Skip to main content

Kisah Inspiratif - Hakikat Sebuah Perjuangan


Nyaris mengalah diriku dalam mengusahakan sebuah upaya untuk sukses dalam menulis. Beragam cara telah aku lakukan. Mulai dari mencoba menulis kembali akarya orang lain untuk sebatas melatih kecepatan menulis sampai kepada mencari sebanyak informasi untuk pengetahuan bagaimana kiat sukses merajut huruf demi huruf. Juga dengan banyak menulis dimana saja. Dikertas sobekan, dibuku catatan, bahkan dimeja makan. Memperhatikan dan ‘mengeja’ tulisan orang lain dengan menganalisa bagaimana mereka menjemput ide-ide itu dan mambahasakannya dalam kalimat-kalimat.
                Jelas sangat banyak yang aku lakukan. Pernah bahkan diriku menghentikan sama sekali aktifitas menulis dan membuang jauh niat dan semangat sekaligus cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Itu karena diriku merasa tidak sanggup dan tidak mampu  serta tidak mungkin menjadi seseorang yang bergelut dalam dunia aksara itu. Sangat berat sekali! Sangat melelahkan bahkan terasa mustahil!
                Namun semngat tersebut tidak mudah hilang dan kembali muncul disaat aku membaca tulisan yang mengisahkan betapa berat usaha dan perjuangan mereka yang telah berhasil menjadi penulis. Mereka menuturkan, pada mulanya mereka bertemu dengan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bahkan mereka pernah mendapat kepayahan yang jauh lebih berat. Karena mereka mengaku beranjak dari orang yang sangat tidak berbakat dalam bidang yang mudah saja dilakukan oleh para waartawan itu (sementara aku pernah merasa – entah Cuma sebatas merasa – sedikit berbakat dalam menulis)
                Akan tetapi karena keyakinan dan kegigihan yang mereka dapatkan mengubah takdir dan membalikkan keadaan kearah yang lebih dekat kepada keberhasilan. Dan akhirnya mereka bisa menulis. Semangat dan cita-cita yang tinggi dapat meluluhkan gunung yang kekar. Ketika Allah menutup pintu, Dia juga membukakan jendela. Allah mentakdirkan kuadrahnya yang lain manakala si hamba mengusahakan untuk membalikka takdir yang telah ada. Dia seperti dia seperti yang disangkakan hamba-Nya. Akan memberikan apa yang diperjuangkan si hamba dengan sungguh-sungguh. Tuhan maha baik. Itu deretan kalimat hikmah penginspirasinya.
                Pada saat itulah aku kembali menekuni kegemaran yang sekaligus cita-citaku yang telah ada dan telah aku buangkan, kembali menulis. Kucoba lagi berulang-ulang. Kukerahkan segenap kemampuanku. Kuingat dalam hati semua yang telah mereka kerahkan untuk menggapai cita-citanya. Kupantikkan selalu dalam keyakinan bahwa tuhan akan memberika apa yang hamba-Nya usahakan. Kukatakan, “jangan berhenti dulu” ketika diri memintanya untuk berhenti. Kuenyahkan rasakepayahan. Kugambarkan betapa senang dan puasnya manakala sebuah hal yang memeberatkan telah mampu terlewatkan.
                Kubayangkan keindahan-keindahan yang akan kudapatkan apabila usaha tersebut nanti membuahkan hasil yang memuaskan. Kutulis lagi dan kembali kutulis. Apa saja. Sehingga tampak terasa ak telah mampu menyoretkan  banyak tulisan diatas kertas. Penuh. Kubaca kembali karya kecil pertama milik diriku itu. Kuteliti dimana ada kejanggalan yang benar-benar janggal. Karena kejanggalan yang kecil dan sedikit telah hampir disetiap tulisan. Maka tidak kuhiraukan itu. Akhirnya ‘buku kecil’ aku itu sukses kujadikan sebuah karya yang aku rasa telah boleh dicoba untuk diminta penilaina dari banyak orang dengan cara “diperjualkan”. Disana babti akan “dibedah” oleh ahlinya dan kalau beruntung “dpublikasikan” dimedia bacaan. Maka kukirimkan tulisan itu ke media cetak pada redaksi local terdekt ditempat saya. Kepuasan kali pertama kutemui stelah tulisan itu selesai kukirimkan. Bahagia. Kemudian kutunggu dengan sabar bagaimana reaksinya….
                Berhitung bulan kunantikan tulisan ku itu tidak kunjung aku dapatkan pada lembaran surat kabar yang telah kukirimkan. Saban hari aku tidak bosan membaca dan melihatnya pada Koran itu. Namun berakhir tidak pernah aku dapatkan, tulisan penuh perjuangkanku tidak atau belumlayak untuk dimuat. Bahkan mungkin sudah menjadi bungkus bawang merah atau cabe rawit dipasar rempah-rempah.
                Setelah diriku yakn bahwa tulisan kirimanku belum layak dan tidak dimuat maka kuperbaiki lagi tulisanku itu yang tinggal di “file” saya. Kuperhatikan dimana masih ada kejanggalan yang mendekati tingkat kefatalan. Kuperbaiki. Dan kubuat perubahan kecil dibanyak sisi. Kemudian kukirimkan kembali ke redaksi surat abar local lain. Begitulah hal yang sama aku lakukan berualng kali. Hampir semua harian local yang ada didaerahku telah kukirimkan tulisan itu. Tetapi tetap belum dimuat. Tulisanku tidak laku. Tidak layak diperjualkan.
                Sehingga entah pada keberapa belas kali pengiriman tulisan pertama itu, suatu ketika mataku berbinar ketika menyaksikan sebuah halaman surat kabar yang memuat artikelku. Kuperhatikan dengan seksama. Benar, karyaku. Tulisanku dimuat! Relung-relung jiwaku tersusup kebahagiaan yang tiada tara karena hal itu. Dadaku mengembang demi merasakan kesenangan dan kepuasan yang telah alama aku nantikan. Aku bersyukur. Hatiku bertahmid memuji Allah. Alhamdulillah Ya Allah….
                Setelah itu aku semakin giat dan gemar menulis. Kinikendalanya tidak lagi kurasakan seperti yang pertama kali aku rasakan. Bahkan sepeetinya sekarang aku telah sedikit lebih mudah dalam menulis. Ide dan inspirasi sekarang bisa mengalir lumayan deras. Untuk menyelsaikan sebuah tulisan tidak lagi membutuhkan waktu berhari-hari ataupun berminggu-minggu. Aku sanggup menuliskan tulisan dalam beberapa jam saja. Intinya aku merasa lebih mudah dalam menulis…
                Dan disitulah aku bertekad untuk lebih serius dalam menullis. Dan menjazamkan diri untuk benar-benar menjadi seorang penulis yang sukses dan produktif. Kujadikan aktivitas menulis sebagai tugas utama disamping membantu guru mengajarkan pengajian kitab kuning pada sebuah pesantren tradisional. Kujadikan dua wadah dalam medan perjuangan serta lahan ibadah itu sebagai orientasi utama dalam skala prioritas yang harus selalu aku ku=edepankan. Insya Allah…

Oleh Tengku Bukhari. Dikutip dari majalah Sabili No 3 Tahu XIX 10 November 2011/14 Dzulhijjah 1432



Ketika kamu sudah berusaha mewujudkan cita-cita sampai titik darah penghabisan namun belum membuahkan hasil, disaat itulah Allah sedang menguji usahamu dalam bersabar. Jika kamu berhasil melalui ujian kesabaran yg Allah berikan maka berhasil pulalah kamu dalam berusaha meraih impian.  (SF)

Comments

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…