Skip to main content

Apa bedanya Kuliah di Indonesia dan India??!


Pernah nonton film "3 Idiots" ? Itu adalah salah satu film India yang sempat booming di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Sebenernya film itu lumayan mencerminkan sistem pendidikan disini sih dimana belajar menjadi salah satu sumber pressure disini. 

Oh iya, kali ini aku pakai bahasa yang lebih casual aja ya. Bosen pake bahasa formal terus.

Sebelumnya aku mau kasih tau kalau aku sempat kuliah di Indonesia selama setahun. Jadi ya aku lumayan punya pengalaman soal perkuliahan di Indonesia. 

Tulisan ini murni dari pengalaman aku sendiri. Jadi aku akan lebih menceritakan perbedaan diriku saat kuliah di Indonesia dan diriku saat kuliah di India dalam hal cara belajar dan kehidupan perkuliaan. Perlu diingat juga bahwa tulisan ini nggak bisa jadi standar karena pengalaman tiap orang beda-beda, namun bisa dijadikan salah satu referensi.  

Semua poin yang aku tulis dibawah adalah hal-hal yang menurutku masuk dalam kategori kelebihan. Bisa jadi menurut kalian hal-hal berikut justru malah menjadi kekurangan, which is totally fine. Everyone has opinion

Aku bikin tulisan ini bukan berarti aku jelek-jelekin Indonesia. Bukan. Jujur aja, aku kuliah disini juga murni dalam rangka supaya bisa berkontribusi untuk pembangunan Indonesia terutama dalam hal saintek nya. So, buat ngimbangin, kapan-kapan aku buat tulisan tentang kekurangan kuliah di India. Got it? Okay let's get started !

Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris
Bahasa, adalah salah satu perbedaan yang paling kentara yang aku hadapi pertama kali. FYI, India dulu bekas jajahan Inggris, jadi nggak heran kalau rakyatnya banyak yang fasih berbahasa Inggris. Tak heran pula Bahasa Inggris menjadi bahasa resmi pemerintahan, pendidikan, politik, dll. Yang aku rasakan saat pertama kali kuliah di India adalah, aku belum terbiasa dengan scientific English. Percaya atau nggak, kemampuan scientific English ku bisa dibilang nyaris nol. Secara di Indonesia semua istilah-istilah sains sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misal, dalam bahasa Indonesia kita menyebut Alkana, Alkena, dan Alkuna. Nah, dalam bahasa Inggris adalah Alkane, Alkene, Alkyne. Jauh banget kan bedanya?

Jam Kuliah Indonesia vs Jam Kuliah India
Terkait jam perkuliahan, aku akan cerita lebih banyak untuk yang jenjang undergraduate aja alias S1 karena untuk jenjang tersebut jam kuliahnya memang beda. Kalau kuliah di universitas di Indonesia biasanya jam perkuliahan nggak saling berurutan kan ya? Misal hari Senin kuliah cuma jam 10.00 sama jam 14.00, gitu kan ya? Nah, untuk jenjang S1 disini kuliah betul-betul full day hampir mirip kayak SMA. Kalau aku sendiri kuliah dari Senin - Sabtu jam 10.00 sampai jam 16.30, kecuali hari Sabtu cuma sampai jam 15.30 (tapi tetep aja sore sih). Hari Senin sampai Jum'at ada 4 kelas teori dan 1 kelas laboratorium. Satu kelas teori biasanya 60 menit dan untuk lab selama 120 menit. Hari Sabtu kita sama sekali nggak ada lab, jadi cuma kelas teori aja sampe jam 15.30. 

Powerpoint vs Mencatat
Selama aku kuliah di Indonesia aku jarang banget punya catatan. Kita biasanya cuma ngandelin fotokopian ppt dosen. Sebenarnya aku nggak suka kuliah diajarin pake ppt karena kadang ada dosen yang cuma asal baca ppt doang. Sebel. Kalau di India? Berhubung di India sistem nya adalah note-oriented (S1 maupun S2), jadi selama 60 menit perkuliahan, sekitar 40 menit dosen akan menjelaskan dan 20 menit beliau akan mendikte catatan untuk kita. Kita dilarang untuk mencatat saat dosen menjelaskan karena penjelasan dosen kaitannya dengan pemahaman. Selama 20 menit mencatat tersebut, biasanya kita bisa menulis sekitar 4-5 halaman, itu baru satu mata kuliah. Aku pribadi lebih suka dengan metode mengajar yang seperti ini. Manual.


Internet vs Buku
Saat aku masih kuliah di Indonesia, kehidupan belajar ku selalu via internet. Belajar apapun dari internet. Dikit-dikit wikipedia. Kalau ada tugas membuat makalah, pasti sumber pencarian utama adalah internet. Mending-mending kalau ngerjakan makalahnya pakai ebook atau jurnal, lha ini aku ngerjakan makalah nyontek blogspot orang lain. Kayak gitu aja aku masih bisa dapet IPK 3,65. Heran. 

Lalu bagaimana setelah di India? Betul sekali. Untuk urusan kuliah, aku udah jarang banget buka internet. Sumber utama belajar ya buku. Perpustakaan. Hampir semua mahasiswa disini juga begitu. Kalau dosen memberi tugas, langsung kita larinya ke perpustakaan. Btw, dikelas ku nggak ada yang bawa laptop. Sebagai gantinya yang dibawa kemana-mana ya buku. Jadi ya nggak heran kalau teman-temanku tas nya pada gede-gede semua. Ya bisa dibilang kalau mahasiswa disini book-oriented banget.

Nah, kalau ada tugas bagaimana? Kalau tugas ya kita tulis tangan. Satu tugas kita bisa nulis 15-20 halaman. Makanya dosen kita kalau ngasih tugas minimal dua minggu sebelumnya. Tugas yang diberi oleh dosen rata-rata sulit, dalam artian kita harus cari dari beberapa buku, kita pelajari satu-satu, lalu kita kumpulkan informasi-informasi yang berkaitan baru kita tulis di kertas HVS A4.


Sistem Kebut Semalam vs Sistem Kebut Sebulan
Jaman aku di Indonesia, belajar pake Sistem Kebut Semalam (SKS) masih memungkinkan. Aku bahkan bisa dengan gampang dapet IPK 3.65 dengan metode kebut semalam. Nah, kalau di India kita masih pakai sistem kebut semalam, jangan harap kita lulus. Aku pernah tulis artikel tersendiri tentang sistem ujian di kampus India. Disitu kalian bisa baca kalau ujian di India jauh beda dengan Indonesia. Nilai maksimal ujian semester adalah 70 out 70. Sejak awal kita sudah diberi tahu oleh dosen bahwa sepinter-pinternya kita, nggak mungkin kita bisa dapet full-mark alias 70 out of 70. Lho kok gitu? Kenapa? Baca poin selanjutnya :D

LJK vs Esai
Sejak aku masih SMP sampai kuliah, ujian apapun selalu pakai LJK. Kalaupun esai paling banter ya dua halaman. Kalaupun nggak pake LJK, ya at least pilihan ganda (pilgan). Tapi kalau kalian kuliah di India, jangan pernah harap ujian pake LJK. Karena disini ujian semuanya esai. Pertanyaannya biasanya ada 10 dan jawabannya bisa sampai 25-30 halaman tulis tangan selama 3 jam dikerjakan ditempat tanpa istirahat. So, udah tahukan kenapa kita nggak bisa pake metode kebut semalam untuk persiapan ujian? 

Kalau nyontek memungkinkan nggak? Nah, kalau mau nyontek juga susah secara jawabannya esai semua. Satu pertanyaan jawabannya bisa sampai 5 halaman, belum lagi kita diminta gambar atau bagan. Penjaga ujian disini nggak kayak di Indonesia, rata-rata penjaga ujian kerjaannya malah ngobrol. Disini penjaga ujian benar-benar ajeg keliling. 

Seriusan deh, ujian semester di India itu berasa seperti UNAS jaman SMA, dalam hal tingkat pressure yang aku hadapi. Karena kalau kita bener-bener no idea sama pertanyaan yang diajukan, ya kita mau nulis apa coba? Kalau pilgan kan masih mending ya kita bisa ngitung kancing. Kalau esai kita mau ngitung apa coba? Ngintung awan? Dan lagi, kita benar-benar harus persiapan jauh-jauh hari buat UAS. FYI, lembar jawab ujian disini dalam bentuk buku/bendel. Satu bendel isinya 25 halaman. Bisa dibilang lembar jawab nya itu seperti buku tulis dengan tebal 25 halaman.

Skripsi vs No-skripsi
Sudah menjadi rahasia umumlah kalau mau lulus S1 di Indonesia kita wajib untuk melakukan TA (tugas akhir) dalam bentuk skripsi. Untuk jenjang S1 semua jurusan di India nggak ada skripsi, enak kan? :D Tapi ya itu sebagai gantinya kita tiap semester harus nulis esai di ujian berpuluh-puluh halaman selama 6 semester. Kalau dipikir-pikir, esai yang kita kerjain selama kuliah di India jika dikumpulkan mungkin udah bisa jadi skripsi kali ya? Walaupun kuliah S1 di India rata-rata hanya 3 tahun tapi nggak sedikit kok mahasiswa yang sampe molor lulusnya gegara ada mata kuliah semester sebelumnya yang failed. Di India kalau misal kita nggak lulus di mata kuliah semester ganjil, maka kita wajib ikut ujian lagi untuk mata kuliah tersebut di semester ganjil tahun depan. Jadi kita harus nunggu setahun cuma buat ngulang ujian. So, nggak heran kalau banyak mahasiswa yang lulus nya sampe molor bertahun-tahun, bahkan mahasiswa Indonesia sekalipun.  Di India ini kalau nggak lulus ya nggak lulus

Aku pribadi sih menganggap itu suatu kelebihan. Sebab di jenjang S1 ini kita memang lebih dipersiapkan dan dimatangkan teori dan konsep nya ketimbang penelitian. Namun kalau kita mau membuat penelitian sendiri ya sangat memungkinkan dan dosen kita biasanya akan membantu. Aku sih rencananya lulus S1 dari India ini udah punya satu penelitianku sendiri mumpung dosen ku hampir semua udah pada post-doc jadi bisa minta bimbingan, ya itung-itung bisa buat proposal S2 ku nanti ha..ha..

Okay, sampai disini dulu ya obrolan kita. Sekian dulu. See you soon.. Au revoir ! :))

Comments

  1. Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Terima kasih bnyk atas sharing pengalamannya mba.
    Mohon maaf, saya mau nanya seputar kuliah pascasarjana S2 dan S3 di India. Kebetulan saya dan istri berencana melanjutkan kuliah di India. Mksh bnyk.
    Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam. Bisa baca artikel saya yg tentang Beasiswa ICCR pak. Semoga membantu

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…