Skip to main content

Pengalaman Pertama Mengikuti Test TOEFL Untuk Beasiswa

Test TOEFL Untuk Mendaftar Beasiswa ICCR (India)




Satu hal yang paling saya khawatirkan saat mendaftar beasiswa adalah : TOEFL, walaupun Persyaratan TOEFL untuk beasiswa ICCR tidak terlalu tinggi (hanya 500) jika dibandingkan dengan penyedia beasiswa dari lembaga lain.


Sekilas tentang TOEFL

TOEFL yang saya pakai untuk mendaftar beasiswa adalah TOEFL ITP. TOEFL ITP adalah salah satu jenis TOEFL resmi. TOEFL ITP biasanya lebih digunakan untuk tujuan akademik. TOEFL yang resmi hanya diadakan oleh ETS (English Testing System) dari Amerika. Jika teman-teman mengikuti tes TOEFL tapi penyelenggaranya bukan ETS, bisa dipastikan itu bukan TOEFL resmi, melainkan hanya TOEFL Prediction atau TOEFL-Like Prediction.

TOEFL Prediction tidak bisa dipakai untuk mendaftar beasiswa keluar negeri. Itu hanya dipakai untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita berbahasa Inggris. Saya pernah mengikuti TOEFL Prediction sebelumnya, yakni di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. 

Biaya Tes

Untuk TOEFL ITP sendiri biaya nya sekitar Rp 450 ribu (tahun 2014). Buat saya itu adalah uang yang lumayan banyak. Jadi ya bisa dibayangkan jika saat itu skor TOEFL saya tidak memenuhi persyaratan beasiswa, melayang sudah uang Rp 450 ribu. Sedangkan untuk TOEFL Prediction biasanya lebih murah. Ada yang hanya Rp 100 ribu atau bahkan gratis. hehe...

Tempat Pendaftaran dan Tes

Di Jogja, beberapa tempat yang menyediakan tes TOEFL ITP antara lain English First (EF), Real English, ELTI, UGM, UMY, UIN, UNY, dll. Saya mengikuti test TOEFL ITP di ELTI, karena pada tanggal tersebut, hanya ELTI yang sedang membuka tes TOEFL ITP resmi.

Prosedur Pendaftaran

Waktu itu saya langsung mendatangi kantor ELTI di daerah Sabirin, dan membawa uang Rp 450ribu. Kemudian pihak ELTI memberikan kwitansi sekaligus booklet tentang TOEFL ITP. Pada booklet itu juga tersedia beberapa contoh soal-soal TOEFL ITP. Officer tersebut kemudian memberi tahu tanggal dan jam tes akan dilaksanakan. Dia memberikan beberapa pilihan waktu untuk mengikuti tes. Saat itu saya memilih jam sore karena siang harinya saya ada UAS di kampus. Jam sore adalah gelombang terakhir, yakni dari pukul 17.30 - 20.45.

Saat Ujian

Setelah selesai UAS saya langsung pulang dan belajar untuk TOEFL. Sebelum tes tak lupa saya makan dahulu. Karena tes tersebut cukup lama dan membutuhkan banyak energi untuk berfikir jadi saya tidak mengizinkan rasa lapar muncul saat ujian TOEFL. Saya sampai di kantor ELTI 20 menit sebelum tes dimulai. Saya diantar ke ruang ujian oleh resepsionis. Ternyata sudah banyak peserta yang hadir pemirsa. Langsung saja saya menuju kursi saya, dimana kursi sudah diurutkan sesuai nomor pendaftaran kita. Saya mendapatkan kursi paling depan dekat dengan speaker. Lumayan. 

Ujian berlangsung selama tiga jam terdiri dari 3 bagian yakni: 
  • Listening Section,
  • Structure and Written Expression, dan
  • Reading Comprehension,
Jujur, kelemahan saya ada pada Listening Section (bahkan sampai sekarang). Saya cukup was-was namun tetap berusaha tenang dan berfikir positif. Benar saja ! Listening Section menurut saya cukup sulit. Jauh berbeda dengan Listening Section yang pernah saya ikuti di TOEFL Prediction. "Jadi begini rasanya mengikuti ujian seharga 450 ribu Rupiah?" Batin saya saat itu. Namun sebisa mungkin saya tetap fokus pada speaker dan mencoba untuk menangkap apa yang sedang dibicarakan. Listening Section ini dibagi lagi menjadi 3 bagian yakni Percakapan Pendek, Percakapan Panjang, dan Monolog Panjang. Total pertanyaan untuk sesi ini adalah 50 butir dengan waktu sekitar 30-40 menit.

Okay. Next. This is my favourite part, heck yes ! Structure and Written Expression ! Saya merasa diantara ketiga sesi ujian, sesi inilah saya paling merasa bisa. Paling tidak bisa  untuk mendongkrak skor TOEFL saya karena listening saya pas-pasan. Pertanyaan yang diajukan pada sesi ini adalah seputar Grammar. Jumlah soal ada 40 butir dengan waktu yang diberikan adalah 20 menit. And guess what ?! This section was not that easy ! -_- Dibilang sulit juga tidak, namun dibilang susah juga tidak. Rata-rata. Namun masih lebih sulit ini ketimbang TOEFL Prediction (ya iyalah!) Untuk sesi ini, kunci nya adalah yang penting kita memahami struktur kalimat. Maksudnya, kita harus benar-benar mampu membedakan mana subject, verb, adjective, dan adverb. Yang saya lakukan pertama kali adalah selalu menggaris bawahi kata yang termasuk VERB pada kalimat tersebut. TENSES juga harus betul-betul kita pahami. Tidak harus menguasai, tapi harus memahami. Menurut saya pengetahuan akan vocabulary tidak begitu dituntut pada sesi ini. 

And the last one was Reading Comprehension. Pada sesi ini kita diberikan beberapa teks bacaan dan setiap teks terdapat beberapa pertanyaan yang berkaitan. Jumlah soal adalah 50 dengan waktu pengerjaan 55 menit. Sesi ini sangat menuntut ketelitian dalam memahami bacaan, dan kosa kata kita  cukup diuji. 

Akhirnya selesai juga ujian TOEFL. Cukup melelahkan menurut saya, apalagi saat itu malam hari. Saya lantas bergegas pulang dan belajar Anatomi Fisiologi untuk UAS keesokannya. 

Hari Pengumuman

Sampai sekarang saya masih ingat betapa deg-degan nya dulu saat membuka amplop berisi sertifikat hasil ujian TOEFL. Menurut saya itu adalah saat paling mendebarkan. Betapa tidak, kelanjutan beasiswa saya ditentukan oleh skor TOEFL saya. Jika skor TOEFL saya kurang dari persyaratan minimal, maka sia-sialah persiapan yang sudah saya lakukan untuk mendaftar beasiswa. Selain itu melayang sudah uang Rp 450 ribu.

Hasil? Karena saya sekarang sudah di India, jadi sudah bisa ditebak bagaimana hasilnya :D


Comments

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…