Kisah Inspiratif - Hakikat Sebuah Perjuangan

6:02 PM Add Comment

Nyaris mengalah diriku dalam mengusahakan sebuah upaya untuk sukses dalam menulis. Beragam cara telah aku lakukan. Mulai dari mencoba menulis kembali akarya orang lain untuk sebatas melatih kecepatan menulis sampai kepada mencari sebanyak informasi untuk pengetahuan bagaimana kiat sukses merajut huruf demi huruf. Juga dengan banyak menulis dimana saja. Dikertas sobekan, dibuku catatan, bahkan dimeja makan. Memperhatikan dan ‘mengeja’ tulisan orang lain dengan menganalisa bagaimana mereka menjemput ide-ide itu dan mambahasakannya dalam kalimat-kalimat.
                Jelas sangat banyak yang aku lakukan. Pernah bahkan diriku menghentikan sama sekali aktifitas menulis dan membuang jauh niat dan semangat sekaligus cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Itu karena diriku merasa tidak sanggup dan tidak mampu  serta tidak mungkin menjadi seseorang yang bergelut dalam dunia aksara itu. Sangat berat sekali! Sangat melelahkan bahkan terasa mustahil!
                Namun semngat tersebut tidak mudah hilang dan kembali muncul disaat aku membaca tulisan yang mengisahkan betapa berat usaha dan perjuangan mereka yang telah berhasil menjadi penulis. Mereka menuturkan, pada mulanya mereka bertemu dengan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bahkan mereka pernah mendapat kepayahan yang jauh lebih berat. Karena mereka mengaku beranjak dari orang yang sangat tidak berbakat dalam bidang yang mudah saja dilakukan oleh para waartawan itu (sementara aku pernah merasa – entah Cuma sebatas merasa – sedikit berbakat dalam menulis)
                Akan tetapi karena keyakinan dan kegigihan yang mereka dapatkan mengubah takdir dan membalikkan keadaan kearah yang lebih dekat kepada keberhasilan. Dan akhirnya mereka bisa menulis. Semangat dan cita-cita yang tinggi dapat meluluhkan gunung yang kekar. Ketika Allah menutup pintu, Dia juga membukakan jendela. Allah mentakdirkan kuadrahnya yang lain manakala si hamba mengusahakan untuk membalikka takdir yang telah ada. Dia seperti dia seperti yang disangkakan hamba-Nya. Akan memberikan apa yang diperjuangkan si hamba dengan sungguh-sungguh. Tuhan maha baik. Itu deretan kalimat hikmah penginspirasinya.
                Pada saat itulah aku kembali menekuni kegemaran yang sekaligus cita-citaku yang telah ada dan telah aku buangkan, kembali menulis. Kucoba lagi berulang-ulang. Kukerahkan segenap kemampuanku. Kuingat dalam hati semua yang telah mereka kerahkan untuk menggapai cita-citanya. Kupantikkan selalu dalam keyakinan bahwa tuhan akan memberika apa yang hamba-Nya usahakan. Kukatakan, “jangan berhenti dulu” ketika diri memintanya untuk berhenti. Kuenyahkan rasakepayahan. Kugambarkan betapa senang dan puasnya manakala sebuah hal yang memeberatkan telah mampu terlewatkan.
                Kubayangkan keindahan-keindahan yang akan kudapatkan apabila usaha tersebut nanti membuahkan hasil yang memuaskan. Kutulis lagi dan kembali kutulis. Apa saja. Sehingga tampak terasa ak telah mampu menyoretkan  banyak tulisan diatas kertas. Penuh. Kubaca kembali karya kecil pertama milik diriku itu. Kuteliti dimana ada kejanggalan yang benar-benar janggal. Karena kejanggalan yang kecil dan sedikit telah hampir disetiap tulisan. Maka tidak kuhiraukan itu. Akhirnya ‘buku kecil’ aku itu sukses kujadikan sebuah karya yang aku rasa telah boleh dicoba untuk diminta penilaina dari banyak orang dengan cara “diperjualkan”. Disana babti akan “dibedah” oleh ahlinya dan kalau beruntung “dpublikasikan” dimedia bacaan. Maka kukirimkan tulisan itu ke media cetak pada redaksi local terdekt ditempat saya. Kepuasan kali pertama kutemui stelah tulisan itu selesai kukirimkan. Bahagia. Kemudian kutunggu dengan sabar bagaimana reaksinya….
                Berhitung bulan kunantikan tulisan ku itu tidak kunjung aku dapatkan pada lembaran surat kabar yang telah kukirimkan. Saban hari aku tidak bosan membaca dan melihatnya pada Koran itu. Namun berakhir tidak pernah aku dapatkan, tulisan penuh perjuangkanku tidak atau belumlayak untuk dimuat. Bahkan mungkin sudah menjadi bungkus bawang merah atau cabe rawit dipasar rempah-rempah.
                Setelah diriku yakn bahwa tulisan kirimanku belum layak dan tidak dimuat maka kuperbaiki lagi tulisanku itu yang tinggal di “file” saya. Kuperhatikan dimana masih ada kejanggalan yang mendekati tingkat kefatalan. Kuperbaiki. Dan kubuat perubahan kecil dibanyak sisi. Kemudian kukirimkan kembali ke redaksi surat abar local lain. Begitulah hal yang sama aku lakukan berualng kali. Hampir semua harian local yang ada didaerahku telah kukirimkan tulisan itu. Tetapi tetap belum dimuat. Tulisanku tidak laku. Tidak layak diperjualkan.
                Sehingga entah pada keberapa belas kali pengiriman tulisan pertama itu, suatu ketika mataku berbinar ketika menyaksikan sebuah halaman surat kabar yang memuat artikelku. Kuperhatikan dengan seksama. Benar, karyaku. Tulisanku dimuat! Relung-relung jiwaku tersusup kebahagiaan yang tiada tara karena hal itu. Dadaku mengembang demi merasakan kesenangan dan kepuasan yang telah alama aku nantikan. Aku bersyukur. Hatiku bertahmid memuji Allah. Alhamdulillah Ya Allah….
                Setelah itu aku semakin giat dan gemar menulis. Kinikendalanya tidak lagi kurasakan seperti yang pertama kali aku rasakan. Bahkan sepeetinya sekarang aku telah sedikit lebih mudah dalam menulis. Ide dan inspirasi sekarang bisa mengalir lumayan deras. Untuk menyelsaikan sebuah tulisan tidak lagi membutuhkan waktu berhari-hari ataupun berminggu-minggu. Aku sanggup menuliskan tulisan dalam beberapa jam saja. Intinya aku merasa lebih mudah dalam menulis…
                Dan disitulah aku bertekad untuk lebih serius dalam menullis. Dan menjazamkan diri untuk benar-benar menjadi seorang penulis yang sukses dan produktif. Kujadikan aktivitas menulis sebagai tugas utama disamping membantu guru mengajarkan pengajian kitab kuning pada sebuah pesantren tradisional. Kujadikan dua wadah dalam medan perjuangan serta lahan ibadah itu sebagai orientasi utama dalam skala prioritas yang harus selalu aku ku=edepankan. Insya Allah…

Oleh Tengku Bukhari. Dikutip dari majalah Sabili No 3 Tahu XIX 10 November 2011/14 Dzulhijjah 1432



Ketika kamu sudah berusaha mewujudkan cita-cita sampai titik darah penghabisan namun belum membuahkan hasil, disaat itulah Allah sedang menguji usahamu dalam bersabar. Jika kamu berhasil melalui ujian kesabaran yg Allah berikan maka berhasil pulalah kamu dalam berusaha meraih impian.  (SF)

Bagaimana Membentuk Kepribadian yang Baik

10:38 PM 1 Comment
Bagaimana Membentuk Kepribadian yang Baik

Saya yakin kamu tahu bahwa manusia itu terdiri dari jiwa dan raga. Saya juga yakin bahwa kamu tidak perlu mempunyai keahlian khusus untuk mengetahui tentang hal tersebut. Because we all know it's a general truth! Raga adalah pancaran atau refleksi dari jiwa kita. Raga adalah jasad yang terdiri dari: kepala, pundak, lutut, kaki, dsb. Tidak hanya itu, jantung, paru-paru, dan tenggorokan juga termasuk anggota badan alias raga kita, and you already know about it, don't you? ;) Nah, bagaimana dengan jiwa kita? Nah, diibaratka tubuh kita adalah sebuah mobil dan ruh kita adalah mesin. Mesin itu bertugas untuk menggerakkan mobil, bukan? Supaya mesin itu bisa berfungsi secara baik kadang kita harus memberi oli sebagai pemlumas, bukan? Mesin kalau tidak diberi oli pasti akan rusak. Jika mesin rusak maka mobil akan menjadi rusak. Sama seperti tubuh kita, jika kita tidak memberi 'oli' untuk jiwa kita, tentu saja itu akan menjadi rusak kan? Jika ruh sudah rusak, maka tubuh akan ikut menjadi rusak. Jiwa/ruh dan raga akan rusak tidak hanya karena tidak diberi 'oli' tapi juga karena kita memberi 'oli' kualitas buruk kepada mesin alias jiwa kita. Apakan 'oli' itu sebenarnya? Oli adalah kepribadian dan sifat-sifat kita. Jika kita menanamkan setitik sifat buruk pada jiwa kita, maka rusaklah raga. Sifat buruk itu seperti oli dengan kualitas buruk.

Kembali kepada mobil.
Ketika kita memberi mesin mobil kita dengan oli kualitas baik, maka mesin akan menjadi baik dan mulus. Kita bisa mengetahui mesin itu baik adalah dari cara mobil itu berjalan. Jika mobil itu nyaman dan enak untuk dikendarai, dapat dipastikan oli nya pun bagus. 
Saat kita memberikan jiwa kita dengan sifat-sifat baik seperti jujur, ramah, sopan, dsb maka sifat baik tersebut akan direfleksikan oleh tubuh kita SECARA OTOMATIS. Itulah mengapa orang-orang yang mempunyai inner beauty dapat dapat dipastikan mereka memnberikan 'oli' kualitas baik kepada jiwa mereka. 

Tips Gaya Belajar #3 (Kisnestetik)

5:49 PM Add Comment
Tips Gaya Belajar #3 (Kisnestetik)
Berikut sekilas tentang Kinesthetic Learner versi ELS, lanjutan dari Tips Gaya Belajar #2 (Auditori)

Ciri-Ciri:
Dilihat dari namanya saja sudah ketahuan kalau Kinesthetic Learner itu learning best by doing. Mereka bisa belajar lebih baik jika bisa memegang benda tersebut secara nyata. Misalnya belajar tentang anatomi tubuh nereka akan belajar dengan cepat jika mereka mempunyai patung alat peraga. Contoh lain ketika belajar tentang sosial mereka akan belajar lebih baik ketika mereka langsung turun ke masyarakat mengamati sendiri permasalahan sosial dan membantu menyelsaikannya ketimbang hanya sekedar teori. Kinesthetic Learner lebih suka dengan objek nyata ketimbang hanya gambar, diagram, tulisan, maupun deskripsi akan suatu hal.

Saran Belajar:
  • Ketika membaca, gunakan jarimu untuk menunjuk ke buku
  • Sering-sering membuat ringkasan textbook, hand out dari guru, dengan MENULIS TANGAN di buku catatanmu
  • Jika belajar sesuatu harus mencoba dengan tanganmu sendiri paling tidak sekali, jangan hanya melihat saja.
  • Gunakan gerakan-gerakan ketika belajar, misal saat belajar sambil menggerak gerakkan kaki atau tangan. Kalau bisa konsentrasi sambil mendengarkan musik ya pake musik
  • Tuangkan ide menjadi object material yang nyata


Itu adalah akhir dari postingan tentang Tips Gaya Belajar. Bahkan sampai saat ini saya juga tidak tahu termasuk dalam kategori mana belajar saya. Namun biasanya saya akan menggunakan ketiganya. Biasanya setelah saya membaca textbook atau buku pelajaran saya akan membuat ringkasan, setelah itu saya akan mencoba mengerjakan soal-soal jika materi hitungan, atau mulai mencari video-video tentang objek tersebut jika materi tentang biologi. Oh iya, membaca materi yang sama dalam bahasa yang berbeda juga akan sangat membantu kamu lho. Karena saya termasuk orang bahasa (menurut tes IQ) saya biasanya membaca materi yang berbahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kalau lagi males browsing ya saya pinjam buku pelajaran billingual di perpustakaan haha... Selamat Mencoba :) 

Tips Gaya Belajar #2 (Auditori)

6:27 PM Add Comment
Tips Gaya Belajar #2 (Auditori)
Berikut sekilas tentang Visual Learner versi ELS, lanjutan dari Tips Gaya Belajar #1 (Visual)

Ciri-Ciri:

  • membaca dengan bersuara keras
  • lebih paham jika belajar dengan diskusi
  • lebih mudah mengingat ketika guru menjelaskan
  • senang bicara sendiri
  • saat pelajaran lebih senang dijelaskan secara langsung dari pada sekedar power point (cara mengajar guru-guru malas jaman sekarang)
Saran Belajar:
  • buatlah rekaman audio saat guru menjelaskan
  • belajar dengan berkelompok dan berdiskusi
  • buatlah rekaman suaramu saat membaca materi dengan keras
  • bacalah soal dengan bersuara, tapi jangan keras-keras nanti peserta ujian lain terganggu :D

Tips Gaya Belajar #1 (Visual)

6:05 PM Add Comment
Tips Gaya Belajar #1 (Visual)
Saya dapat info tentang gaya belajar model Visual Learner dari sebuah PDF berbahasa Inggris yang berjudul Academic Study Skills yang diterbitkan oleh ELS Pro System. PDF ini sangat ringkas dan menurut saya merupakan pegangan wajib bagi yang mau belajar efektif. Kalau ada yang mau PDF nya silakan kirim massage ke facebook saya. Berikut sekilas tentang Visual Learner versi ELS plus Lehigh University.

Ciri-ciri:
  • senang belajar dengan gambar dan diagram
  • saat dikelas lebih senang jika guru banyak mencatat di papan tulis
  • mencoba mengingat dengan cara membayangkan
  • visual learner senang belajar dengan textbook dan dia akan mencatat materi tersebut di buku catatan dengan lebih detail lagi
  • belajar mengandalkan textbook
Saran Belajar:
  • garis bawahi/men-stabilo/melingkari hal-hal yg penting
  • bandingkan catatan milik sendiri dengan catatan milik teman
  • buatlah sebuah gambar untuk mengilustrasikan sebuah konsep
  • gunakan warna-warna yang berbeda untuk konsep materi yang berbeda
  • selalu membawa buku catatan untuk menuliskan hal-hal penting ketika pelajaran
  • tuliskan kembali hal-hal penting yang sudah digaris bawahi/distabilo

Kisah Inspiratif : Cara Berfikir Sarjana

12:19 AM 1 Comment
Kisah Inspiratif : Cara Berfikir Sarjana
Tak adil jika hanya 'otak' yang ber-gelar. Mental pun layak punya gelar. Saya ingat cerita guru saya, guru Fisika, tentang temannya yang mempunya kemampuan jauh dibawah beliau. Ketika tes masuk PTN teman beliau  mengambil Fakultas Peternakan di UGM, guru saya agak sedikit meremehkan fakultasnya. 

Suatu ketika setelah wisuda dan mendapatkan pekerjaan guru saya mendapat kabar bahwa temannya itu bekerja sebagai cleaning service di PT Japfa Comfeed Indonesia, perusahaan yang disetir oleh Jepang. Guru saya iseng mampir ke tempat kerjanya dengan mengenakan kaos, celana panjang biasa, sandal jepit, dan motor. Ketika sampai di tempat:
Pak Guru: "Permisi pak, saya ingin bertemu pak 'anu', katanya bekerja disini, ya?"
Satpam: "Iya, benar, bapak siapa?"
Pak Guru: "Saya teman SMA nya. Pak 'anu' katanya cleaning service di perusahaan ini, ya? "
Satpam: "Oh, maaf, bukan, Pak 'anu' direktur utama di perusahaan ini. Mungkin bapak salah orang."
Guru saya kaget dan langsung pulang mengganti baju santai nya dengan jas formal, dasi, sepatu, dan menggunakan mobil. Satpam terlihat heran.

Setelah bertemu dengan temannya dan berbincang sangat lama, sang direktur langsung bercerita bagaimana dia bisa mendapatkan jabatan utama di perusaan besar tersebut. Dari sekian panjang cerita hidupnya, kata-kata yang paling 'mengena' adalah, "Kalau dipikir-pikir saya sia-sia sekolah mahal di UGM, karena yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah orang yang mempunyai cara berfikir seperti sarjana. Saya bisa mengalahkan sekian ribu sarjana bukan karenaa gelar sarjana saya namun karena cara berfikir saya yang seperti sarjana Karena banyak sekali sarjana yang berfikir masih seperti anak-anak."

Saya punya sebuah kisah nyata tentang kehidupan juga, kisah ini saya tulis ulang dari buku berjudul Kisah-Kisah Inspiratif Anak Bangsa yang diterbitkan oleh Antara Publishing. Ada seorang perempuan asal Bantul, dia hebat, sebut saja K. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak, sang ibu bekerja menjadi penjual jamu gendhong. Walaupun dia hanya lulusan SD namun cita-citanya seperti seorang sarjana hebat, dia ingin memajukan pendidikan di wilayahnya karena di daerahnya kesadaran akan ilmu sangatlah rendah, K saja juga hanya lulusan SD. Dia senang sekali membaca dan mengumpulkan buku, dia selalu membantu orang tuanya bekerja dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli buku bekas di pasar loak. Ketika dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, gajinya selalu ia gunakan untuk membeli buku. Dia juga menjadi TKI saat usia muda dan gajinya pun juga untuk membeli buku. 

Dia sangat hobi mengumpulkan buku sejak dia masih sangat muda, hingga akhirnya buku yang ia kumpulkan berjumlah hampir ribuan. Akhirnya pada suatu ketika dia membuka sebuah perpustakaan keliling, saat itu dia gunakan sepeda untuk membawa buku-bukunya. Dia bisa mengayuh hingga ke daerah pedalaman untuk 'menjajakan' buku-bukunya, dia sangat bertekat menyadarkan kepada masyarakatnya akan pentingnya pendidikan. Tidak hanya itu saja, dia membuka warung dirumahnya, dan disamping warungnya di pajanglah buku-buku, sehingga anak-anak yang ikut orang tuanya berbelanja di warung bisa menunggu sambil membaca buku di tikar yang sudah ia gelar. Tuhan selalu turun tangan melihat hambaNya yang sangat gigih berusaha. Warung bacaan yang dibuka menjadi buah bibir di masyarakat, tidak sedikit yang memberikan sumbangan demi kemajuan warung membaca dan kemajuan kesadaran akan pendidikan di daerahnya. Banyak yang menyumbang buku-buku, tikar, kursi-kursi, bahkan uang. Namun K tidak pernah menggunakan untuk keperluan pribadinya, baginya uang itu adalah amanah, yang harus digunakan sebagaimana mestinya. 

Akhirnya lahirlah nama "Warabal" atau Warung Baca Lebak Wangi. Hingga saat ini buku yang sudah tersedia ada 8.515 diluar buku pelajaran dan majalah, tersedia pula alat peraga, tujuh unit komputer yang berjajar rapi. Sekarang tempat itu menjadi sangat ramai, setiap Senin-Jum'at pagi Warabal digunakan untuk sekolah usia dini (PAUD), siang-sore digunakan untuk anak-anak SD belajar mengaji dan kursus komputer, sedangkan malah hari digunakan oleh anak-anak SMP, SMA, hingga mahasiswa untuk belajar sendiri maupun belajar kelompok. Pada hari Sabtu ada juga kursus Bahasa Inggris, Matematika, dan Fisika oleh 16 guru relawan. Biaya kursus sangat murah yaitu seribu rupiah per pertemuan sedangakn kursus komputer hanya duribu rupiah per pertemuan. Jumlah murid sudah sekitar 400 lebih. K sering mendapat penghargaan dan pernah pula menjadi pembicara di FIlipina.

Kesimpulan sangat singkat sekali. walaupun K hanya lulusan SD namun dia punya mental dan pemikiran seperti seorang sarjana. Dia senang sekali membaca dan selalu haus akan ilmu yang kebanyakan sifat itu diadopsi oleh para sarjana. Cara berfikir dia, ingin mengembangkan kesadaran pendidikan didaerahnya, juga merupakan cara pikir seorang sarjana. Hampir sangat sulit sekali menemukan seseorang lulusan SD yang punya cita-cita sedemikian hebatnya. Malahan sarjana jaman sekarang mungkin malah tidak sempat memikirkan pendidikan di daerahnya, benar bukan?

Nah, sudahkah kamu berfikir dan bertindak layaknya seorang sarjana? :)

Cara Memberikan Kesan Baik Kepada Seseorang

5:54 PM Add Comment
Cara Memberikan Kesan Baik Kepada Seseorang
Materi ini saya dapat dari buku karangan Les Giblin yang berjudul Skill With People. Bukunya tipis dan murah, isinya berbobot dan sangat bagus. Namun sepertinya sudah langka buku ini, karena  saya membeli buku ini sewaktu saya umur 14 tahun haha.Tulisan ini tidak sepenuhnya saya ketik ulang namun saya edit dan saya tambah yang sekiranya penting serta saya sesuaikan dengan kondisi.

Cara ini sangat baik diterapkan ketika kamu berkenalan dengan orang atau bertemu dengan orang untuk pertama kalinya. Bisa juga kamu terapkan saat ingin bertemu dengan orang penting supaya orang penting tersebut menghargai anda. Langsung saja kita simak apa sih yang membuat Les Giblin bisa mempengaruhi saya supaya mem-posting materi ini, yaudah deh, cuss...!!

1. Tidak hanya manusia, hubungan antar manusia juga punya sifat. Ada hubungan yang bersifat harmonis, dingin, panas, manis, ... Nah, kesan pertama yang kita berikan kepada orang lain sangat menentukan sifat hubungan nantinya. Jadi, ingat, buatlah pertemuan pertama menjadi terkesan baik pada orang lain

2. Dalam detik pertama, saat kamu pertama kali berkontak mata dengan orang lain, daann sebelum kamu mengatakan 'Hai', 'Hey', 'Wow', 'Hallo', 'Hhmm', intinya sebelum kamu mengatakan sesuatu berikan senyuman tulus kepada orang lain dan ajaibnya tanpa kamu minta orang lain akan membalas senyumanmu dan itu akan memberikan kesan baik pada orang lain tanpa kita sadari.

3. Oh iya, nada suara dan ekspresi wajah kamu amat sangat penting  karena itu menunjukkan pemikiran-pemikiranmu yang lebih dalam.

So, saat kamu bertemu dengan orang lain, TERSENYUMLAH sebelum kamu memcahkan keheningan antara kamu dan lawan bicara. 

Semoga Bermanfaat :)

Kebiasaan berawal dari sebuah paksaan

6:33 AM 1 Comment
Kebiasaan berawal dari sebuah paksaan

Siapakah aku?
Aku adalah teman tetapmu,
Aku adalah penolongmu yg terbesar,
Atau bebanmu yg terberat,
Aku akan mendorongmu maju atau menyeretmu kedalam kegagalan
Aku sepenuhnya tunduk pada perintahmu
Sebagian hal yg kulakukan mungkin sebaiknya kamu serahkan padaku,
Maka aku akan dapat melakukannya dengan cepat dan tepat

Aku mudah diatur – kamu tinggal TEGAS terhadapku
Tunjukkan padaku bagaimana persisnya kamu ingin sesuatu itu dilaksanakan
Dan setelah beberapa kali belajar
Aku akan melakukannya dengan otomatis
Aku adalah hamba dari semua insane besar, dan sayangnya
Juga hamba dari semua pecundang
Mereka yg besar telah kujadika besar
Mereka yg gagal telah kujadikan pecundang

Aku bukan mesin
Walaupun aku bekerja dengan ketepatan waktu seperti mesin
Ditambah intelejensi manusia
Kamu bisa menjalankan aku demi keuntungan atau demi kehancuran
Tak ada bedanya bagiku

Ambilah aku, latihlah aku, tegaslah terhadapku
Maka aku akan meletakkan dunia dikakimu
Kendorlah terhadapku makan aku akan menghancurkanmu
Sipakah aku?
Aku adalah Kebiasaan
(7 Habits Of Highly Effective Teens – S. Covey)

“Intinya kebiasaan itu terbentuk karena kita memaksa diri untuk berubah, tapi ingat harus TEGAS. Kalau tidak tegas ya bukan memaksakan diri namanya, tapi semau gue hahaha”

Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa jangan suka memaksakan diri nanti kalau dipaksakan malah akhirnya bisa fatal. Apakah benar sampai sengeri itu ya? Coba deh sekarang kita pikirkan bersama-sama, segala sesuatu yg kita lakukan itu semua berasal dari paksaan, entah itu hal buruk atau hal baik. Misalnya kita tidak terbiasa tidur siang namun tiap hari kita paksakan untuk tidur siang, dan tiap hari kita melakukan hal itu pada jam yg sama, maka secara otomatis tubuh akan mengikuti pola dan cara hidup kita yang baru, bukan? Itu adalah salah satu contoh sederhana di kehidupan kita. 

Contoh lain, misalnya, saya adalah seseorang yang sangat pemalas, tidak suka belajar dan sangat membenci buku. Kemudian suatu ketika saya mendapatkan sebuah motivasi untuk meraih sesuatu dimana untuk meraih hal tersebut saya diwajibkan untuk belajar dengan giat. Lalu saya berencana untuk mengubah cara hidup saya, saya mulai membuat jadwal untuk belajar dari pukul 3 pagi sampai subuh. Hari pertama saya bisa bangun jam 3, lalu belajar, tapi pasti tidak sampai satu jam saya sudanh mengeantuk, kenapa? Karena tubuh kita sudah terbiasa pada jam-jam tersebut saya sedang tidur, oleh karena itu saya butuh paksaan dari diri saya untuk tidak mengantuk pada jam-jam tesebut bagaimanapun caranya. Entah dengan minum kopi, mandi, cuci muka, dan sebagainya. 

Memaksakan diri yg menuntut kita menjadi pribadi lebih disiplin itu justru sangat dianjurkan. Tapi jangan memaksakan orang lain untuk menjadi lebih disiplin karena paksaan tersebut harus datang dari dirinya sendiri. Kecuali jika memang orang yg ingin kita paksa itu masih balita atau masih anak-anak yg membutuhkan bimbingan orang tua maka orang tualah yg wajib memaksa anaknya hidup lebih disiplin. Yaudah konteks kita sekarang bukan untuk anak-anak ya tetapi untuk mereka yg memang sudah cukup usia dan bisa menentukan sebagian jalan hidupnya J

Jadi saya ulangi bahwa paksaan itu tidak sesempit yg kita pikir sebelumnya. Kita memaksakan diri untuk hal-hal yg baik, why not? Dan memaksakan diri bukan berarti saya harus melakukan sesuatu yg saya tidak suka, namun memaksakan diri yg dianjurkan adalah memaksakan diri akan sesuatu yg kita butuhkan namun belum bisa terapkan dalam kehidupan sehari-sehari.
Saya tidak bilang itu mudah, tapi saya juga tidak bilang kalau itu tidak mungkin. Seperti pada kutipan yang saya tulis di bagian awal bahwa tubuh kita itu sepenuhnya tunduk terhadap perintah kita, dan jika kita memberikan perintah yg sama secara berkala maka secara otomatis tubuh kita akan melakukannya sendiri, bukan? Saya tau memang tidak mudah, sangat susah, dan sangat menyakitkan. Tapi kan hanya susah untuk sesaat.

Coba deh sekarang nulis nama kamu pakai tangan kanan, pasti lancar kan? Nah sekarang nulisnya pake tangan kanan? Dan bandingkan tulisan yg pake tangan kanan sama tangan kiri. Tulisan yg pake tangan kanan pasti bisa rapi, bagus, dan cepat kalau yang pake tangan kiri pasti jelek, lambat,  ada yg salah, dan saat menulis ada rasa keraguan karena takut terbalik hurufnya. Hahaha… itulah perubahan: lambat, kadang salah, kadang ragu, daaannn hasilnya kadang jelek. [f]