Skip to main content

The Hardest Moment in India: My Transition from Delhi to Hyderabad

 
Suhu mendung di Kota Hyderabad cukup membuat saya betah mengadukan jemari saya untuk menulis. Jujur saja, kota ini adalah bagian dari turning point alias titik balik kehidupan saya. Bersama dengan kota ini seolah Tuhan sedang mengajak saya untuk lebih banyak berjalan dan memunguti ilmu-ilmu yang berceceran disini.

Bicara soal turning points saat ini saya sedang menyelesaikan membaca buku tulisan mantan presiden sekaligus ilmuan terhebat India, A.P.J Abdul Kalam berjudul Turning Points. Beliau adalah perancang kendaraan peluncur satelit India SLV-3 yang kemudian berhasil meluncurkan satelit Rohini pada 1980. Kapan-kapan saya akan buat tulisan tentang Abdul Kalam.

Oke, kita kembali ke judul utama. Kejadian ini bermula di Delhi, yang saya sebut "kota lalu". Lebih tepatnya di Kantor Imigrasi atau Foreign Regional Registration Office (FRRO) New Delhi. Saat itu bulan Juli 2016 saya mengajukan "proposal" kepindahan saya ke Hyderabad. Mau tidak mau saat itu saya harus menghadap imigrasi sebab visa saya nyaris kadaluarsa. Tanpa basa-basi migrasi menolak permohonan saya dengan alasan saya sudah tidak eligible lagi untuk kuliah disini. 

Sejak awal saya sudah menyadari keputusan besar ini tidak akan mudah. Sangat beresiko. Kemungkinan gagal sangat besar. Mundur dan menyerah akan selalu searah. Saya sudah pikirkan semua resiko-resiko pahit tersebut. Namun, kali ini saya membuat keputusan besar bersih dari rasa ragu.

Sebagai gantinya mereka dengan tegas mengatakan, "We will give you exit permit instead." Saya diam sejenak mencerna kata demi kata yang baru saja saya dengar. Exit Permit? Itu artinya saya akan dipulangkan ke Indonesia. Seketika itu saya tidak mampu lagi membendung perasaan sakit hati. Percobaan pertama datang ke imigrasi 'disambut' dengan jawaban yang sungguh diluar antisipasi. Saya menangis sejadinya di kantor imigrasi. Tak habis pikir saya pernah tidak tahu malu di negara orang lain. 

Dengan nada terbata saya tetap mencoba meyakinkan mereka. "Sir, I have promised myself, I will not go back to Indonesia without my degree. I will prove it. But if you didn't give me a chance, how will I prove?". Entah apa yang ada dipikiran pegawai imigrasi tersebut akhirnya saya diminta menghadap ke atasannya. Mungkin dia merasa malu juga menjadi pusat perhatian di kalangan warga-warga asing di kantor tersebut akibat tingkah kekanak-kanakan saya.

Saya menghadap sang atasan. Beliau terlihat lebih ramah. Saya merasa sedikit teduh saat pertama kali hendak berbicara padanya. Saya mencoba untuk tidak menangis. Saya sangat anti menunjukkan aura kesedihan di hadapan orang lain apalagi menangis. Dengan nada suara lebih ramah dan bersahabat, "Haan beta, tell me." (Haan = yes; beta=nak). Saya ceritakan kembali tujuan saya ke imigrasi dan kondisi keuangan saya sudah habis-habisan untuk mengurusi biaya ini itu. Beliau lalu mempelajari berkas-berkas saya dan mempersilahkan duduk. Lima belas menit beliau membawa berkas saya kesana kemari, saya kemudian dipanggil. Beliau menjelaskan bahwa imigrasi Delhi tidak bisa memperpanjang visa saya. Sebagai gantinya mereka akan mengeluarkan Transfer Certificate (TC) untuk saya bawa ke kantor imigrasi Hyderabad dimana nantinya kantor tersebut yang akan memperpanjang visa sekaligus menerbitkan Resident Permit baru untuk tinggal disana. Saya bingung harus berterimakasih atau bernegosiasi lagi. Saya berprasangka bahwa mereka sedang mengalihkan urusan saya ke imigrasi Hyderabad. Dengan kata lain  mereka tidak ingin ambil pusing dengan masalah saya.

I decided to thank him instead of negotiating. Saya diminta mengumpulkan beberapa berkas wajib secepatnya sebab visa saya hanya tinggal 2 minggu. Artinya saya sudah harus memperpanjang visa di Hyderabad sebelum dua minggu. Itupun kalau urusan di imigrasi Hyderabad lancar, kalau tidak? Sudahlah itu urusan nanti. 

Beberapa surat yang harus segera saya dapatkan adalah surat keterangan polisi setempat, surat keterangan dari landlord (bapak kos), dan surat keterangan pindah dari pihak akademik kampus. Surat dari landlord sangat mudah saya dapatkan. Surat keterangan dari polisipun tidak ada kesulitan berarti. YES. The most challenging part was in my old campus, Delhi University. Permohonan untuk surat keterangan pindah saya sempat ditolak oleh kampus saya sendiri. Alhasil saya harus menghadap orang ini dan itu. Walaupun akhirnya permohonan saya dipenuhi, mereka meminta saya datang lagi setelah dua minggu. Gila saja saya jika saya harus menunggu dua minggu hanya untuk satu surat. Belum lagi visa saya juga tinggal dua minggu. Sebisa mungkin saya negosiasi untuk mempercepat pembuatan surat karena memang kondisi yang cukup mendesak. Saya memang tidak tau malu. Sudah merepotkan pihak kampus, masih nawar pula. Saya tidak peduli. Akhirnya saya hanya menungu waktu selama satu minggu. 


Satu Minggu Bersama ICCR
Selama satu minggu itupun saya tidak bisa hanya berdiam diri di kamar. Saya harus bolak-balik ke kantor ICCR. Dari rumah ke ICCR saya harus menempuh metro atau kereta bawah tanah dua kali. Lalu berjalan sekitar 1.5 kilometer ke kantor ICCR. Saat itu memang sedang puncak musim panas. Sering sekali kepala saya sakit karena panas, lelah, dan beban pikiran yang berakumulasi menjadi satu.

Drama di ICCR pun cukup membuat saya cengeng. Saat itu saya diruang direktur program ICCR lantai dua. Hanya saya, beliau, dan satu staf nya. Saya menawarkan solusi. Mereka mengungkit masalah uang. Saya memahami posisi saya saat itu. Saya memang diposisi sebagai pihak yang membutuhkan sehingga bergaining position saya lemah.  Saya hanya pasrah namun mereka terlihat sedikit angkuh. Sang staf berkata dengan begitu serius.

"You have to return 30 thousands Rupees right now."  

Saya jawab, "I have nothing left. What do you expect from me?". Entah bagaimana saya bisa mengatakan hal tersebut dengan sangat yakin.

"We can't help you then." Mereka mengatakan hal tersebut dengan sangat tenang namun terkesan agak remeh. Mereka pikir saya akan merengek memohon meminta belas kasihan. Mereka tahu saya memang sudah tidak punya apa-apa. "It's about office thing, you won't understand." kata sang program director dengan "bangga" nya seolah saya memang tidak tahu apa-apa supaya saya terlihat sedikit bodoh dan mau menyerahkan 30 ribu Rupees begitu saja. Saya merasa hanya buang-buang waktu disini. Akhirnya, saya jawab dengan nada percaya diri dan tanpa beban, "It's okay, Sir ! I will still graduate from India with or without ICCR! Thank you !" 

Satu hal yang membuat saya tidak takut mengatakan hal demikian kepada ICCR adalah, sejak awal ICCR memang tidak tertarik membicarakan solusi. Berbagai macam solusi saya ajukan namun topik yang mereka ajukan hanya sebatas uang dan uang. Disisi lain masih memungkinkan bagi saya jika untuk tetap kuliah tanpa ICCR. Entah saya akan mencari kerja kesana kemari. Saya sudah berbekal pengalaman yang lumayan untuk bekerja disini. Saya paham ini memang nekad.

Tak lama kemudian mereka memanggil saya dan meminta saya untuk meninggalkan nomer telpon. Saya berikan nomer saya. Saya ucapkan terimakasih dan pergi dengan mata setengah basah dan perasaan yang biasa saja.

Satu mingu saya habiskan di ICCR tanpa hasil yang bisa dipastikan. Namun saya tetap merasa puas karena paling tidak saya mencoba. Mencoba segala hal yang bisa saya lakukan. Memang tidak semua proses memberikan hasil sesuai rencana kita, namun ketidaksesuaian itulah yang sebetulnya hasil rencana Tuhan. Biarlah Tuhan urus hasilnya. Urusan proses dan kerja keras biar saya lakukan. 

Satu Minggu Terakhir di Delhi
Setelah satu minggu saya bergegas ke kampus untuk mengambil surat yan sudah dijanjikan kampus. Saya senang mereka menepatinya walaupun saya tetap harus menunggu selama tiga jam. Saya gunakan tiga jam tersebut untuk jalan-jalan di taman kampus dan ke kantin. Dari pada saya bolak balik pulang kerumah hanya akan membuang uang Rp 24k (Rs 120) untuk transport. 

Pukul 2 siang saya dapatkan surat dari kampus. Bergegas saya ke kantor imigrasi di wilayah R.K. Puram Sector 1 tersebut. Saya serahkan semua berkas saya kepada staf dan saya diminta untuk kembali lagi besok. Mereka bilang saya sudah bisa memesan tiket kereta ke Hyderabad dan mereka akan membuatkan transfer certificate. Saya pulang dengan perasaan gembira. Saya mempersiapkan segalanya selama satu hari itu. 

Keesokannya saya kembali ke imigrasi dengan wajah ceria. Pihak penjaga imigrasi sudah hafal dengan saya sehingga membiarkan saya masuk tanpa membawa nomor urut. Saat saya menghadap sang atasan, mendadak beliau mengatakan, "Please cancel your train to Hyderabad." 

Dalam sekian mili detik keceriaan saya musnah. "What happened??!"

"Please get one more letter from your college regarding the verification of your previous letter." Beliau menjelaskan dengan raut muka yang cukup menunjukkan rasa sedih.

"What verification letter? The previous letter is original from my college. I am not cheating." Saya berusaha meyakinkan.

"I understand. But this is necessary. I will give you a request letter from FRRO addressed to your college to issue a verification letter."

Tanpa komplain ini itu saya segera mengiyakan permintaan beliau. Saya sadar saya tidak punya banyak waktu jika harus komplain atau marah dan sebagainya. Saya penuhi saja apa maunya. 

Langsung saya bergegas ke kampus lagi. Bertemu dengan karyawan yang sama. Saya tahu dia bosan melihat saya. Saya utarakan maksud kedatangan saya. Saya diminta menghadap direktur akademik besok sebab beliau sedang libur hari ini. "My God!" batin saya. Saya mencoba bernegosiasi kalau memang tidak perlu ketemu dengan direktur akademik lebih baik tidak usah ketemu. Jangan membuat-buat alasan. Namun karyawan tersebut tetap dengan jawaban yang sama. Ya sudah. Saya cukup memahami posisi dia sebagai karyawan. Karena saya sendiri juga pernah menjadi seorang karyawan saat di Delhi. 

Saya pulang.

Saat itu adalah H-4 visa saya kadaluarsa. Saya hanya pasrah. Tidak ada pilihan lain. Saya memikirkan bagaimana sampai ke Hyderabad kurang dari 3 hari. Perjalanan via kereta dari Delhi ke Hyderabad memakan waktu hingga 30 jam. Sekitar 3 hari dua malam. Saya mulai memikirkan biaya pesawat ke Hyderabad. 

Keesokannya saya ke kampus lagi. Menemui direktur akademik. Beliau sangat ramah dan berusaha membantu saya. Saya sangat bersyukur. Dia berjanji akan membuatkan verification letter hari ini juga. Saya makin bersyukur. Saya diminta menemui karyawannya lagi terkait surat saya. Karyawan tersebut mengatakan dalam dua jam surat saya sudah jadi. Saya tunggu dua jam. Setelah dua jam saya menemui karyawan tersebut lagi. Karyawan tersebut meminta saya menunggu dua jam lagi. Saya menarik nafas panjang. Sabar. Saya tunggu lagi. Saat itu pukul 4 sore dan surat saya sudah jadi. Saya mengucapkan terima kasih dan pergi ke imigrasi. Saya nyaris tidak pergi ke imigrasi karena sudah hampir mendekati closing hour. Pahit-pahitnya saya akan disuruh datang lagi besuk. Namun perasaan saya tetap memaksa saya untuk pergi. Setidaknya mencoba. 

Saya turun dari bajaj dan langsung berlari ke kantor imigrasi. Belum tutup. Dengan nafas tengsegal-sengal saya menemui beliau lagi. Kemudian saya diminta menemui orang yang duduk di ruangan bertuliskan "Authorization Office". Saya agak gugup. Perasaan saya tidak enak.

Benar firasat saya. Tidak ada dua menit orang tersebut menolak semua berkas saya. Saya diminta pulang ke Indonesia. Jujur dalam hati saya sangat emosi. Saya berani saja marah-marah dan menyumpahi dia macam-macam. Dari mukanya saja sebetulnya sudah tidak ramah dan kurang mengenakkan. Saya sempat heran bagaimana bisa orang macam tersebut bisa menduduki jabatan yang penting di kantor imigrasi. Saya berusaha mengendalikan emosi dan menerima semua berkas saya yang ditolak. Saya genggam semua berkas-berkas tersebut. Ada sedikit perasaan sesak dan sakit dalam tenggorokan dan dada saya. Walaupun berkas sudah ditolak namun tidak pernah muncul pikiran sedikitpun bahwa saya akan gagal.

Saya adalah customer terakhir di kantor imigrasi sejak sejam yang lalu. Saya masih duduk setengah lemas karena belum makan apapn sejak pagi. Tak lama kemudian seseorang dengan wajah teduh menghampiri saya. Beliau sangat ramah sangat berwibawa dengan pakaian seragam imigrasi. Beliau bertanya apa yangs telah terjadi. Saya menceritakan kembali kondisi saya. Saya sebetulnya sudah sangat lelah mengulang-ulang cerita yang sama dan nampaknya beliau paham saya sudah lelah. Beliau meminta salah satu tukang konsumsi kantor untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk saya. Saya merasa tenang. Dengan sedikit energi dari secangkir teh, saya bercerita kembali. Tidak sampai saya selesai bercerita, beliau meminta semua karyawan untuk memenuhi permintaan saya. Para karyawan yang sedang santai-santai nya minum teh karena sebetulnya kantor sudah tutup harus kembali menatap layar komputer untuk mengurusi saya seorang. Ya, semua karyawan kembali bekerja hanya untuk saya. Saya melihat tingkah para karyawan yang tergesa-gesa dengan urusan komputernya. Tak sampai lima belas menit Transfer Certificate saya selesai. Saya diminta segera ke kantor imigrasi Hyderabad menunjukkan TC untuk perpanjangan visa saya. Saya merasa cukup lega walau masih ada rasa khawatir bagaimana urusan saya di Hyderabad. Tapi ya sudah. Itu nanti. Saya berterima kasih kepada beliau yang sangat ramah kepada saya. Saya menebak beliau adalah direktur di kantor imigrasi tersebut. Saya menyalami semua karyawan termasuk direktur dan pulang dengan perasaan cukup haru dan syukur.

Saya tiba dirumah dengan kondisi demam dan tidak bisa makan. Saya memang menderita asam lambung akut sejak kecil. Apapun yang saya makan pasti akan saya muntahkan lagi. Dengan mata setengah tertutup saya memesan tiket pesawa ke Hyderabad untuk besok subuh. Tidak mungkin saya ke Hyderabad malam ini dengan kondisi tubuh seperti ini. Akhirnya pesawat pun sudah dipesan untuk penerbangan pukul 05.00 ke Hyderabad. Saya harus merogoh koceng hingga Rs 1,6 juta rupiah (Rs 8000) hanya untuk penerbangan dua jam ke Hyderabad. Saya memang kelebihan bayak sekali bagasi karena barang-barang dan buku saya sangat banyak.

Di Kantor Imigrasi Hyderabad
Saya bersyukur sekali lagi dipertemukan dengan karyawan yang sangat ramah di kantor imigrasi Hyderabad. Saya sempat takut prosesi saya akan memakan banyak waktu lagi. Namun disini semua berjalan mulus dan lagi urusan saya di kampus pun juga cukup lancar. Saya tidak pernah merasa selancar ini selama menghadapi birokrasi India yang terkenal sangat berbelit.

Saya membuktikan bahwa Tuhan Maha Adil. Hingga detik saya menulis cerita inipun saya masih merasakan maha dasyat nya pertolongan Tuhan. Saya tahu ini terdengar agak sok gimana gitu namun sejak saat itu saya selalu percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Kita semua percaya bahwa nothing is impossible namun seberapa banyak dari kita yang betul-betul membuktikannya? 

Cerita diatas memang terdengar biasa saja saat dibaca, karena tujuan saya menulis memang bukan untuk membuat para pembaca terkesima atau merasa "wow" dengan kejadian tersebut. Tujuan saya membuat cerita ini karena saya ingin berlatih menulis. Itulah kenapa saya buat blog, supaya orang lain bisa membaca dan minimal memberi masukan kecil. Because living is learning.


 - T H E  E N D  -

Kamu belum berusaha maksimal jika kamu belum lelah, sakit, atau menangis. (Rahma, 2016)

Comments

  1. "Kamu belum berusaha maksimal jika kamu belum lelah, sakit, atau menangis"

    Saya tau ini rasanya gimana.. ^_^

    ReplyDelete
  2. Keren kaa aku suka bgt bacanya. Semangat terus ka kuliahnya. Jujur aku baca blog kaka jd keinspirasi jugaa ternyata kuliah diluar itu ga gampang sama sekali

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…