mahasiswa perempuan. Untuk di JNU sendiri ada banyak sekali hostel dengan nama yang berbeda-beda i.e. Koyna Hostel, Godavari Hostel, dll. 

Jika rezeki kita mendapatkan kampus yang tidak memfasilitasi akomodasi, maka mau tidak mau kita harus mecari kos-kosan atau flat. Saat di Delhi, saya tinggal di flat daerah Munirka. Flat di Delhi rata-rata terdiri dari kamar tidur, kamar mandi dalam, dan dapur. Harga per bulan pun bervariasi. Saya tiga kali pindah flat selama dua tahun di Delhi dan harga sewa kamar standar berkisar antara Rs 5000 - Rs 6000 atau sekitar Rp 1-1,2 juta per bulan. Harga sewa tersebut sudah termasuk biaya air namun belum termasuk biaya listrik. 

Di Hyderabad sendiri harga sewa rumah cenderung lebih murah dari pada di ibu kota. Menyewa rumah di Hyderabad lebih mudah dan menguntungkan jika kita tinggal bersama-sama, 2-4 orang. Akomodasi di Hyderabad lebih mirip seperti apartemen dimana setiap apartemen yang disewakan terdiri dari Bedroom, Hall, Kitchen (BHK) dan sudah disertai kamar mandi dalam. Harga sewa juga bervariatif. Untuk 1BHK dimana terdiri 1 bedroom + hall + kitchen  mulai dari Rs 4000 atau Rp 800ribu belum termasuk listrik. Untuk 2BHK, yang terdiri 2 bedroom + hall + kitchen harga mulai dari Rs 7500 - Rs 8000 keatas atau Rp 1,5 - 1,6 juta keatas. Untuk 3BHK tentu lebih mahal lagi. Itu sebabnya tinggal di Hyderabad secara kolektif akan lebih nyaman dan terjangkau. 

Namun jika kondisinya memang harus tinggal sendiri seperti saya, teman-teman bisa mencari 1BHK atau Single Room. 1BHK terdiri dari 1 kamar tidur, hall, dan dapur seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Untuk Single Room, biasanya hanya terdiri dari kamar tidur dan kamar mandi layaknya kos-kosan mahasiswa rantau di Indonesia. Harga sewa single room adalah Rs 2500 atau sekitar Rp 500ribu per bulan belum termasuk listrik.

Beberapa owner flat atau apartemen kadang meminta kita untuk membayar advance atau uang muka. Namun advance ini sifatnya lebih seperti uang jaminan dimana uang jaminan tersebut akan dikembalikan saat kita hendak mengosongkan atau pindah rumah. Advance yang harus dibayarkan bervariasi. Rata-rata yang saya temui nominal advance sebesar dua bulan dari harga sewa kamar. Misal harga sewa kamar per bulan adalah Rs 3000, maka advance yang dibayarkan adalah Rs 6000. 
Selama saya di Delhi, rata-rata owner tidak meminta pembayaran advance. Namun di Hyderabad hampir semua pemilik apartemen mewajibkan pembayaran uang muka jaminan.

Biaya listrik juga bervariatif untuk setiap daerah di India. Di Delhi yang notabennya kota metropolitan, biaya listrik adalah Rs 8 per unit. Saya rata-rata per bulan mengkonsumsi listrik sebanyak 35 unit per bulan dengan pemakaian 3 lampu, setrika, kipas angin, rice cooker, dan electric kettle. Jika harga listrik sebesar Rs 8 per unit maka tiap bulan saya membayar Rs 8 x 35 unit = Rs 280 atau sekitar Rp 60ribu per bulan. Di kota non-metropolitan harga listrik lebih murah. Di Hyderabad misalnya, biaya listrik adalah Rs 6 per unit.

Pertimbangan lain saat mencari tempat tinggal adalah jarak dengan kampus, minimal bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Mungkin kadang kita pernah terbesit "Ah, gak apa-apa agak jauh dari kampus, kan bisa naik bis atau angkutan umum". Secara praksis, pernyataan tersebut memang benar but trust me, we can't be so practical all the time. Kadang kala hujan lebat, rasa malas yang menghantam, atau bangun kesiangan pasti akan kita alami sesekali. Jarak tempuh yang tidak walk-able mungking sekali akan menjadi alasan pendukung untuk bo...los.... ! Jadi lebih baik bayar berlebih sedikit namun akses ke kampus lebih dekat dari pada bayar lebih murah namun kita harus keluar ongkos untuk transportasi.

Sekian tulisan saya kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan informatif.

Salam,

Rahma S

15 Fakta Tentang India [Part I]

12:14 AM Add Comment

  1. Di India, Rexona adalah salah satu merek sabun mandi
  2. Becak di India (Rickshaw) supirnya di depan
  3. Figur fisik orang India lebih besar dari pada orang Indonesia. Di Indonesia ukuran baju saya M-cewek, kalau di India XS (x-tra small)
  4. Hanya ada dua kota di India dimana sapi boleh disembelih dan dikonsumsi; Kerala dan Hyderabad
  5. Internet di India jauh lebih cepat dan lebih murah. Wifi saya sebulan Rp 120.000 kuota 100 GB kecepatan 25 Mbps
  6. Pernah sebel karena film India banyak tarian dan nyanyian? Menari dan menyanyi konon memang ajaran dewa dewi mereka dan itu adalah salah satu cara mereka menyembah Dewa. Dewa Rama dan istrinya, Dewi Shinta, senang menari dan menyanyi di Pegunungan Himalaya. 
  7. Salju bisa ditemukan di daerah India utara mulai dari negara bagian Himachal Pradesh keatas.
  8. Masih ingat dengan sistem kasta di Hindu? Di India, setiap orang punya sertifikat kasta dimana sertifikat tersebut digunakan saat mendaftar PNS, kuliah, dll.
  9. Kata "achaa" yang sering disebutkan oleh orang India sambil geleng-geleng, mempunyai banyak arti tergantung konteksnya. Secara bahasa artinya "Good". Namunn prakteknya "achaa" bisa berarti "I see", "I am fine", "Oke!". Main achaa hu = I am fine (untuk laki-laki) atau Main achi hu (untuk perempuan)
  10. Kata "nahi" yang juga sering diucapkan orang India sambil geleng-geleng (yang kadang jadi bahan ejekan orang Indonesia) artinya "tidak". 
  11. Di India lebih "ramai" istilah makanan vegetarian atau non-vegetarian, bukan halal-haram. Makanan yang berlabel hijau artinya "vegetarian", berlabel merah artinya "non-vegetarian".
  12. Orang India senang membawa bekal saat kuliah maupun bekerja. Sehingga mereka jarang jajan.
  13. Harga petrol atau bensin di India lebih mahal dari pada Indonesia. Harganya pun berbeda tiap negara bagian dan tiap harinya. Rata-rata Rp 15.000 - Rp 16.0000 per liter.
  14.  Bajaj adalah merek elektronik
  15. Di India, orang kuliah tidak ada yang membawa laptop. Semua membawa buku catatan dan textbook (buku cetak).

Telah Terbit!! Buku Seri Perantau Ilmu Kolaborasi PPI Dunia-Gramedia

7:40 PM 2 Comments

NB. Awas tulisan ini mengandung promosi

Sebetulnya tulisan ini agak terlambat karena buku tersebut terbit ketika saya masih UAS dan selama itu saya tidak sempat membuka blog alhasil baru sekarang bisa nulis (baca: promosi). 

Sedikit info saja, in case ada yang belum tahu, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Dunia (PPI Dunia) adalah organisasi pelajar Indonesia yang ada di luar negeri. Dari satu organisasi besar PPI Dunia, bercabang menjadi tiga kawasan, PPI Kawasan Amerika Eropa (AMEROP), PPI Kawasan Timur-Tengah dan Afrika (TIMTENGKA), dan PPI Kawasan Asia-Oseania. Setiap PPI Kawasan terdiri dari beberapa PPI Negara. Misal PPI Kawasan Amerop terdiri dari PPI Amerika Serikat (Permias), PPI Filandia, PPI Jerman, dll. PPI Kawasan Timtengka terdiri dari PPMI Mesir, PPMI Arab Saudi, PPMI Sudan, dll. Sama hal nya dengan PPI Kawasan Asia- Oseania terdiri dari PPI Kawasan Asia-Oseania terdiri dari PPI Jepang, PPI Australia, PPI India, dll. 




PPI Dunia berkolaborasi dengan Gramedia menerbitkan tiga buah buku karya anak bangsa di luar negeri yang diberi judul "Perantau Ilmu". Buku tersebut berisi kisah-kisah perjuangan mendapatkan beasiswa ke luar negeri, pengalaman menuntut ilmu dengan berbagai macam tantangannya, perjuangan belajar para perantau ilmu dengan biaya sendiri, hingga tulisan mengenai refleksi perjalanan selama menempuh pendidikan di negara rantauan. 

Ketiga buku tersebut sudah bisa didapat di toko buku Gramedia se-Indonesia. Harga setiap bukunya adalah Rp 80.000-an. Berhubung setiap penulis mendapat satu buku gratis, berikut saya tunjukkan beberapa sneak-peek dari Perantau Ilmu Asia-Oseania.








Jangan lupa dapatkan ketiga seri nya di toko buku Gramedia di kota kalian ya. Mudah-mudahan menginspirasi teman-teman untuk selalu menuntut ilmu setinggi-tingginya di negara manapun kalian impikan :)

Salam,

Rahma S

My "Amazing" College - Kuliah Tingkat Akhir

4:01 AM 2 Comments


Sepertinya dimanapun kita sekolah, yang namanya kuliah tingkat akhir pasti akan selalu hectic. Di Indonesia misalnya, tingkat akhir selalu diidentikkan dengan pembuatan skripsi. Saya belum pernah merasakan betul kuliah di Indonesia. Pernah merasakan sih, tapi hanya 2 semester, setelah itu... here I have been.... :D Kalau dilihat di meme-meme yang selalu bersliweran di Instagram, nampaknya skripsi memang ngeri. Namun kali ini saya akan berbagi sedikit cerita bagaimana kuliah tingkat akhir di kampus saya, terkhususnya jurusan BSc Microbiology, Genetics, & Chemistry (MGC).

Kuliah 4 Bulan
Dalam satu semester, waktu efektif kuliah adalah 4 bulan. Total mata kuliah wajib teori ada 6; Agricultural Microbiology, Immunology, Population Genetics Advanced Technique in Genome Analysis, Organic & Inorganic Chemistry, dan Physico Analysis in Spectroscopy. Ditambah 2 mata kuliah teori pilihan, saya mengambil kelas Biotechnology dan Dasar-dasar Perpajakan. I know it sounds weird for a science student to study taxation, but believe me, it's fun tho (semester ini saya berencana mengambil kelas Dasar-dasar Perbankan. Sub-total credits untuk mata kuliah teori dalam satu semester adalah 26 credits. Itu belum semuanya, karena masih ada mata kuliah praktek (lab) yaitu 6 Paper. Sub-total credits untuk mata kuliah praktek adalah 12 credits. Total keseluruhan adalah 38 credits. Semester-semseter sebelumnya total kredit adalah 25 credits. Jadi kenaikan jumlah kredit untuk tingkat akhir adalah 50%.

Lalu bagaimana sistem kuliah tahun terakhir dengan kenaikan jumlah kredit sebanyak itu? Seperti semester sebelumnya, hari kuliah masih tetap sama, Senin sampai Sabtu. Bedanya, tahun ini kami kuliah setiap hari dari jam 9 sampai jam 5. Semester lalu hanya 3 hari kami kuliah sampai jam 5, sisanya kami bisa pulang pukul 4. Perkuliahan disini tidak ada jeda, alias tidak ada jam/waktu kosong. Kami bisa pulang setelah semua kelas selesai, yaitu pukul 5. Tidak hanya itu, dalam satu minggu kami ada 6x praktek lab yang sebelumnya hanya 3x ngelab. 

Ujian 1 Bulan
Semakin banyak jumlah mata kuliah maka semakin lama pula ujiannya. Kegiatan belajar mengajar ditutup dua hari sebelum Internal Exams. Setelah internal exams kami diberi waktu 5 hari untuk persiapan Final Exams alias UAS. Berhubung kami ada 8 mata kuliah teori, dan tiap ujian diberi jeda satu hari jadi UAS teori selesai sekitar 2.5 minggu. Setelah UAS teori selesai, kami masih harus menghadapi Practical Exams alias ujian praktek di lab. Ujian praktek dilaksanakan selama 6 hari berturut-turut tanpa jeda mulai hari Senin hingga Sabtu, jadi satu hari satu mata kuliah praktek (total  mata kuliah praktek).


Libur Semester
Libur, adalah hal yang paling kami nanti-nanti setelah ujian semester yang sangat panjang. Namun betapa sedihnya kami ketika dekan kami memberi tahu bahwa kuliah semester genap dimulai pada hari Senin. Itu artinya kami hanya mendapat libur selama 1 hari, yakni di hari Minggu saja. Dekan kami mengatakan bahwa libur seharusnya 10 hari, karena tahun sebelumnya kami mendapat libur 10 hari. Namun karena mahasiswa tingkat akhir ujiannya lebih banyak alhasil libur kami terpotong dengan ujian - yaah sama aja bohong libur sehari itupun hari Minggu :(

Memasuki Semester Genap
Saya pikir minggu pertama semester baru dosen tidak akan "ngobrol" yang serius karena kami juga baru kemarin sore selesai ujian, namun dugaan saya salah. Hari pertama kuliah kami langsung disuguhi dengan Assormatic Mating, Reaction Kinetics, dll. But it's okay tho, this is final year and I am sure everything is worth it :)

NB. Saat ini saya sudah memasuki kuliah tingkat akhir semester genap. InsyaAllah ini adalah semester akhir saya dan mudah-mudahan dilancarkan oleh Allah semua urusan disini. Aamiin :)

Pengalaman Bekerja di KBRI New Delhi

3:26 AM Add Comment
Bersama Bapak Jonan (baju biru), mantan Menteri Perhubungan

Berkesempatan untuk magang apalagi bekerja di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) merupakan sebuah pengalaman yang amat sangat langka. Saat itu di kantor Atdik kondisinya memang sedang membutuhkan tenaga administrasi tambahan karena hanya ada satu staf. Rejeki saya juga, staf tersebut adalah senior saya sendiri di Delhi University dan memang sudah akrab sejak lama sehingga sudah tidak ada lagi acara sungkan, canggung, apalagi grogi :D

Saya mulai 'ngantor' sehari setelah itu karena memang banyak sekali pekerjaan yang harus ditangani jadi tidak perlu banyak basa basi untuk ijab qobulnya. Kontrak kerja saya saat itu selama enam bulan, walaupun pada akhirnya saya bekerja selama tujuh bulan. Jobdesc saya 'nggak jelas' alias 'ngerjain apa aja yang disuruh'. Jadwal ngantor Senin sampai Jum'at jam 09.00 - 17.00 namun biasanya saya akan pulang pukul 18.00 atau 19.00. Beban kerja kami bagi tidak rata karena senior sayalah staf sesunggunya dan saya adalah staf outsoursing, paling tidak begitulah yang tertulis di lembar kontrak. 

Beban kerja yang tidak ratapun sudah amat sangat memeras otak, tenaga, dan kadang pikiran. Namun hal tersebut tidak berjalan lama karena senior saya harus pulang ke Jakarta beberapa bulan untuk tes sekaligus pengurusan paspor biru (atau hitam? - saya agak lupa). Jadilah saya bekerja sendirian di kantor.

Theoritically 9 to 5
Setiap pagi saya berangkat ke kantor mulai pukul 7.30. Bus nomor 604 merupakan angkutan sehari-hari saya saat bekerja karena murah, hanya Rs 20 (sekitar 4000 Rupiah), dan nyaman karena bus nya ber-AC. Perjalanan memakan waktu 30 menit karena jalan raya masih belum terlalu macet, itu alasan kenapa saya selalu berangkat lebih pagi. Selain itu berangkat pagi juga memberikan saya kesempatan untuk menikmati perjalanan sambil berkontemplasi :D 

Saya senang sekali melihat kesibukan para manusia dipagi hari, berjuang mempertahankan kehidupannya dan keluarganya. Tuhan selalu menyuguhkan kita dengan rezeki baru setiap hari, tinggal mau diambil atau diabaikan rezeki itu terserah pelakunya. Namun kadang ada juga mereka yang mengabaikan rezekinya karena malas, dan kalau rezekinya dialihkan ke yang lebih rajin, dia protes, tapi suruh jemput gak mau.... :p Mereka yang setiap pagi saya lihat dari balik kaca bus sudah narik becak atau dorong gerobak sayur adalah bukti ketaatannya pada Sang Pencipta - sadar atau tidak sadar - tidak ada kompromi bahwa bertahan hidup adalah kewajiban semua manusia, diluar itu artinya sudah putus asa dengan kehidupan dan kalau dirunut lagi ada kemungkinan bisa jadi dosa (CMIIW)

Saya selalu turun di  halte depan China Embassy dan berseberangan dengan Norwegian Embassy di daerah Shanti Path. Dari halte saya harus berjalan sekitar 150 meter menuju KBRI. Sampai di KBRI saya langsung menuju kantor Atdik. Biasanya uncle-uncle India yang bekerja di KBRI suda rajin menyapu, menyingkirkan daun-daun kering, ataupun mencuci mobil. Pak Satpam pun juga sudah standby entah sejak jam berapa. "Good morning Ibu" begitu sapanya setiap pagi sembari membukakan pintu gerbang dan menyodorkan kunci kantor untuk saya. Sampai di kantor saya menyalakan semua lampu, AC, komputer, dan membereskan kertas atau majalah-majalah yang berserakan di ruang tamu kantor. Setelah itu saya sarapan dengan sereal dan susu yang sudah tersedia di kantor. Selesai sarapan saya mulai bekerja di depan komputer.

Pak Atdik biasanya datang pukul 09.30. Karena di kantor tersebut hanya kami berdua sehingga ketika beliau datang suasana menjadi agak tegang. Pak Atdik adalah sosok yang amat sangat disiplin, rapi, detail, cekatan, tepat waktu, berwawasan luas sehingga tak heran jika beliau dipercaya untuk memegang kemudi Kantor Atase Pendidikan. Latar belakangnya sebagai seorang aktivis pendidikan, pendidik, dan Guru Besar Matematika di ITB lebih dari cukup untuk membayangkan skala kesungguhan beliau akan kerapihan dan ketelitian. Tak jarang beliau memberikan koreksi untuk surat-surat yang saya buat. Dalam membuat surat, beliau sangat menekankan kepada saya akan pemilihan kata, pembuatan kalimat atau paragraf efektif, hingga penggunaan tanda baca seperti titik dan koma. Pengalaman sejak SMA menjadi seorang sekretaris organisasi dan passion saya dalam menulis nampaknya masih jauh dari nilai D saat diaplikasikan dalam dunia kerja. Pernah suatu ketika karena sedang lola, saya sampai empat kali membuat surat yang sama karena koreksi dari beliau belum bisa saya cerna sehingga beberapa kali saya harus memperbaiki susunan kalimat dan paragraf surat. Beruntung pekerjaan administrasi dan kesekretariatan adalah salah satu 'hobi' saya, sehingga tak pernah sekalipun saya baper kalau dapat banyak koreksi, sebaliknya masukan beliau benar-benar saya perhatikan dan terima dengan hati yang welcome.

Jam kerja 9 pagi hingga 5 sore nampaknya hanyalah teori belaka sebab faktanya saya sering pulang larut pukul 9 malam karena pekerjaan yang menumpuk. Tak jarang saya menginap di wisma tamu KBRI saat Atdik sedang kebanjiran tamu dari Indonesia dan harus dijemput di bandara pukul 5 atau 6 pagi. Saya pernah pulang pukul 12 malam karena harus bolak balik ke bandara sebab waktu ketibaan para tamu yang berbeda-beda. Bekerja saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu pun sudah menjadi hal biasa. Jika sedang kebanjiran tamu, biasanya selama hari Sabtu dan Minggu saya akan menemani para tamu jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Delhi ataupun sekedar belanja. Tak jarang pula mereka ingin mengunjungi Taj Mahal yang lokasinya sekitar  3 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Asik sih asik bisa jalan-jalan gratis, tapi kalau tempatnya itu-itu saja ya rasa asiknya sudah membiasa dan selain itu ada rasa tanggung jawab lebih mendominasi dari pada rasa jalan-jalannya karena para tamu yang datang adalah 'orang besar' seperti rektor, dekan, Kemdikbud, tokoh pemerintahan, dll. 

Working Out Load
Membuat segala macam surat, membalas email, korespondensi dengan lembaga-lembaga di Indonesia (Kemdikbud, BPKLN, Kemlu, Universitas di Indonesia dan India, Think Tank, dll), mempersiapkan dokumen dan kebutuhan Pak Atdik untuk keperluan rapat maupun perjalanan dinas ke luar kota atau luar India, sampai hal yang paling krusial adalah masalah keuangan. Setiap bulan saya harus membuat laporan keuangan bulanan yang dilaporkan ke bendahara KBRI. Sayapun juga harus mengatur pengeluaran belanja kantor. Mengurus keuangan merupakan pekerjaan terhoror dari pada membuat surat atau korespondensi. Jika sudah mendekati akhir tahun maka kami akan disibukkan dengan tutup buku keuangan tahunan karena akan ada audit dari pemerintah dan KPK. Hal tersebut yang membuat saya tidak pulang berhari-hari dan tetap tinggal di kantor walaupun hari libur. 

Disamping pekerjaan wajib utama, banyak pekerjaan sampingan yang cukup memakan waktu karena saat itu saya hanya sendirian. Belanja alat tulis kantor, membayar telepon dan wifi ke Airtel, menjemput tamu, memperbaiki printer atau mesin fotokopi, dan lain sebagainya.

Saya sungguh bersukur pernah mendapatkan kesempatan itu. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disana yang tidak pernah saya temukan di buku Microbiology, Genetics, apalagi Chemistry. Bisa bertemu dan interaksi dengan orang besar dan hebat merupakan bonus tersendiri apalagi sampai bisa jalan-jalan bareng dengan mereka. Saya sungguh beruntung pernah menjadi 'murid' Pak Atdik di kantor Atdik dan bisa tiap hari berinteraksi dengan seorang Guru Besar Matematika ITB yang ide dan opininya sudah 'berserakan' di tiap edisi harian Kompas.


Sainikpuri, 16/9/2018