The Hardest Moment in India: My Transition from Delhi to Hyderabad

12:40 AM 3 Comments
 
Suhu mendung di Kota Hyderabad cukup membuat saya betah mengadukan jemari saya untuk menulis. Jujur saja, kota ini adalah bagian dari turning point alias titik balik kehidupan saya. Bersama dengan kota ini seolah Tuhan sedang mengajak saya untuk lebih banyak berjalan dan memunguti ilmu-ilmu yang berceceran disini.

Bicara soal turning points saat ini saya sedang menyelesaikan membaca buku tulisan mantan presiden sekaligus ilmuan terhebat India, A.P.J Abdul Kalam berjudul Turning Points. Beliau adalah perancang kendaraan peluncur satelit India SLV-3 yang kemudian berhasil meluncurkan satelit Rohini pada 1980. Kapan-kapan saya akan buat tulisan tentang Abdul Kalam.

Oke, kita kembali ke judul utama. Kejadian ini bermula di Delhi, yang saya sebut "kota lalu". Lebih tepatnya di Kantor Imigrasi atau Foreign Regional Registration Office (FRRO) New Delhi. Saat itu bulan Juli 2016 saya mengajukan "proposal" kepindahan saya ke Hyderabad. Mau tidak mau saat itu saya harus menghadap imigrasi sebab visa saya nyaris kadaluarsa. Tanpa basa-basi migrasi menolak permohonan saya dengan alasan saya sudah tidak eligible lagi untuk kuliah disini. 

Sejak awal saya sudah menyadari keputusan besar ini tidak akan mudah. Sangat beresiko. Kemungkinan gagal sangat besar. Mundur dan menyerah akan selalu searah. Saya sudah pikirkan semua resiko-resiko pahit tersebut. Namun, kali ini saya membuat keputusan besar bersih dari rasa ragu.

Sebagai gantinya mereka dengan tegas mengatakan, "We will give you exit permit instead." Saya diam sejenak mencerna kata demi kata yang baru saja saya dengar. Exit Permit? Itu artinya saya akan dipulangkan ke Indonesia. Seketika itu saya tidak mampu lagi membendung perasaan sakit hati. Percobaan pertama datang ke imigrasi 'disambut' dengan jawaban yang sungguh diluar antisipasi. Saya menangis sejadinya di kantor imigrasi. Tak habis pikir saya pernah tidak tahu malu di negara orang lain. 

Dengan nada terbata saya tetap mencoba meyakinkan mereka. "Sir, I have promised myself, I will not go back to Indonesia without my degree. I will prove it. But if you didn't give me a chance, how will I prove?". Entah apa yang ada dipikiran pegawai imigrasi tersebut akhirnya saya diminta menghadap ke atasannya. Mungkin dia merasa malu juga menjadi pusat perhatian di kalangan warga-warga asing di kantor tersebut akibat tingkah kekanak-kanakan saya.

Saya menghadap sang atasan. Beliau terlihat lebih ramah. Saya merasa sedikit teduh saat pertama kali hendak berbicara padanya. Saya mencoba untuk tidak menangis. Saya sangat anti menunjukkan aura kesedihan di hadapan orang lain apalagi menangis. Dengan nada suara lebih ramah dan bersahabat, "Haan beta, tell me." (Haan = yes; beta=nak). Saya ceritakan kembali tujuan saya ke imigrasi dan kondisi keuangan saya sudah habis-habisan untuk mengurusi biaya ini itu. Beliau lalu mempelajari berkas-berkas saya dan mempersilahkan duduk. Lima belas menit beliau membawa berkas saya kesana kemari, saya kemudian dipanggil. Beliau menjelaskan bahwa imigrasi Delhi tidak bisa memperpanjang visa saya. Sebagai gantinya mereka akan mengeluarkan Transfer Certificate (TC) untuk saya bawa ke kantor imigrasi Hyderabad dimana nantinya kantor tersebut yang akan memperpanjang visa sekaligus menerbitkan Resident Permit baru untuk tinggal disana. Saya bingung harus berterimakasih atau bernegosiasi lagi. Saya berprasangka bahwa mereka sedang mengalihkan urusan saya ke imigrasi Hyderabad. Dengan kata lain  mereka tidak ingin ambil pusing dengan masalah saya.

I decided to thank him instead of negotiating. Saya diminta mengumpulkan beberapa berkas wajib secepatnya sebab visa saya hanya tinggal 2 minggu. Artinya saya sudah harus memperpanjang visa di Hyderabad sebelum dua minggu. Itupun kalau urusan di imigrasi Hyderabad lancar, kalau tidak? Sudahlah itu urusan nanti. 

Beberapa surat yang harus segera saya dapatkan adalah surat keterangan polisi setempat, surat keterangan dari landlord (bapak kos), dan surat keterangan pindah dari pihak akademik kampus. Surat dari landlord sangat mudah saya dapatkan. Surat keterangan dari polisipun tidak ada kesulitan berarti. YES. The most challenging part was in my old campus, Delhi University. Permohonan untuk surat keterangan pindah saya sempat ditolak oleh kampus saya sendiri. Alhasil saya harus menghadap orang ini dan itu. Walaupun akhirnya permohonan saya dipenuhi, mereka meminta saya datang lagi setelah dua minggu. Gila saja saya jika saya harus menunggu dua minggu hanya untuk satu surat. Belum lagi visa saya juga tinggal dua minggu. Sebisa mungkin saya negosiasi untuk mempercepat pembuatan surat karena memang kondisi yang cukup mendesak. Saya memang tidak tau malu. Sudah merepotkan pihak kampus, masih nawar pula. Saya tidak peduli. Akhirnya saya hanya menungu waktu selama satu minggu. 


Satu Minggu Bersama ICCR
Selama satu minggu itupun saya tidak bisa hanya berdiam diri di kamar. Saya harus bolak-balik ke kantor ICCR. Dari rumah ke ICCR saya harus menempuh metro atau kereta bawah tanah dua kali. Lalu berjalan sekitar 1.5 kilometer ke kantor ICCR. Saat itu memang sedang puncak musim panas. Sering sekali kepala saya sakit karena panas, lelah, dan beban pikiran yang berakumulasi menjadi satu.

Drama di ICCR pun cukup membuat saya cengeng. Saat itu saya diruang direktur program ICCR lantai dua. Hanya saya, beliau, dan satu staf nya. Saya menawarkan solusi. Mereka mengungkit masalah uang. Saya memahami posisi saya saat itu. Saya memang diposisi sebagai pihak yang membutuhkan sehingga bergaining position saya lemah.  Saya hanya pasrah namun mereka terlihat sedikit angkuh. Sang staf berkata dengan begitu serius.

"You have to return 30 thousands Rupees right now."  

Saya jawab, "I have nothing left. What do you expect from me?". Entah bagaimana saya bisa mengatakan hal tersebut dengan sangat yakin.

"We can't help you then." Mereka mengatakan hal tersebut dengan sangat tenang namun terkesan agak remeh. Mereka pikir saya akan merengek memohon meminta belas kasihan. Mereka tahu saya memang sudah tidak punya apa-apa. "It's about office thing, you won't understand." kata sang program director dengan "bangga" nya seolah saya memang tidak tahu apa-apa supaya saya terlihat sedikit bodoh dan mau menyerahkan 30 ribu Rupees begitu saja. Saya merasa hanya buang-buang waktu disini. Akhirnya, saya jawab dengan nada percaya diri dan tanpa beban, "It's okay, Sir ! I will still graduate from India with or without ICCR! Thank you !" 

Satu hal yang membuat saya tidak takut mengatakan hal demikian kepada ICCR adalah, sejak awal ICCR memang tidak tertarik membicarakan solusi. Berbagai macam solusi saya ajukan namun topik yang mereka ajukan hanya sebatas uang dan uang. Disisi lain masih memungkinkan bagi saya jika untuk tetap kuliah tanpa ICCR. Entah saya akan mencari kerja kesana kemari. Saya sudah berbekal pengalaman yang lumayan untuk bekerja disini. Saya paham ini memang nekad.

Tak lama kemudian mereka memanggil saya dan meminta saya untuk meninggalkan nomer telpon. Saya berikan nomer saya. Saya ucapkan terimakasih dan pergi dengan mata setengah basah dan perasaan yang biasa saja.

Satu mingu saya habiskan di ICCR tanpa hasil yang bisa dipastikan. Namun saya tetap merasa puas karena paling tidak saya mencoba. Mencoba segala hal yang bisa saya lakukan. Memang tidak semua proses memberikan hasil sesuai rencana kita, namun ketidaksesuaian itulah yang sebetulnya hasil rencana Tuhan. Biarlah Tuhan urus hasilnya. Urusan proses dan kerja keras biar saya lakukan. 

Satu Minggu Terakhir di Delhi
Setelah satu minggu saya bergegas ke kampus untuk mengambil surat yan sudah dijanjikan kampus. Saya senang mereka menepatinya walaupun saya tetap harus menunggu selama tiga jam. Saya gunakan tiga jam tersebut untuk jalan-jalan di taman kampus dan ke kantin. Dari pada saya bolak balik pulang kerumah hanya akan membuang uang Rp 24k (Rs 120) untuk transport. 

Pukul 2 siang saya dapatkan surat dari kampus. Bergegas saya ke kantor imigrasi di wilayah R.K. Puram Sector 1 tersebut. Saya serahkan semua berkas saya kepada staf dan saya diminta untuk kembali lagi besok. Mereka bilang saya sudah bisa memesan tiket kereta ke Hyderabad dan mereka akan membuatkan transfer certificate. Saya pulang dengan perasaan gembira. Saya mempersiapkan segalanya selama satu hari itu. 

Keesokannya saya kembali ke imigrasi dengan wajah ceria. Pihak penjaga imigrasi sudah hafal dengan saya sehingga membiarkan saya masuk tanpa membawa nomor urut. Saat saya menghadap sang atasan, mendadak beliau mengatakan, "Please cancel your train to Hyderabad." 

Dalam sekian mili detik keceriaan saya musnah. "What happened??!"

"Please get one more letter from your college regarding the verification of your previous letter." Beliau menjelaskan dengan raut muka yang cukup menunjukkan rasa sedih.

"What verification letter? The previous letter is original from my college. I am not cheating." Saya berusaha meyakinkan.

"I understand. But this is necessary. I will give you a request letter from FRRO addressed to your college to issue a verification letter."

Tanpa komplain ini itu saya segera mengiyakan permintaan beliau. Saya sadar saya tidak punya banyak waktu jika harus komplain atau marah dan sebagainya. Saya penuhi saja apa maunya. 

Langsung saya bergegas ke kampus lagi. Bertemu dengan karyawan yang sama. Saya tahu dia bosan melihat saya. Saya utarakan maksud kedatangan saya. Saya diminta menghadap direktur akademik besok sebab beliau sedang libur hari ini. "My God!" batin saya. Saya mencoba bernegosiasi kalau memang tidak perlu ketemu dengan direktur akademik lebih baik tidak usah ketemu. Jangan membuat-buat alasan. Namun karyawan tersebut tetap dengan jawaban yang sama. Ya sudah. Saya cukup memahami posisi dia sebagai karyawan. Karena saya sendiri juga pernah menjadi seorang karyawan saat di Delhi. 

Saya pulang.

Saat itu adalah H-4 visa saya kadaluarsa. Saya hanya pasrah. Tidak ada pilihan lain. Saya memikirkan bagaimana sampai ke Hyderabad kurang dari 3 hari. Perjalanan via kereta dari Delhi ke Hyderabad memakan waktu hingga 30 jam. Sekitar 3 hari dua malam. Saya mulai memikirkan biaya pesawat ke Hyderabad. 

Keesokannya saya ke kampus lagi. Menemui direktur akademik. Beliau sangat ramah dan berusaha membantu saya. Saya sangat bersyukur. Dia berjanji akan membuatkan verification letter hari ini juga. Saya makin bersyukur. Saya diminta menemui karyawannya lagi terkait surat saya. Karyawan tersebut mengatakan dalam dua jam surat saya sudah jadi. Saya tunggu dua jam. Setelah dua jam saya menemui karyawan tersebut lagi. Karyawan tersebut meminta saya menunggu dua jam lagi. Saya menarik nafas panjang. Sabar. Saya tunggu lagi. Saat itu pukul 4 sore dan surat saya sudah jadi. Saya mengucapkan terima kasih dan pergi ke imigrasi. Saya nyaris tidak pergi ke imigrasi karena sudah hampir mendekati closing hour. Pahit-pahitnya saya akan disuruh datang lagi besuk. Namun perasaan saya tetap memaksa saya untuk pergi. Setidaknya mencoba. 

Saya turun dari bajaj dan langsung berlari ke kantor imigrasi. Belum tutup. Dengan nafas tengsegal-sengal saya menemui beliau lagi. Kemudian saya diminta menemui orang yang duduk di ruangan bertuliskan "Authorization Office". Saya agak gugup. Perasaan saya tidak enak.

Benar firasat saya. Tidak ada dua menit orang tersebut menolak semua berkas saya. Saya diminta pulang ke Indonesia. Jujur dalam hati saya sangat emosi. Saya berani saja marah-marah dan menyumpahi dia macam-macam. Dari mukanya saja sebetulnya sudah tidak ramah dan kurang mengenakkan. Saya sempat heran bagaimana bisa orang macam tersebut bisa menduduki jabatan yang penting di kantor imigrasi. Saya berusaha mengendalikan emosi dan menerima semua berkas saya yang ditolak. Saya genggam semua berkas-berkas tersebut. Ada sedikit perasaan sesak dan sakit dalam tenggorokan dan dada saya. Walaupun berkas sudah ditolak namun tidak pernah muncul pikiran sedikitpun bahwa saya akan gagal.

Saya adalah customer terakhir di kantor imigrasi sejak sejam yang lalu. Saya masih duduk setengah lemas karena belum makan apapn sejak pagi. Tak lama kemudian seseorang dengan wajah teduh menghampiri saya. Beliau sangat ramah sangat berwibawa dengan pakaian seragam imigrasi. Beliau bertanya apa yangs telah terjadi. Saya menceritakan kembali kondisi saya. Saya sebetulnya sudah sangat lelah mengulang-ulang cerita yang sama dan nampaknya beliau paham saya sudah lelah. Beliau meminta salah satu tukang konsumsi kantor untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk saya. Saya merasa tenang. Dengan sedikit energi dari secangkir teh, saya bercerita kembali. Tidak sampai saya selesai bercerita, beliau meminta semua karyawan untuk memenuhi permintaan saya. Para karyawan yang sedang santai-santai nya minum teh karena sebetulnya kantor sudah tutup harus kembali menatap layar komputer untuk mengurusi saya seorang. Ya, semua karyawan kembali bekerja hanya untuk saya. Saya melihat tingkah para karyawan yang tergesa-gesa dengan urusan komputernya. Tak sampai lima belas menit Transfer Certificate saya selesai. Saya diminta segera ke kantor imigrasi Hyderabad menunjukkan TC untuk perpanjangan visa saya. Saya merasa cukup lega walau masih ada rasa khawatir bagaimana urusan saya di Hyderabad. Tapi ya sudah. Itu nanti. Saya berterima kasih kepada beliau yang sangat ramah kepada saya. Saya menebak beliau adalah direktur di kantor imigrasi tersebut. Saya menyalami semua karyawan termasuk direktur dan pulang dengan perasaan cukup haru dan syukur.

Saya tiba dirumah dengan kondisi demam dan tidak bisa makan. Saya memang menderita asam lambung akut sejak kecil. Apapun yang saya makan pasti akan saya muntahkan lagi. Dengan mata setengah tertutup saya memesan tiket pesawa ke Hyderabad untuk besok subuh. Tidak mungkin saya ke Hyderabad malam ini dengan kondisi tubuh seperti ini. Akhirnya pesawat pun sudah dipesan untuk penerbangan pukul 05.00 ke Hyderabad. Saya harus merogoh koceng hingga Rs 1,6 juta rupiah (Rs 8000) hanya untuk penerbangan dua jam ke Hyderabad. Saya memang kelebihan bayak sekali bagasi karena barang-barang dan buku saya sangat banyak.

Di Kantor Imigrasi Hyderabad
Saya bersyukur sekali lagi dipertemukan dengan karyawan yang sangat ramah di kantor imigrasi Hyderabad. Saya sempat takut prosesi saya akan memakan banyak waktu lagi. Namun disini semua berjalan mulus dan lagi urusan saya di kampus pun juga cukup lancar. Saya tidak pernah merasa selancar ini selama menghadapi birokrasi India yang terkenal sangat berbelit.

Saya membuktikan bahwa Tuhan Maha Adil. Hingga detik saya menulis cerita inipun saya masih merasakan maha dasyat nya pertolongan Tuhan. Saya tahu ini terdengar agak sok gimana gitu namun sejak saat itu saya selalu percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Kita semua percaya bahwa nothing is impossible namun seberapa banyak dari kita yang betul-betul membuktikannya? 

Cerita diatas memang terdengar biasa saja saat dibaca, karena tujuan saya menulis memang bukan untuk membuat para pembaca terkesima atau merasa "wow" dengan kejadian tersebut. Tujuan saya membuat cerita ini karena saya ingin berlatih menulis. Itulah kenapa saya buat blog, supaya orang lain bisa membaca dan minimal memberi masukan kecil. Because living is learning.


 - T H E  E N D  -

Kamu belum berusaha maksimal jika kamu belum lelah, sakit, atau menangis. (Rahma, 2016)

Budaya Makan Tiga Kali Sehari

4:47 AM Add Comment

Cuaca Hyderabad Kamis ini begitu bersahabat. Saya bisa menikmati sweater tidur saya seharian tanpa khawatir kepanasan. Hari ini, 26 Januari 2017, India sedang merayakan Republic Day sehingga hari ini memang hari libur. 

Saat menikmati makan siang, tiba-tiba saya teringat artikel yang saya tulis dua hari yang lalu tentang My Personal Bugetinng : How do I spend 200k a month for meals? Terlepas dari komentar orang-orang terdekat kenapa saya sangat memaksakan diri soal makan, dari komentar-komentar tersebut saya mendadak berfikir apakah sebetulnya manusia benar-benar "membutuhkan" makan tiga kali sehari?

Saya ingat hierarki Maslow tentang Five Basic Human Needs yang saya pelajari saat saya 'menjabat' sebagai mahasiswa keperawatan di kampus Jogja. Maslow menempatkan Kebutuhan Fisiologis menjadi kebutuhan yang mendasari ke empat kebutuhan yang lain. Kebutuhan Fisiologi antara lain makan, bernafas, tidur, sex, dsb. Maslow sendiri (seingat saya) tidak pernah mengatakan bahwa manusia harus makan tiga kali sehari. Beliau hanya menjelaskan bahwa makan adalah kebutuhan fisiologis.

Saya secara pribadi melihat pola 'makan tiga kali sehari' sebagai budaya yang mana budaya tersebut lahir karena kebiasaan. Kita sedari kecil selalu dibiasakan dan diajarkan untuk makan tiga kali sehari. Hal tersebut kemudian menjadi gaya hidup kita dan anehnya tiap orang mempunyai gaya hidup yang sama soal makan, yaitu makan tiga kali sehari. Saat banyak sekali orang yang percaya bahwa makan tiga kali sehari adalah kebutuhan, maka pola 'makan tiga kali sehari' akan menjadi sebuah standar baku dalam masyarakat. Saat masyarakat sudah percaya pada standar tersebut, mereka akan berhenti mempertanyakan kebenarannya.

Jika saya tengok lagi artikel saya tentang My Personal Budgeting in India, dimana literary saya hanya makan sehari satu kali saat makan malam. Makan siang saya biasanya hanya makan snack dan sarapan dengan teh manis dan (kadang) pisang. Saya melakukannya sejak bulan Oktober 2016 hingga sekarang. Jika ditanya tentang bagaimana keseharian dan studi saya tiap harinya jika hanya makan sekali dan snack saja? Well, so far so good. Tidak ada hambatan yang berarti. Konsentrasi saya tetap bagus. Nilai-nilai saya juga memuaskan. Lalu apakah saya tidak sakit atau menderita ganguan kesehatan karena kebiasaan itu? Pada dasarnya saya belum pernah sakit yang disebabkan karena kebiasaan makan tersebut. Sakit pernah. Demam. Itu saja dan itupun baru dua kali saya sakit demam sejak bulan Oktober tahun lalu. 

Dari hasil pengamatan terhadap diri sendiri, saya mengambil kesimpulan pribadi bahwa I don't need to eat three times a day. Jangan juga salah paham terhadap saya. Saya tidak mengkritisi soal makan, saya lebih mengkritisi tentang hukum 'tiga kali sehari'. Dimana menurut sudut pandang orang Indonesia yang namanya makan minimal ada nasi, lauk, dan sayur. 

Saya tertarik mengaitkan pola 'tiga kali sehari' ini dengan Circadian Rhytm atau irama sirkadian. Irama sirkadian pada dasarnya adalah jam biologis atau jam tubuh kita. Tidak ada wujud nyata dalam tubuh kita akan adanya 'benda' ini. I am not interested to explain this term with such bookish or wikipedia-ish definition. You can just google it. Pada dasarnya tubuh kita sudah hafal dengan kebiasaan kita. Jika kita sudah terbiasa tidur pukul 11 malam, maka sebelum pukul 11 kita tidak akan merasa mengantuk. Kenapa? Karena otak kita sudah tahu bahwa kita selalu tidur pukul 11. Saat mendekati pukul 11 kita biasanya sudah mulai mengantuk, sebab otak sudah tahu bahwa itu adalah waktu tidur sehingga otak akan memproduksi hormon adenosine yang akan membuat kita tidur. Adenosin bisa dilawan dengan kafein. 

Bagaimana kaitan irama sirkadian dengan pola makan? Kita sepakat bahwa makan adalah kebutuhan. Segala sesuatu diluar 'makan' adalah kebiasaan. Hal yang diluar 'makan' misalnya pola makan, jenis makanan, kuantitas makanan, dsb. Sesuai dengan paparan diatas irama sirkadian erat kaitannya dengan kebiasaan. Jika kita sudah terbiasa makan pada jam 07.00 (sarapan), 13.00 (makan siang), dan 19.00 (makan malam) maka secara otomatis pada jam tersebut kita akan merasa lapar sebab otak kita sudah hafal bahwa pada saat-saat tersebut kita selalu makan. 

Satu cerita kecil sebagai penutup tulisan saya kali ini. Pada bulan Ramadhan saat saya masih kelas 6 SD, teman saya selalu mengeluh kelaparan pada jam istirahat yaitu jam 09.00. Berhubung saat itu adalah bulan puasa jadi saat jam istirahat kami hanya duduk dan ngobrol di kelas. Dia mengatakan bahwa dia selalu makan cukup saat sahur. Ketika saya belajar di bangku keperawatan, saya menyadari bahwa rasa lapar yang teman saya rasakan adalah akibat dari kebiasaan dia selalu jajan pada jam istirahat. Walaupun dia sudah makan cukup saat sahur namun jika dia sudah terbiasa makan pada jam 09.00 maka otomatis dia akan tetap merasa lapar. Bisa disimpulkan bahwa sebetulnya rasa lapar yang datang pada pukul 09.00 saat puasa adalah rasa lapar akibat kebiasaan. 

Kepercayaan saya akan irama sirkadian tersebut yang menjadikan saya sudah terbiasa menjalani hari hanya dengan sarapan teh hangat, snack siang hari, dan makan berat saat malam hari. 

Okay that's pretty much it. I hope you could understand my writting. Mohon diingat bahwa tulisan ini, disisi lain, agak menimbulkan perdebatan. Tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk menumpahkan ide 'nakal' saya yang terlahir karena kebiasaan saya sendiri. Jika harus memilih ya saya mau-mau saja makan tiga kali sehari. Makan sehari lima kali pun saya mau banget karena makan juga merupakan salah satu sumber kebahagiaan bagi saya. Because food is not a word, it's an emotion.

How Do I Spend 200k Rupiah a Month for Meals ?! My Personal Budgeting in India

3:40 AM 6 Comments

*) Rp 200.000 = Rs 1000
**) Nominal diatas hanyalah nominal untuk uang makan saja. Tidak termasuk uang KOS ! Kecuali kalau kalian cuma numpang.

Sejak kepindahan saya dari Delhi ke Hyderabad, masalah keuangan menjadi semakin menghantui. Walaupun biaya hidup di Hyderabad tidak semencekik di Delhi namun kalau uang saya mepet ya sama saja bohong. Saat di Delhi, saya sebetulnya sudah punya manajemen keuangan sendiri, namun cara tersebut sudah tidak valid lagi untuk hidup disini. By the time I reached Hyderabad, I realized that I had to modify my budgeting technique. 

Manusia normal pada umumnya akan mengalokasikan pengeluaran mereka antara lain untuk : biaya kos, makan, buku &fotokopi, biaya tersier seperti nonton atau belanja, biaya tak terduga dan tabungan. Ada 6 jenis pengeluaran umum yg biasa dikeluarkan oleh mahasiswa. Tiga diantaranya merupakan pengeluaran wajib (kos, makan, buku & fotokopi) dan tiga sisanya merupakan pengeluaran tidak wajib (biaya tersier, tak terduga, tabungan). Jika kebetulan daerah kos cukup jauh dengan kampus, maka pengeluaran wajib bertambah, transportasi! 

Jika secara umum daftar pengeluaran mahasiswa ada enam jenis maka pengeluaran saya hanya dibagi menjadi 2 jenis yakni: biaya kos dan biaya makan. Keduanya adalah pengeluaran wajib. Tidak bisa ditawar. Tidak bisa dikurangi.Wajib.

Biaya rumah dan biaya makan, masing-masing mempunyai nominal kebutuhannya sendiri. Dari kedua jenis pengeluaran tersebut, hanya biaya makanlah yang bisa dikompres lagi dan lagi. Setelah melakukan pengamatan dan kalkulasi secara mendetail akhirnya saya mendapatkan kesimpulan akhir bahwa saya bisa dan mampu bertahan hidup dengan 200k. Dua bulan pertama saya pernah mematok biaya makan maksimal adalah 130k atau Rs 650 per bulan. Namun demi Tuhan saya sudah lakukan sebisa munkin dan saya tidak berhasil hanya bertahan hidup dengan 130k per bulan untuk makanan. Akhirnya saya memberikan sedikit kelonggaran 70k per bulan sehingga pengeluaran menjadi 200k sadja.

Lalu bagaimana cara saya makan 200k sebulan? Ada beberapa peraturan yang harus saya patuhi. The very first rule is No Breakfast ! Saya selalu mengandalkan secangkir teh manis setiap pagi. Dimana-mana yang namanya teh manis pasti ada gula nya kan? Nah, gula itulah yang menjadi sumber energi saya sampai sore. FYI, gula mengandung sukrosa dan nasi mengandung glukosa. Sukrosa dan Glukosa adalah bentuk sederhana dari Karbohidrat. Karbohidrat adalah sumber energi. Kesimpulan, gula juga salah satu sumber energi ! 

Second Rule - no heavy lunch. Just snacks ! Ada 2 opsi untuk makan siang. Pertama, beli roti tawar 7k (Rs 35), bawa dua sampai tiga biji untuk makan siang. Roti tawar 7k cukup untuk 4 hari. Kalau bosan dengan roti tawar, bisa beli snack di kantin yang murah dan agak berat seperti bread pakora, samosa, egg puff. Ketiga snack tersebut seharga 2k (Rs 10) masing-masing. Rs 10 merupakan batas maksimal untuk jajan di kantin. Jadi pilih salah satu saja dari ketiga snack tersebut. Favorit saya adalah bread pakora karena terbuat dari roti tawar dan kentang dimana keduanya adalah sumber karbohidrat. Saya tidak tau apakah bread pakora tersebut mengandung telur. Jika mengandung telur itu artinya saya akan mendapat bonus protein yang penting untuk perkembangan otak saya.

Third Rule - mind your shopping time ! Shopping time artinya belanja sayuran dan bahan makanan pokok. Dalam satu bulan usahakan belanja maksimal 3x dan tiap belanja usahakan tidak lebih dari 50k (Rs 250). Supermarket favorit saya disini adalah Reliance. Alasannya adalah di supermarket ini sayuran cukup lengkap, murah, dan ada diskon. Saat di supermarket usahakan selalu jeli dalam melihat, fokus, dan banyak berdoa karena godaan syetan di supermarket biasanya lebih kuat dan tangguh ! Selalu perhatikan label-label yang ada tulisan "Free". Misalnya, buy 1 get 1 FREE. Selalu pilih produk-produk merek supermarket tersebut. Misal, saya selalu beli detergent merek Reliance karena itu adalah produk mereka dan harga jauuuhh lebih murah.

Saat belanja biasanya saya akan sibuk di rak sayuran dan makanan pokok. Sayuran yang menjadi favorit  saya adalah kentang, kubis, kembang kol, wortel, terung, dan labu siam. Biasanya sayuran-sayuran tersebut akan saya buat menjadi tumis atau sup. Alasannya adalah, untuk menumis dan membuat sup tidak membutuhkan banyak miyak goreng, sehingga kita bisa hemat minyak goreng. P.S minyak goreng 16k per liter (Rs 80). Saya kadang membeli mie rebus juga. Sebungkus isi empat harga 8k (Rs 40). Sehari bisa masak satu mie rebus untuk makan malam. Biasanya saya akan masak mie rebus untuk makan malam kalau benar-benar sedang malas memasak, saat ujian, atau saat tidak enak badan. Teh wajib beli karena untuk sarapan. Jika ada snack yang murah bisa beli snack, seperti biskuit marie. Lumayan untuk teman belajar saat malam hari dan ganjal perut kalau lapar saat dini hari. 

Forth Rule - No Chicken ! Waktu awal-awal disini saya kadang beli ayam. Setengah kilo harganya 14k (Rs 70). Namun saya pikir-pikir lagi sepertinya kalau saya tidak makan ayam saya masih bisa hidup. Akhirnya saat itu saya stop makan ayam dan beralih ke telur. Sepuluh biji telur seharaga 9k (Rs 45) dan tiap hari saya hanya makan satu telur, itu artinya telur saya bisa awet untuk 10 hari. Saya pernah sekali mengeluh kepada diri sendiri karena bosan makan telur. Suatu ketika saya melihat video di FB tentang bapak penyapu jalanan di Jogja. Beliau mengungkapkan bahwa telur adalah makanan spesial karena beliau bisa makan telur hanya sekali dalam setahun, yakni saat hari ulang tahunnya. Hal itu cukup menggores hati saya dan sampai saat ini saya tidak pernah mengeluh jika hanya bisa makan nasi telur atau nasi sayur saja.

Last Rule - make it rigid. Di awal sudah saya sampaikan bahwa pengeluaran saya hanya dua: kos dan makanan. Jika suatu ketika ada pengeluaran lain seperti beli bolpen, buku tulis, dll maka pengeluaran tersebut diambil dari uang makan

Kesimpulannya adalah dalam sehari saya hanya makan satu kali, yaitu saat makan malam :D

Saya secara pribadi lebih bisa tahan lapar saat siang hari dari pada malam sebab siang hari saya akan berada di kampus full day dan rasa lapar selalu teralihkan karena kesibukan di kampus. Makan malam menurut saya sangat penting karena setiap malam saya selalu belajar dan saya tidak bisa belajar malam hari dalam kondisi lapar.

Well, that's pretty much it guys. Please keep in mind that, those tips above are actually not good and unhealthy to follow. But if you were really in hard financial problem, all those tricks might be considered.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, be a wise person in spending money and always be grateful whatever you have right now. Sometimes t's much easier to complain here and there about our conditions but who gonna listen to those complains? We may feel satisfied after complaining about life, but is that satisfaction that we want? 




Study at Bhavan Degree College with Me !

11:42 PM 1 Comment


 

Sampai sekarang masih tak habis pikir saya bisa kuliah di kampus ini, di kota ini. Jika harus dirincikan lebih dalam lagi, hanya akan menguras hati akan puing-puing masa lalu di Kota Utara tersebut. Sudahlah ! 

Okay, so, since today is Wednesday, and I love Wednesday, saya akan mengajak kalian untuk merasakan kuliah di Bhavan's College selama satu hari. Mari cus kita berimajinasi !

Perkuliahan disini dimulai pukul 10.00 sampai 16.30 khusus untuk Departement of Life Sciences Biasanya saya akan berangkat dari rumah pukul 09.15 dengan berjalan kaki. Saya hobi sekali jalan kaki di pagi hari. Perjalanan ke kampus biasanya 20-25 menit, tergantung kecepatan kaki saya. Jika semakin mendekati hari Minggu maka kecepatan kaki saya akan bertambah. Saya senang kuliah, namun saya juga suka hari libur.

Pukul 09.45 saya sudah sampai di kampus dan setiap pagi di kampus selalu ada assembly. Saat assembly murid akan memanjatkan doa bersama-sama dalam bahasa Sansekerta which I have no any idea at all about that language so I will just stand in line, listen to the prayer, and sometimes, playing Talking Tom. Atau jika saya sedang ingat maka saya akan berdoa menurut agama saya sendiri. Kegiatan doa bersama biasanya dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman oleh principal. 

It's 10.00 so let's go to class. Since it's Wednesday so the first period would be French in Room No. 69.  I love this subject so much. In my opinion, it's really good idea putting non-science subject in the first period. How can we start our morning with something serious? Salah satu mata kuliah wajib di kampus ini adalah second language, dimana kita bisa memilih bahasa yang ingin kita pelajari. Iya betul, saya memilih Bahasa Prancis. Lumayan banyak mahasiswa asing yang memilih Bahasa Prancis sebagai second language mereka. Di kelas ini pula saya bisa berteman dengan banyak mahasiswa non-science seperti mahasiswa Arts dan Commerce. 

11.00 - 12.00 Next class is Microbiology! Mikrobiologi juga merupakan mata kuliah favorit saya. Sejak dahulu ketertarikan saya memang lebih condong ke ladang Biologi. Dosen biasanya akan menjelaskan dan kami akan mencatat. Saya selalu berusaha membuat catatan yang rapi untuk semua mata kuliah Sains, agar ketika ujian saya tidak akan kesulitan untuk mencari dan membaca ulang. 

12.00 - 12.15 Short Break ! not really a break actually. Setiap hari Rabu adalah jadwal kami untuk Praktikum mata kuliah Genetika.Waktu 15 menit ini biasanya akan kami gunakan untuk persiapan praktikum. Tak sedikit dari teman saya yang memanfaatkan short-break ini untuk mengerjakan laporan praktikum. Saya selalu berusaha untuk mengerjakan praktikum tepat waktu supaya tidak kelabakan saat pengumpulan. Time's up ! Time for Lab ! 

12.15 - 14.00 Genetics Lab. Dosen kami menjelaskan bahwa hari ini kami akan mengamati Polytene Chromosome pada larva Diptera. Praktikum selalu dilakukan secara individu. Kami diminta untuk mengisolasi kelenjar air liur (salivary gland) pada tubuh larva Diptera kemudian melakukan pengecatan pada kelenjar tersebut selama 20 menit. Setelah pengecatan selesai, kita harus mengamati kelenjar tersebut dibawah mikroskop dan mencari penampakan Polytene Chromosome. It's kinda tough experiment actually, only very few students are able to find the chromosome, including me.... Thank you...LOL.

14.00 - 14.30 Lunch Break ! Biasanya saya akan ke kantin kampus untuk makan siang bersama teman-teman saya. Makanan kantin favorit saya adalah bonda. Bonda adalah semacam roti yang berbentuk bola dimakan dengan cara dicelupkan ke kuah sambhar. Satu porsi seharga 20 rupees atau 4000 rupiah untuk 4 buah bonda dan kita bebas untuk mengambil kuah sambhar. Saya selalu memesan bonda untuk makan siang karena murah dan mengenyangkan.
14.30 - 15.30 Genetics Class. Again after dealing with genetics in Lab, now we are having Genetics class. You may say that today is Genetics Day ! Berhubung dosen genetika kami sangat disiplin, kami selalu berusaha sudah siap di kelas sebelum pukul 14.30, jika tidak, kami tidak akan diberi poin kehadiran. Saya sebetulnya sangat sengan dengan dosen ini, karena beliau mengajar sangat detail dan mendalam. Saya jarang sekali membaca buku referensi untuk mata kuliah dosen satu ini, karena menurut saya catatan dari beliau sudah lebih lengkap dari pada textbook Genetika yang saya punya. Beliau adalah Head of Departement of Genetics, atau bisa dibilang dekan fakultas Genetika.

15.30 - 16.30 Finally last period, Chemistry! Berhubung chemistry ini adalah kelas terakhir dan dosen kami sudah paham bahwa kami sudah lelah, biasanya beliau akan mengajar maksimal hanya 30 menit saja. Walaupun demikian, pelajaran chemistry sebetulnya cukup santai. Namun tantangannya adalah, dosen kami ini hanya memberikan catatan ala kadarnya saja jadi mau tidak mau kami harus mencari penjelasan lebih lanjut di buku. Karena jika hanya mengandalkan catatan beliau, saat ujian, bisa jadi kami hanya mampu menulis 2 halaman untuk tiap pertanyaan. Padahal rata-rata tiap pertanyaan saat ujian biasanya kami harus menulis 4 - 5 halaman.

Okay guys, I think that's pretty much it for Wednesday's classes and college activities. See you next article !

Alasan Kuliah di India [Part II]

10:05 PM Add Comment

Lanjutan artikel Alasan Kuliah di India [Part I]

 
Institute of Advance Studies, Himachal Pradesh

 

Hampir Semua Dosen Sudah Mengantongi S3

Hal ini sudah biasa bagi India. Mengingat etos belajar mereka yang sangat tingi, tak heran jika hampir semua dosen sudah bergelar S3 bahkan banyak pula yang malah sudah menempuh Post-Doctoral. Saya pun agak tercengang saat pertama kali masuk kuliah di semester pertama, dosen yang mengajar kamipun sudah S3 semua. "Wah beruntung banget ya, S1 saja sudah diajarin sama dosen sarjana S3," batin saya saat itu. Ketika naik ke semester 2, kami diajar oleh mantan dekan yang sudah doktor. Benar-benar terlihat kesan ke"doktor"an nya saat mengajar kami. Tegas. Detail. Out of the box.

Dosen Rajin-rajin

Saat saya kuliah di Jogja kadang saya jengkel sendiri dengan dosen yang sering absen lantaran sangat sibuk. Biasanya tugas mengajar sang dosen akan dilimpahkan ke asisten dosennya. Namun ketika saya disini, fenomena sungguh terbalik. Dosen disini benar-benar fokus untuk mengajar. Tidak pernah disambi-sambi penelitian ini itu. Kalaupun dosen tersebut sedang melakukan penelitian, biasanya mengajar lah yang dinomor satukan. Saking fokusnya dengan mahasiswanya, kalau kami masih kurang paham dengan materinya kami bisa mengajukan jam tambahan dan dosen kami selalu siap.

Selain itu dosen disini hanya fokus mengajar pada satu institusi saja jadi beliau akan selalu ada di kantor hingga jam kampus usai. Jadi sangat mudah sekali jika ingin menemui dan berinteraksi dengan para pengajar.

Standar Nilai yang Tinggi

Jika kalian belum pernah tau tentang sistem ujian di Negri Gandhi berikut saya jelaskan sekilas.

Sistem ujian di India memang nampaknya agak mengerikan saat didengar. Pernahkan kalian menulis (tulis tangan) lembar jawaban ujian hingga 25-30 halaman dalam waktu 3 jam sekali duduk tanpa istirahat? Itulah yang kami lakukan saat ujian akhir semester. Mungking kalian akan bertanya-tanya apa saja yang kami tulis dalam lembar jawab sebanyak itu? Sebetulnya pertanyaan yang keluar saat ujian bersifat umum, misalnya begini "Write about Cyanobacteria." Yup. Pertanyan memang terkesan simpel sekali, cukup tiga kata saja. Namun jangan sangka, jawaban untuk soal tersebut bisa sampai 5 halaman lebih. Ketika pertanyaan semacam itu keluar, dan rata-rata pertanyaan yang diajukan memang sejenis itu, maka yang harus ditulis pada answer sheet adalah definisi Cyanobacteria atau blue-green algae, klasifikasi, mode of nutrition, reproduction, salient features, economic important, dan gambar susunan tubuh Cyanobacteria. 

Untuk urusan nilai sendiri memang cukup sulit. Standar nilai minimal untuk lulus adalah 40 dari 100. Sekilas memang terlihat rendah, namum justru karena dalam satuan angka dibuat rendah, maka pemberian nilainya pun benar-benar diperketat. Saya dulu pas awal-awal kuliah di India, mendapat nilai 40 saja sudah senang .

Beasiswa ICCR: Gampang-gampang Susah !

7:51 AM 9 Comments

Pengalaman Berburu Beasiswa : ICCR India !

Manali, Himachal Pradesh, India

 

Mungkin bagi kalian yang sekarang membaca ini, pasti sedang dirundung kebingungan ya karena sibuk mempersiapkan berkas untuk ICCR ? Yap ! Beasiswa ICCR 2017-2018 sudah dibuka! Deadline tanggal 10 Januari 2017. Hurry up !

Jika masih bingung terkait prosedur pendaftaran ICCR bisa mampir ke tulisan saya Beasiswa ICCR 2017/2018 DIBUKA ! karena sudah saya jabarkan secara men..de..tail :))

Saya penerima beasiswa ICCR angkatan 2014 -2016 untuk jenjang S1 jurusan Sains. Angkatan saya hanya 6 orang yang diterima untuk S1 dan mayoritas adalah S2, jadi memang kesempatan untuk S2 lebih besar. 

Sebelumnya saya belum pernah mendaftar beasiswa manapun jadi bsia dibilang ICCR-lah yang pertama. Namun tekad untuk berkuliah di luar negeri memang sudah terpatri sejak saya masih SMP dan sudah mantap dengan pilihan kuliah S1 di India sejak masih SMA. Walaupun sempat kuliah di kota tinggal saya juga, Jogja :D

Pengalaman Persiapan Berkas

Saat itu saya menyadari bahwa beasiswa ICCR sedang dibuka adalah satu minggu sebelum tanggal penutupan. Jadi ya pengalaman saya dalam mengumpulkan berkas ini lumayan ketar-ketir apalagi sedang musim UAS di kampus saya. Hal yang saya lakukan pertama kali saat itu adalah mencari informasi seputar tes TOEFL, karena TOEFL adalah hal yang sangat esensial bagi hampir semua jenis beasiswa luar negeri. Beruntunglah saya saat itu ELTI sedang membuka Tes TOEFL ITP dalam waktu 3 hari kedepan, saya langsung ambil ! Karena waktu saya untuk mempersiapkan segalanya hanyalah 1 minggu ! Pengalaman saya ikut tes TOEFL 'sungguhan' untuk ICCR bisa dibaca juga di Pengalaman Pertama Mengikuti Tes TOEFL untuk Beasiswa !

Hal kedua yang lumayan menguras otak dan uang adalah tes kesehatan. Karena pada formulir kita diwajibkan untuk mengisi lembar cek kesehatan. Awalnya saya mencoba untuk minta dokter di klinik kampus saya untuk melakukan check-up seperti yang tertera di formulir, namun si dokter menjelaskan bahwa beliau tidak bisa melakukan semua check-up karena keterbatasan fasilitas di klinik. Tanpa berfikir panjang akhirnya saya menuju RSUP Sardjito di Yogyakarta. Benar saja, ternyata RS tersebut sudah sering melayani pelanggan yang hendak ke India juga untuk ICCR. Dokter di RS menunjukkan saya formulir-formulir ICCR lama milik para pasien sebelumnya. Akhirnya saya relakan uang Rp 400.000,- demi check-up tersebut. 

Berkas lain yang lumayan menyita waktu adalah mencari penerjemah tersumpah harga terjangkau. Saya harus browsing sana sini. Selain itu surat rekomendasipun juga harus saya pikirkan sendiri karena kepala sekolah saya minta supaya saya buat draft nya dulu nanti  tinggal di berik kop surat dan ttd beliau he..he.. lumayan lembur untuk menyusun 2 surat rekomendasi karena saya belum pernah membua surat rekomendasi berbasa Inggris sebelumnya, jadi lagi-lagi harus rajin browsing sana-sini.

Sempat ada kekhawatiran juga karena tidak ada kepastian kapan hasil TOEFL dan tes kesehatan akan keluar. Tes TOEFL dan hasil tes kesehatan keluar sehari sebelum deadline. Setelah melihat hasil tes TOEFL saya cuma meringis-meringis kecut dan segera ke JNE untuk mengirimkan berkas. Saya pakai jasa one-day delivery untuk mengirimkan berkas ke Indian Embassy Jakarta. Saya sangat bersyukur saat tahu berkas saya sudah sampai tepat pada waktunya.

Tes Bahasa Inggris dan Wawancara di Kedutaan India - Jakarta

Sekitar dua minggu setelah penerimaan berkas, saya mendapatkan email panggilan untuk wawancara. Email dari kedutaan India bisa dibaca pada gambar dibawah 



Akhirnya segeralah saya memesan tiket bus ke Jakarta untuk tes wawancara. Saya cukup kaget karena rata-rata yang mengikuti tes sudah jauh lebih tua dari saya. Maklum karena saat itu saya hanyalah mahasiswa semester 2

Beruntungnya kami pada saat itu tidak ada tes wawancara karena kepala bagian pendidikan Indian Embassy sedang sibuk jadi kami hanya diminta untuk berdiri dan memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris. Lucky me ! :D Setelah itu kami mengikuti tes bahasa Inggris. Tes bahasa Inggris seputar grammar dan menurut saya sangat mudah karena pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan masih sangat basic. Setelah itu kita diminta untuk menulis esai dalam bahasa Inggris tentang topik yang sudah diberikan. Ada dua topik yang diberikan dan kita hanya diminta untuk memilih salah satu. Topik yang diberikan adalah 'kenapa Anda ingin kuliah di India' dan 'Ingin jadi apa Anda di masa depan' (kalau tidak salah ingat). 

Pengumuman Hasil

Rentang waktu tes wawancara dan hasil memang cukup lama.Saya mendapatkan email acceptamce letter pada akhir Juli. Namun beberapa teman saya juga ada yang bulan Juni sudah mendapat pengumuman. Jadi untuk teman-teman yang mendaftar ICCR siap-siap untuk mantengin email di bulan Juni - Juli ya :D

Berikut saya sertakan screenshoot email dari Kedutaan India terkait hasil penerimaan beasiswa.

     


Beasiswa ICCR S1 - S3 Tahun 2017/2018 DIBUKA !

5:37 AM 58 Comments


BEASISWA ICCR S1-S3 TAHUN 2019-2020 SUDAH DIBUKA. DEADLINE: 28 FEBRUARI 2019. BACA PERSYARATANNYA DISINI


*****************************************************************************

Prosedur Lengkap Pengajuan Beasiswa ICCR 2017-2018

Seputar Beasiswa ICCR

Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah lembaga resmi pemerintah di bawah Ministry of External Affair, India. Setiap tahunnya ICCR memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa dari negara berkembang termasuk Indonesia. 

Total penerima beasiswa setiap tahunnya hampir 500 orang. Untuk Indonesia slot yang tersedia adalah 22 kursi per tahun dari jenjang S1-S3.

Pelamar beasiswa bebas memilih jurusan yang diinginkan. Khusus untuk Kedokteran dan Kedokteran Gigi pemerintah India tidak menyediakan beasiswa.

ICCR menanggung semua biaya pengeluaran selama di India antara lain biaya visa, SPP, uang saku bulanan, uang buku, biaya kesehatan, uang penelitian, dll. Uang tiket pesawat ditanggung oleh penerima beasiswa.

Untuk general instruction lebih lanjut bisa lihat disini.

Cara Mengisi Formulir (step by step)

Formulir bisa di download disini

Halaman 1 :
pada halaman pertama kita di minta untuk memilih skema beasiswa. Hampir semua mahasiswa Indonesia menggunakan skema General Scholarship Scheme (GSS), jadi tandai saja pada box GSS. Bagian paling bawah pada halaman 1 jika kita mendaftar S1 maka tandai kotak UG (Under Graduate), S2 tandai kotak PG (Post-Graduate), S3 pilih Ph.D, atau Ayurveda maka tandai pada kotak Ayush.

Halaman 2 : 
berisi Check List for Mission dimana kita harus menandai semua berkas yang kita lampirkan. Setiap berkas kita copy menjadi 6, sehingga akan ada 6 bendel aplikasi dan tiap bendel harus kita lampirkan lembar Check List for Mission.

Halaman 3 : 
tidak perlu diisi namun harus kita lampirkan.  

Halaman 4 : 
berisi instruksi pengisian formulir. Tidak usah dilampirkan namun harus dibaca dengan teliti dan hati-hati. Kompetisi pertama dalam mendapatkan beasiswa adalah dalam hal ketelitian dan kecermatan membaca instruksi.

Halaman 5 : 
mengisi data diri (poin 1-8) ; nama, jenis kelamin, kontak detail, permanen home (alamat rumah, bukan alamat kos), TTL, kebangsaan, No. passport (saat saya mendaftar dulu passport saya belum jadi alhasil saya tidak melampirkan berkas ini namun pada formulir saya isi "on going" atau "on process"), data orang tua/wali.

Halaman 6 :  
Mengisi data diri (poin 9 - 13)

Poin 9 : Knowledge of proficiency in English. TOEFL minimal yang diperlukan untuk pendaftaran adalah 500. Jenis TOEFL yang dipakai at least TOEFL ITP. Jika TOEFL kita sudah diatas 500 maka tandai saja keterangan "good".

Poin 10 : Knowledge of Other Language. Kalau bisa bahasa asing lain selain English boleh diisi. Bisa dikira-kira saja level nya. Saya dulu French karena berhubung saat SMA mendapatkan pelajaran Bahasa Perancis "poor" karena Bahasa Perancis saya biasa saja walaupun kalau ujian selalu diatas 9.

Poin 11 : Proficiency in games,sport, etc dan extra-curricular activities. Silahkan diisi sesuai kemampuan. Jika tidak muat maka bisa diketik di kertas terpisah.

Poin 12 : Order of Preference for Universities. Bisa diisi sesuai pilihan masing-masing. Saya dulu pilih Delhi University, Aligarh Muslim University, dan Mumbai University. Harus diingat bahwa urutan pertama merupakan universitas yang paling kita prioritaskan. List kampus yang di tanggun oleh ICCR bisa dilihat disini

Poin 13 : Order Preference of Courses. Urutan opsi jurusan yang kita ambil. Bisa jurusan apa saja kecuali Kedokteran Umum dan Kedokteran Gigi. Saya dulu pilih Biomedical Sciences, Microbiology, dan Biochemistry. 

Halaman 7 :
Berisi kolom pendidikan sebelumnya. Jika mendaftar untuk S1 maka isi baris pertama saja. Jika mendaftar S2 isi baris ke 2 saja dan jika mendaftar S3 isi baris ke 3 saja. Untuk kolom percentage bisa diisi nilai rata-rata UN dalam bentuk persen (untuk pendaftar S1). Misal rata-rata UN adalah 8,1 maka di formulir bisa diisi 81%. Untuk pendaftar S2 bisa diisi skor IPK dalam persen, misal IPK adalah 3,5 dari 4,00 maka jika dibuat dalam persen adalah sekitar 87%.
Halaman 8 :
Cukup jelas
Halaman 9 - 11 :
Berisi Certificate of Physical Fitness. Diisi oleh Rumah Sakit, Klinik, atau Dokter. 

Pengiriman Berkas

Seluruh berkas dimasukkan dalam amplop dan dikirimkan ke alamat Education Wing, Embassy of India, Jl. H.R. Rasuna Said, Kav. S-1, Kuningan, Jakarta Selatan 12950 paling lambar 10 Januari 2017.

Wawancara dan Tes Bahasa Inggris

Jika berkas kita memenuhi syarat maka kita akan mendapat panggilan untuk wawancara dan tes bahasa Inggris. Tes dan wawancara akan diberitahukan via email. Jadi setelah penerimaan berkas ditutup bisa mulai rajin-rajin cek email. Biasanya hanya jeda 1-2 minggu saja setelah pendaftaran ditutup.

Persiapkan sebaik mungkin untuk wawancara dan tes bahasa Inggris. Berdasar pengalaman tes bahasa Inggris tidak terlalu sulit bahkan bisa dibilang mudah. Kita juga akan diminta membuat esai dalam bahasa Inggris tentang topik yang diberikan.

Pengumuman

Pengumuman penerimaan beasiswa akan dimulai pada bulan Juni - Juli tergantung universitas yang kita tuju. Pemberitahuan bahwa kita diterima akan disampaikan melalui email oleh Indian Embassy. Kalau saya dulu via email dan telepon. Pada email tersebut sudah tertera jurusan dan univeristas dimana kita diterima. 

Kita akan diminta mengirimkan undertaking letter via email ke kedutaan India bahwa kita positif dan bersedia menerima beasiswa tersebut. Format undertaking letter ada disini.

Keberangkatan ke India

Jika sudah positif diterima maka kita akan diminta untuk membuat visa. Pihak kedutaan India akan memberi tahu prosedur untuk mendapatkan visa. Saya sarankan sebelum berangkat untuk mengontak PPI India (Perhimpunan Pelajar Indonesia di India) terkait penjemputan di bandara India apabila pihak ICCR tidak melakukan penjemputan.

Sebelum berangkat ke India alangkah baiknya juga membaca Handbook for Studying in India, bisa download disini