Skip to main content

Seeking Identity - Part I




Je suis ce que je suis, et si je suis ce que je suis, qu'est-ce-que je suis? (I am what I am, and if I am what I am, who am I?)

Dua hal utama yang menjadi komponen dalam identitas setiap orang secara umum adalah name (nama) dan occupation (pekerjaan). Coba saja tonton acara-acara seminar online di YouTube macam TED, hal pertama yang akan mereka katakan adalah, Hi, my name is Smith and I am a psychologist, atau Hi, my name is Rebecca and I am a chef, atau Hi, my name is Rahma and I am a student of Microbiology. Lebih mudahnya tonton saja vlog-vlog para YouTuber, dan lihat video pertamanya. Pada video pertama setiap vlogger pasti mereka akan mengungkapkan identitas mereka. Dua hal pertama yang akan mereka ungkapkan pastilah nama dan pekerjaan. Sungguh tak lucu kalau saat perkenalan hal yang kita ungkapkan pertama adalah nama dan hobi, atau nama dan warna favorit. Misal, Hi my name is Rahma and I love pink. Errgghh, WHO CARES?!

Saya ambil sebuah analogi sederhana misal saya ke supermarket mau beli sesuatu dan ternyata saya  cari kesana kemari tidak menemukan barang tersebut. Tentu saya akan bertanya pada petugas supermarket nya. Hal pertama yang akan saya tanyakan pasti, "Mbak/Mas, ada obat nyamuk?". Saya pasti akan segera diantar ke rak khusus obat nyamuk. Kalau petugasnya super ramah pasti otomatis akan bertanya, "mau yang merek apa, Mbak?", "yang merek SuperKiller mas," tanpa berfikir panjang pasti dia akan segera mengambilkan barang tersebut untuk saya. 

Dua hal saya garis bawahi adalah obat nyamuk dan SuperKiller. Kenapa dua hal itu yang saya garis bawahi? Karena dua hal itulah yang kita sebut identitas. SuperKiller adalah 'name' dan obat nyamuk adalah 'occupation'. Kalau benda tersebut bisa bicara pastilah yang diucapkan pertama kali adalah Hai, nama saya SuperKiller dan saya adalah Obat Nyamuk.

So, why are name and occupation so crucial? Well, I won't talk much about 'name' because it's already given by our parents and we can say that it is already permanent. Sebaliknya, untuk mengisi kotak identitas yang berlabel occupation tersebut kita harus belajar dan bekerja, tidak bisa cuma 'asal tempel' seperti saat kita mendapatkan nama dari orang tua kita. Pertanyaan diatas akan saya buat bercabang menjadi, why occupation is the most crucial thing? Because occupation represents your ability or skill. Occupation  akan menggambarkan kemampuan atau keahlian atau ilmu kita. Itulah hal yang dunia ingin tahu, kemampuan atau keahlian atau ilmu kita.  

Esensi dari sebuah identitas adalah sebagai pembeda. Bayangkan jika manusia di bumi ini tidak punya nama, tentu dunia akan menjadi kacau. Sama halnya dengan obat nyamuk diatas, fungsi dari diberikannya label merek SuperKiller adalah sebagai pembeda obat nyamuk satu dengan obat nyamuk buatan pabrik lain. Jaman dahulu kala mungkin 'nama' saja sudah cukup menjadi pembeda untuk satu orang dengan yang lainnya. Namun era semakin berkembang dan nama saja tidak cukup untuk membuat kita berbeda dengan orang lain. Dunia membutuhkan sesuatu yang lebih kompleks dari  pada sekedar nama. Cukup masuk akal jika ada nasehat yang mengatakan bahwa ilmu adalah pembeda satu orang dengan yang lainnya karena ilmu adalah identitas. 

Untuk mengisi kotak identitas berlabel 'occupation' tentu tidak mudah. Pekerjaan saya sekarang adalah sebagai mahasiswa jurusan Mikrobiologi. Jadi kalau ada orang bertanya, saya tentu akan jawab nama saya Rahma dan saya seorang mahasiswa jurusan Mikrobiologi. Namun pertanyaannya sekarang adalah, apakah saya puas dengan identitas berlabel 'Mahasiswa Mikrobiologi'? Tidak! Kalau saya puas dengan label tersebut, lalu apa bedanya saya dengan teman sebangku saya yang sama-sama anak Mikrobiologi? Saya tidak bisa bilang bahwa saya adalah seorang ahli Mikrobiologi hanya karena saya mahasiswa Mikrobiologi. Saya juga tidak bisa bilang bahwa saya adalah seorang blogger hanya karena saya punya blog dan menulis satu atau dua artikel dalam satu bulan. Tidak. Ada banyak tahapan yang harus ditempuh untuk menjadikan 'ahli mikroorganisme' dan 'blogger' sebagai occupation saya, sebagai identitas saya. Untuk mendapatlan label sebagai seorang ahli Mikrobiologi saya harus menempuh pendidikan paling tidak hingga jenjang doktor. Saya juga harus banyak melakukan riset dan menerbitkan jurnal-jurnal berkualitas. Sama halnya jika saya ingin menjadikan 'blogger' adalah sebagai identitas maka banyak syarat yang harus saya penuhi. Misalnya pengunjung blog saya minimal sekian ratus ribu orang, saya harus membuat tulisan paling tidak tiga artikel per minggu, dan sebagainya.

Saya dulu sempat kebingungan saat membuat akun LinkedIn karena saya tidak punya sesuatu untuk saya 'persembahkan' sebagai identitas saya kecuali nama.  Saya bisa menuliskan 'Student of Microbiology' pada biodata saya, namun jika saya menuliskan identitas tersebut, saya tidak akan mendapatkan tawaran pekerjaan. Tujuan saya dulu membuat LinkedIn adalah untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Jika saya mempromosikan diri saya sebagai mahasiswa Mikrobiologi, tidak akan ada perusahaan yang akan menemukan akun LinkedIn saya. Hubungan antara perusahaan dan pekerja adalah simbiosis mutualisme. And I don't have 'something' to offer to make them pay me.

Beberapa jam kemudian akun LinkedIn saya sudah jadi. Saya mempersembahkan diri saya sebagai seorang translator alias penerjemah untuk English - Bahasa Indonesia. Saya pernah bekerja sebagai freelance translator di salah satu language service di New Delhi selama hampir satu tahun. Saya pikir lumayanlah umtuk seorang amatiran. Beberapa minggu kemudian banyak agen penerjemah yang DM saya dan menawarkan saya pekerjaan sebagai freelance translator. 

Sejak saat itu saya menyadari betapa pentingnya mempunyai sebuah identitas. Semua orang sejatinya sudah punya identitas. Rahma adalah identitas saya, nama saya. Namun saya tidak puas jika orang lain hanya mengenal saya sebagai seorang Rahma. Hanya dengan punya nama, kita tidak bisa bertahan hidup. Tidak akan menjamin kelangsungan hidup dimasa depan karena saya tidak mungking dipekerjakan oleh sebuah perusahaan hanya karena saya punya nama Rahma, kan?

So, tentukan sebuah occupation,pelajari, tekuni, dan jadikan itu identitas kita. 

To be continued . . . .
See You at Seeking Identity - Part 2 . . . !

Tabik,

Rahma S


============================================================================

Seeking Identity (Mencari Identitas) adalah sebuah tema besar dari beberapa tulisan bersambung yang ditulis berdasar ide dan gagasan saya sendiri. Tema besar tersebut saya beri nama Seeking Identity karena mencari identitas bagi saya adalah sebuah life-time job. Tulisan-tulisan tersebut akan banyak terlahir dari pengalaman pribadi yang menurut saya akan sayang untuk saya simpan sendiri. Bukan untuk platform curhat atau berkeluh kesah namun sebagai perantara penyebaran ilmu dan ide.

Comments

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…