Skip to main content

Kisah Inspiratif : Cara Berfikir Sarjana

Tak adil jika hanya 'otak' yang ber-gelar. Mental pun layak punya gelar. Saya ingat cerita guru saya, guru Fisika, tentang temannya yang mempunya kemampuan jauh dibawah beliau. Ketika tes masuk PTN teman beliau  mengambil Fakultas Peternakan di UGM, guru saya agak sedikit meremehkan fakultasnya. 

Suatu ketika setelah wisuda dan mendapatkan pekerjaan guru saya mendapat kabar bahwa temannya itu bekerja sebagai cleaning service di PT Japfa Comfeed Indonesia, perusahaan yang disetir oleh Jepang. Guru saya iseng mampir ke tempat kerjanya dengan mengenakan kaos, celana panjang biasa, sandal jepit, dan motor. Ketika sampai di tempat:
Pak Guru: "Permisi pak, saya ingin bertemu pak 'anu', katanya bekerja disini, ya?"
Satpam: "Iya, benar, bapak siapa?"
Pak Guru: "Saya teman SMA nya. Pak 'anu' katanya cleaning service di perusahaan ini, ya? "
Satpam: "Oh, maaf, bukan, Pak 'anu' direktur utama di perusahaan ini. Mungkin bapak salah orang."
Guru saya kaget dan langsung pulang mengganti baju santai nya dengan jas formal, dasi, sepatu, dan menggunakan mobil. Satpam terlihat heran.

Setelah bertemu dengan temannya dan berbincang sangat lama, sang direktur langsung bercerita bagaimana dia bisa mendapatkan jabatan utama di perusaan besar tersebut. Dari sekian panjang cerita hidupnya, kata-kata yang paling 'mengena' adalah, "Kalau dipikir-pikir saya sia-sia sekolah mahal di UGM, karena yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah orang yang mempunyai cara berfikir seperti sarjana. Saya bisa mengalahkan sekian ribu sarjana bukan karenaa gelar sarjana saya namun karena cara berfikir saya yang seperti sarjana Karena banyak sekali sarjana yang berfikir masih seperti anak-anak."

Saya punya sebuah kisah nyata tentang kehidupan juga, kisah ini saya tulis ulang dari buku berjudul Kisah-Kisah Inspiratif Anak Bangsa yang diterbitkan oleh Antara Publishing. Ada seorang perempuan asal Bantul, dia hebat, sebut saja K. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak, sang ibu bekerja menjadi penjual jamu gendhong. Walaupun dia hanya lulusan SD namun cita-citanya seperti seorang sarjana hebat, dia ingin memajukan pendidikan di wilayahnya karena di daerahnya kesadaran akan ilmu sangatlah rendah, K saja juga hanya lulusan SD. Dia senang sekali membaca dan mengumpulkan buku, dia selalu membantu orang tuanya bekerja dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli buku bekas di pasar loak. Ketika dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, gajinya selalu ia gunakan untuk membeli buku. Dia juga menjadi TKI saat usia muda dan gajinya pun juga untuk membeli buku. 

Dia sangat hobi mengumpulkan buku sejak dia masih sangat muda, hingga akhirnya buku yang ia kumpulkan berjumlah hampir ribuan. Akhirnya pada suatu ketika dia membuka sebuah perpustakaan keliling, saat itu dia gunakan sepeda untuk membawa buku-bukunya. Dia bisa mengayuh hingga ke daerah pedalaman untuk 'menjajakan' buku-bukunya, dia sangat bertekat menyadarkan kepada masyarakatnya akan pentingnya pendidikan. Tidak hanya itu saja, dia membuka warung dirumahnya, dan disamping warungnya di pajanglah buku-buku, sehingga anak-anak yang ikut orang tuanya berbelanja di warung bisa menunggu sambil membaca buku di tikar yang sudah ia gelar. Tuhan selalu turun tangan melihat hambaNya yang sangat gigih berusaha. Warung bacaan yang dibuka menjadi buah bibir di masyarakat, tidak sedikit yang memberikan sumbangan demi kemajuan warung membaca dan kemajuan kesadaran akan pendidikan di daerahnya. Banyak yang menyumbang buku-buku, tikar, kursi-kursi, bahkan uang. Namun K tidak pernah menggunakan untuk keperluan pribadinya, baginya uang itu adalah amanah, yang harus digunakan sebagaimana mestinya. 

Akhirnya lahirlah nama "Warabal" atau Warung Baca Lebak Wangi. Hingga saat ini buku yang sudah tersedia ada 8.515 diluar buku pelajaran dan majalah, tersedia pula alat peraga, tujuh unit komputer yang berjajar rapi. Sekarang tempat itu menjadi sangat ramai, setiap Senin-Jum'at pagi Warabal digunakan untuk sekolah usia dini (PAUD), siang-sore digunakan untuk anak-anak SD belajar mengaji dan kursus komputer, sedangkan malah hari digunakan oleh anak-anak SMP, SMA, hingga mahasiswa untuk belajar sendiri maupun belajar kelompok. Pada hari Sabtu ada juga kursus Bahasa Inggris, Matematika, dan Fisika oleh 16 guru relawan. Biaya kursus sangat murah yaitu seribu rupiah per pertemuan sedangakn kursus komputer hanya duribu rupiah per pertemuan. Jumlah murid sudah sekitar 400 lebih. K sering mendapat penghargaan dan pernah pula menjadi pembicara di FIlipina.

Kesimpulan sangat singkat sekali. walaupun K hanya lulusan SD namun dia punya mental dan pemikiran seperti seorang sarjana. Dia senang sekali membaca dan selalu haus akan ilmu yang kebanyakan sifat itu diadopsi oleh para sarjana. Cara berfikir dia, ingin mengembangkan kesadaran pendidikan didaerahnya, juga merupakan cara pikir seorang sarjana. Hampir sangat sulit sekali menemukan seseorang lulusan SD yang punya cita-cita sedemikian hebatnya. Malahan sarjana jaman sekarang mungkin malah tidak sempat memikirkan pendidikan di daerahnya, benar bukan?

Nah, sudahkah kamu berfikir dan bertindak layaknya seorang sarjana? :)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…