Skip to main content

Kuliah di India? Why? Why? Why?! [Part I]

Alasan Kuliah di India

Gargi College, University of Delhi
Bukan lagi sebuah pertanyaan baru bagi kami, para mahasiswa Indonesia di India. Pasalnya negara yang sedang naik daun (lagi) sejak munculnya tokoh Shaheer Sheikh ini, mempunyai beragam kekhasannya sendiri. Banyak sekali teman-teman di sosial media menghubungi saya hanya untuk menanyakan hal-hal sepele tentang India, mungkin fans berat India. 

Oke, cukup sudah basa-basi nya, berikut saya paparkan beberapa alasan yang cukup untuk menyakinkan teman-teman yang berniat kuliah di India: 

Sekolah di India MURAH bak Kacang Goreng

Sudah bukan rahasia lagi dan semua mahasiswa Indonesia di India mengakui nya bahwa biaya pendidikan di India tergolong murah. Cukup banyak teman-teman disini yang manempuh pendidikan dengan biaya orang tua, bahkan saya kenal beberapa kawan yang membiayai kuliahnya sendiri hingga S2 di India.

Saya ambilkan contoh di Aligarh Muslim University, biaya pendidikan untuk B.A (Bachelor of Arts) setara S1, biaya SPP sekitar 14 juta rupiah hingga lulus. Di India jenjang S1 rata-rata hanya 3 tahun. Di Delhi University , untuk kuota asing biaya pendidikan jenjang S1 program Sains atau B.Sc sekitar 3,6 juta Rupiah per tahun.

Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan

Aspek bahasa merupakan satu-satu nya alasan kenapa saya memilih belajar disini. Saat itu kemampuan Bahasa Inggris saya belum cukup terasah. Itulah mengapa saya tidak cukup bernyali untuk mencari beasiswa S1 di Eropa. Oleh karena itu untuk S1 hanya hanya mencari di sekitaran Asia, yang mana saya gunakan sebagai 'batu locatan' untuk melanjutkan S2 saya nanti :D

Bahasa keseharian yang digunakan di kampus adalah Bahasa Inggris. Mulai dari dosen menjelaskan hingga saat ujian akhir semester, semuanya menggunakan Bahasa Inggris.  Tidak hanya itu, buku-buku perkuliahan disini juga menggunakan Bahasa Inggris. 

Jadi selain kita belajar bidang pendidikan kita sendiri, kemampuan berbahasa Inggris kita juga akan terasah dengan baik. Karena semua aspek kebahasaan; writting, listening, speaking, reading kita praktekkan setiap hari mau tidak mau.

India Surga bagi Para Pecinta Buku

Ini adalah hal terfavorit bagi saya selama saya di India, karena saya suka membaca. Selama di India kami tak pernah mengenal buku bajakan. Semua buku yang tersedia disini asli. Akses untuk menjangkau buku-buku terbitan internasional juga sangat mudah. Di Delhi ada perpustakaan sekaligus toko buku khusus untuk buku terbitan Oxford University Press. 

Dua hal yang saya cintai dalam dunia buku : Sains dan Pengembangan Diri. Kedua jenis buku tersebut yang memenuhi rak buku saya. Buku Mikrobiologi saya terbitan McGraw Hill misalnya, saya dapatkan hanya Rp 120.000. Buku tersebut asli (ada hologramnya), cukup tebal sekitar 800 halaman, dan lagi itu terbitan internasional. Buku bekas (second hand) namun asli juga cukup banyak tersedia. Jujur saya lebih suka buku bekas, karena sudah agak lecek.

Pada bulan Januari setiap tahunnya, di daerah Pragati Maidan, New Delhi digelar pameran buku internasional. Ada yang bilang itu adalah pameran buku terbesar di Asia. Banyak penerbit kelas dunia seperti Oxford, Cambridge, Wiley, turut serta di pameran tersebut. Diskon yang ditawarkan pun hingga 30%. Penerbit Indonesia seperti Mizan juga sering ikut serta membuka stand  di acara tersebut. Pameran tersebut berlangsung sekitar 1 minggu. 

India Mengajarkan Kita akan Kesederhanaan

Selama saya menempuh pendidikan di Delhi, saya jarang sekali melihat mahasiswa mengendarai sepeda motor. Rata-rata dari mereka menggunakan bus atau metro (sejenis MRT). Bahkan dosen sayapun juga rata-rata menggunakan kendaraan umum. Saya pernah satu bajaj dengan dosen saya. Kami berdua sama-sama menuju stasiun metro. Bahkan di Aligarh, dosen-dosen berangkat ke kampus menggunakan sepeda onthel. 

India tidak pernah menawarkan kemewahan. Dalam belajar kita tidak membutuhkan kemewahan. Kualitas pendidikan yang dibungkus dengan kesederhanaan dan kesahajaan justru mempercantik nilai ilmu tersebut.


Lanjutan baca di Alasan Kuliah di India Part II

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2020-2021

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2020-2021
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) da…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…