Skip to main content

Life Journey - From Indonesia to India (Part I)


Perjuangan Meraih Beasiswa

Saya tak pernah menyangka perjalanan saya akan sampai di India. Negara yang dijuluki Anak Benua ini mempunyai kepadatan lima kali populasi Indonesia. Berkuliah di India bukan berarti tak berencana. Banyak energi-energi hebat dalam diri yang mampu membuat kaki saya menapak di Tanah Gandhi ini.

Keinginan bisa kuliah di luar negeri sudah terpatri sejak berumur 15 tahun, tepatnya saat kelas 3 SMP. Betapa narsis nya dulu saat itu, berkirim email untuk Oxford University hanya sekedar menanyakan beasiswa. Namun bahagia saya bukan main ketika pihak Oxford University membalas email saya. Satu-satu nya alasan yang cukup kuat membuat hormon dopamin saya melejit adalah, mereka memahami Bahasa Inggris saya. Membutuhkan waktu berjam-jam buat saya menulis email kepada Oxford . Saya tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Bahasa Inggris saya saat itu. Innocence.

Keinginan saya untuk bisa kuliah di LN tetap ada bahkan setelah lulus SMP. Saya menyadari saat itu bahwa saya harus belajar Bahasa Inggris lebih dari sekedar giat. Bahasa Inggris di sekolah tidak cukup membantu buat saya. Hal yang pertama saya lakukan saat itu adalah membeli buku. Buku pertama yang menjadi saksi jejak usaha belajar Bahasa Inggris saya adalah The Daily Conversation Book. Buku tersebut setebal tidak lebih dari 200 halaman dan menjadi sumber kebahagiaan kecil saya saat di bus, dirumah, maupun dikelas.

Ketika masuk SMA saya mulai memboroskan pulsa untuk browsing penyedia beasiswa S1 di luar negeri. Ternyata sekedar mencari informasi susah nya bukan main. Saya tidak senyali itu untuk mencari beasiswa S1 di Eropa. Ada sedikit porsi rasa pesimis menyadari kemampuan Bahasa Inggris saya tak sesempurna penyiar BBC. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari beasiswa di negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, namun dalam pendidikan tetap menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar. Itulah awalan yang mendasari saya memilih India. Prinsip saya sederhana, sekolah sambil belajar Bahasa Inggris.

Menginjak tahun terakhir di SMA, keinginan berkuliah di luar negeri mulai berkurang. Saya sudah tak seambisius dulu. Gejolak semangat untuk bisa mewujudkan impian sudah nyaris punah. Saya tak lagi memikirkan beasiswa. Fokus saya berubah drastis. Ambisi saya saat itu bisa diterima di kampus ternama di kota saya, UGM. Benar saja saya diterima, jurusan Rekam Medis. Saya sebetulnya tak terlalu meminati nya. Kabar diterimanya saya di UGM-pun tak cukup membuat saya berenergi untuk menjingkrakkan kaki sambil berteriak, Hore ! Pun akhirnya saya tak ambil kesempatan tersebut dan lebih memilih di Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta jurusan Keperawatan. Impian sekolah di luar negeri benar-benar sudah lenyap.

Saya menikmati hari-hari belajar saya sebagai calon perawat. Jarum suntik, stetoskop, infus sudah menjadi bagian dari hidup saya. Saya bahkan terpilih menjadi Ketua BEM Jurusan Keperawatan. Diantara para ketua-ketua BEM jurusan, jurusan sayalah yang diketuai oleh mahasiswa semester 1. Menginjak semester 2 akhir, Tuhan nampaknya menginginkan saya lebih dari sekedar IPK 3.65. Tak sengaja saya menemukan seberkas formulir ICCR tahun lalu di rak. Dari sanalah energi itu muncul kembali. Seperti ada dorongan untuk kembali mencoba. Benar saja, setelah saya cek di internet, pendaftaran ICCR sedang dibuka. Hanya 7 hari waktu tersisa untuk mempersiapkan segalanya. Segalanya.

Bersambung.

Comments

  1. Wahhh keren kak.. saya jadi lebih semangat belajar biar bisa kuliah di luar negeri.. doain saya ya kak. Saya juga sama seperti kakak, dari mulai chat sama bule, giat belajar b. Inggris, cari beasiswa LN bedanya saya lebih lelet hehehhe saya lakukan itu semenjak kuliah. Semoga ga telat ya kak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…