Kisah Inspiratif : Cara Berfikir Sarjana

12:19 AM
Tak adil jika hanya 'otak' yang ber-gelar. Mental pun layak punya gelar. Saya ingat cerita guru saya, guru Fisika, tentang temannya yang mempunya kemampuan jauh dibawah beliau. Ketika tes masuk PTN teman beliau  mengambil Fakultas Peternakan di UGM, guru saya agak sedikit meremehkan fakultasnya. 

Suatu ketika setelah wisuda dan mendapatkan pekerjaan guru saya mendapat kabar bahwa temannya itu bekerja sebagai cleaning service di PT Japfa Comfeed Indonesia, perusahaan yang disetir oleh Jepang. Guru saya iseng mampir ke tempat kerjanya dengan mengenakan kaos, celana panjang biasa, sandal jepit, dan motor. Ketika sampai di tempat:
Pak Guru: "Permisi pak, saya ingin bertemu pak 'anu', katanya bekerja disini, ya?"
Satpam: "Iya, benar, bapak siapa?"
Pak Guru: "Saya teman SMA nya. Pak 'anu' katanya cleaning service di perusahaan ini, ya? "
Satpam: "Oh, maaf, bukan, Pak 'anu' direktur utama di perusahaan ini. Mungkin bapak salah orang."
Guru saya kaget dan langsung pulang mengganti baju santai nya dengan jas formal, dasi, sepatu, dan menggunakan mobil. Satpam terlihat heran.

Setelah bertemu dengan temannya dan berbincang sangat lama, sang direktur langsung bercerita bagaimana dia bisa mendapatkan jabatan utama di perusaan besar tersebut. Dari sekian panjang cerita hidupnya, kata-kata yang paling 'mengena' adalah, "Kalau dipikir-pikir saya sia-sia sekolah mahal di UGM, karena yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah orang yang mempunyai cara berfikir seperti sarjana. Saya bisa mengalahkan sekian ribu sarjana bukan karenaa gelar sarjana saya namun karena cara berfikir saya yang seperti sarjana Karena banyak sekali sarjana yang berfikir masih seperti anak-anak."

Saya punya sebuah kisah nyata tentang kehidupan juga, kisah ini saya tulis ulang dari buku berjudul Kisah-Kisah Inspiratif Anak Bangsa yang diterbitkan oleh Antara Publishing. Ada seorang perempuan asal Bantul, dia hebat, sebut saja K. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak, sang ibu bekerja menjadi penjual jamu gendhong. Walaupun dia hanya lulusan SD namun cita-citanya seperti seorang sarjana hebat, dia ingin memajukan pendidikan di wilayahnya karena di daerahnya kesadaran akan ilmu sangatlah rendah, K saja juga hanya lulusan SD. Dia senang sekali membaca dan mengumpulkan buku, dia selalu membantu orang tuanya bekerja dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli buku bekas di pasar loak. Ketika dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, gajinya selalu ia gunakan untuk membeli buku. Dia juga menjadi TKI saat usia muda dan gajinya pun juga untuk membeli buku. 

Dia sangat hobi mengumpulkan buku sejak dia masih sangat muda, hingga akhirnya buku yang ia kumpulkan berjumlah hampir ribuan. Akhirnya pada suatu ketika dia membuka sebuah perpustakaan keliling, saat itu dia gunakan sepeda untuk membawa buku-bukunya. Dia bisa mengayuh hingga ke daerah pedalaman untuk 'menjajakan' buku-bukunya, dia sangat bertekat menyadarkan kepada masyarakatnya akan pentingnya pendidikan. Tidak hanya itu saja, dia membuka warung dirumahnya, dan disamping warungnya di pajanglah buku-buku, sehingga anak-anak yang ikut orang tuanya berbelanja di warung bisa menunggu sambil membaca buku di tikar yang sudah ia gelar. Tuhan selalu turun tangan melihat hambaNya yang sangat gigih berusaha. Warung bacaan yang dibuka menjadi buah bibir di masyarakat, tidak sedikit yang memberikan sumbangan demi kemajuan warung membaca dan kemajuan kesadaran akan pendidikan di daerahnya. Banyak yang menyumbang buku-buku, tikar, kursi-kursi, bahkan uang. Namun K tidak pernah menggunakan untuk keperluan pribadinya, baginya uang itu adalah amanah, yang harus digunakan sebagaimana mestinya. 

Akhirnya lahirlah nama "Warabal" atau Warung Baca Lebak Wangi. Hingga saat ini buku yang sudah tersedia ada 8.515 diluar buku pelajaran dan majalah, tersedia pula alat peraga, tujuh unit komputer yang berjajar rapi. Sekarang tempat itu menjadi sangat ramai, setiap Senin-Jum'at pagi Warabal digunakan untuk sekolah usia dini (PAUD), siang-sore digunakan untuk anak-anak SD belajar mengaji dan kursus komputer, sedangkan malah hari digunakan oleh anak-anak SMP, SMA, hingga mahasiswa untuk belajar sendiri maupun belajar kelompok. Pada hari Sabtu ada juga kursus Bahasa Inggris, Matematika, dan Fisika oleh 16 guru relawan. Biaya kursus sangat murah yaitu seribu rupiah per pertemuan sedangakn kursus komputer hanya duribu rupiah per pertemuan. Jumlah murid sudah sekitar 400 lebih. K sering mendapat penghargaan dan pernah pula menjadi pembicara di FIlipina.

Kesimpulan sangat singkat sekali. walaupun K hanya lulusan SD namun dia punya mental dan pemikiran seperti seorang sarjana. Dia senang sekali membaca dan selalu haus akan ilmu yang kebanyakan sifat itu diadopsi oleh para sarjana. Cara berfikir dia, ingin mengembangkan kesadaran pendidikan didaerahnya, juga merupakan cara pikir seorang sarjana. Hampir sangat sulit sekali menemukan seseorang lulusan SD yang punya cita-cita sedemikian hebatnya. Malahan sarjana jaman sekarang mungkin malah tidak sempat memikirkan pendidikan di daerahnya, benar bukan?

Nah, sudahkah kamu berfikir dan bertindak layaknya seorang sarjana? :)

Share this :

Previous
Next Post »
1 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔