Kisah Inspiratif - Hakikat Sebuah Perjuangan

6:02 PM

Nyaris mengalah diriku dalam mengusahakan sebuah upaya untuk sukses dalam menulis. Beragam cara telah aku lakukan. Mulai dari mencoba menulis kembali akarya orang lain untuk sebatas melatih kecepatan menulis sampai kepada mencari sebanyak informasi untuk pengetahuan bagaimana kiat sukses merajut huruf demi huruf. Juga dengan banyak menulis dimana saja. Dikertas sobekan, dibuku catatan, bahkan dimeja makan. Memperhatikan dan ‘mengeja’ tulisan orang lain dengan menganalisa bagaimana mereka menjemput ide-ide itu dan mambahasakannya dalam kalimat-kalimat.
                Jelas sangat banyak yang aku lakukan. Pernah bahkan diriku menghentikan sama sekali aktifitas menulis dan membuang jauh niat dan semangat sekaligus cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Itu karena diriku merasa tidak sanggup dan tidak mampu  serta tidak mungkin menjadi seseorang yang bergelut dalam dunia aksara itu. Sangat berat sekali! Sangat melelahkan bahkan terasa mustahil!
                Namun semngat tersebut tidak mudah hilang dan kembali muncul disaat aku membaca tulisan yang mengisahkan betapa berat usaha dan perjuangan mereka yang telah berhasil menjadi penulis. Mereka menuturkan, pada mulanya mereka bertemu dengan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bahkan mereka pernah mendapat kepayahan yang jauh lebih berat. Karena mereka mengaku beranjak dari orang yang sangat tidak berbakat dalam bidang yang mudah saja dilakukan oleh para waartawan itu (sementara aku pernah merasa – entah Cuma sebatas merasa – sedikit berbakat dalam menulis)
                Akan tetapi karena keyakinan dan kegigihan yang mereka dapatkan mengubah takdir dan membalikkan keadaan kearah yang lebih dekat kepada keberhasilan. Dan akhirnya mereka bisa menulis. Semangat dan cita-cita yang tinggi dapat meluluhkan gunung yang kekar. Ketika Allah menutup pintu, Dia juga membukakan jendela. Allah mentakdirkan kuadrahnya yang lain manakala si hamba mengusahakan untuk membalikka takdir yang telah ada. Dia seperti dia seperti yang disangkakan hamba-Nya. Akan memberikan apa yang diperjuangkan si hamba dengan sungguh-sungguh. Tuhan maha baik. Itu deretan kalimat hikmah penginspirasinya.
                Pada saat itulah aku kembali menekuni kegemaran yang sekaligus cita-citaku yang telah ada dan telah aku buangkan, kembali menulis. Kucoba lagi berulang-ulang. Kukerahkan segenap kemampuanku. Kuingat dalam hati semua yang telah mereka kerahkan untuk menggapai cita-citanya. Kupantikkan selalu dalam keyakinan bahwa tuhan akan memberika apa yang hamba-Nya usahakan. Kukatakan, “jangan berhenti dulu” ketika diri memintanya untuk berhenti. Kuenyahkan rasakepayahan. Kugambarkan betapa senang dan puasnya manakala sebuah hal yang memeberatkan telah mampu terlewatkan.
                Kubayangkan keindahan-keindahan yang akan kudapatkan apabila usaha tersebut nanti membuahkan hasil yang memuaskan. Kutulis lagi dan kembali kutulis. Apa saja. Sehingga tampak terasa ak telah mampu menyoretkan  banyak tulisan diatas kertas. Penuh. Kubaca kembali karya kecil pertama milik diriku itu. Kuteliti dimana ada kejanggalan yang benar-benar janggal. Karena kejanggalan yang kecil dan sedikit telah hampir disetiap tulisan. Maka tidak kuhiraukan itu. Akhirnya ‘buku kecil’ aku itu sukses kujadikan sebuah karya yang aku rasa telah boleh dicoba untuk diminta penilaina dari banyak orang dengan cara “diperjualkan”. Disana babti akan “dibedah” oleh ahlinya dan kalau beruntung “dpublikasikan” dimedia bacaan. Maka kukirimkan tulisan itu ke media cetak pada redaksi local terdekt ditempat saya. Kepuasan kali pertama kutemui stelah tulisan itu selesai kukirimkan. Bahagia. Kemudian kutunggu dengan sabar bagaimana reaksinya….
                Berhitung bulan kunantikan tulisan ku itu tidak kunjung aku dapatkan pada lembaran surat kabar yang telah kukirimkan. Saban hari aku tidak bosan membaca dan melihatnya pada Koran itu. Namun berakhir tidak pernah aku dapatkan, tulisan penuh perjuangkanku tidak atau belumlayak untuk dimuat. Bahkan mungkin sudah menjadi bungkus bawang merah atau cabe rawit dipasar rempah-rempah.
                Setelah diriku yakn bahwa tulisan kirimanku belum layak dan tidak dimuat maka kuperbaiki lagi tulisanku itu yang tinggal di “file” saya. Kuperhatikan dimana masih ada kejanggalan yang mendekati tingkat kefatalan. Kuperbaiki. Dan kubuat perubahan kecil dibanyak sisi. Kemudian kukirimkan kembali ke redaksi surat abar local lain. Begitulah hal yang sama aku lakukan berualng kali. Hampir semua harian local yang ada didaerahku telah kukirimkan tulisan itu. Tetapi tetap belum dimuat. Tulisanku tidak laku. Tidak layak diperjualkan.
                Sehingga entah pada keberapa belas kali pengiriman tulisan pertama itu, suatu ketika mataku berbinar ketika menyaksikan sebuah halaman surat kabar yang memuat artikelku. Kuperhatikan dengan seksama. Benar, karyaku. Tulisanku dimuat! Relung-relung jiwaku tersusup kebahagiaan yang tiada tara karena hal itu. Dadaku mengembang demi merasakan kesenangan dan kepuasan yang telah alama aku nantikan. Aku bersyukur. Hatiku bertahmid memuji Allah. Alhamdulillah Ya Allah….
                Setelah itu aku semakin giat dan gemar menulis. Kinikendalanya tidak lagi kurasakan seperti yang pertama kali aku rasakan. Bahkan sepeetinya sekarang aku telah sedikit lebih mudah dalam menulis. Ide dan inspirasi sekarang bisa mengalir lumayan deras. Untuk menyelsaikan sebuah tulisan tidak lagi membutuhkan waktu berhari-hari ataupun berminggu-minggu. Aku sanggup menuliskan tulisan dalam beberapa jam saja. Intinya aku merasa lebih mudah dalam menulis…
                Dan disitulah aku bertekad untuk lebih serius dalam menullis. Dan menjazamkan diri untuk benar-benar menjadi seorang penulis yang sukses dan produktif. Kujadikan aktivitas menulis sebagai tugas utama disamping membantu guru mengajarkan pengajian kitab kuning pada sebuah pesantren tradisional. Kujadikan dua wadah dalam medan perjuangan serta lahan ibadah itu sebagai orientasi utama dalam skala prioritas yang harus selalu aku ku=edepankan. Insya Allah…

Oleh Tengku Bukhari. Dikutip dari majalah Sabili No 3 Tahu XIX 10 November 2011/14 Dzulhijjah 1432



Ketika kamu sudah berusaha mewujudkan cita-cita sampai titik darah penghabisan namun belum membuahkan hasil, disaat itulah Allah sedang menguji usahamu dalam bersabar. Jika kamu berhasil melalui ujian kesabaran yg Allah berikan maka berhasil pulalah kamu dalam berusaha meraih impian.  (SF)

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔