Skip to main content

Menjadi Seorang Muslimah di India



Kehidupan beragama adalah salah satu kekhawatiran saya saat hendak berangkat ke India. India memang negara pertama yang saya kunjungi  jadi bisa dibayangkan sekian banyaknya ketakutan, keraguan, dan kekhawatiran yang saya alami saat itu. Saat itu saya belum mengenal PPI India (Perhimpunan Pelajar Indonesia di India) atau blog-blog mahasiswa Indonesia di India. Jadi gambaran kehidupan di India yang saya tahu hanya sebatas dari Wikipedia. 

Menjadi seorang muslim di negara yang minim penduduk muslim memang menjadi tantangan tersendiri. Apalagi bagi perempuan yang berjilbab dimana jilbab merupakan simbol agama. Akan sangat mudah mengidentifikasi kepercayaan seorang perempuan yang berjilbab dibandingkan dengan seorang laki-laki yang juga seorang muslim. Karena bisa dibilang hampir tidak ada simbol agama yang kentara yang melekat pada laki-laki. Sehingga lebih sulit untuk menebak apalagi men-'judge' laki-laki. 

Menjadi muslim di India tentu tidak semenegangkan di Eropa karena menurut statistik India merupakan negara dengan populasi muslim terbanyak ketiga di dunia. Namun 'prestasi' tersebut tidak juga memuaskan karena jumlah penduduk muslim di India hanya mencakup 13% dari total penduduk. Which is sama aja bohong!

Secara umum menjadi seorang muslim di India, terutama perempuan, tidaklah sulit. Tentu saja pertanyaan seperti "Why are you always covering your head?" atau "Why do you never show your hair?" akan masuk dalam jajaran Frequently Asked Questions (FAQ). Mereka bahkan tidak tahu bahwa saya adalah seorang muslim padahal saya selalu mengenakan jilbab yang notabennya adalah simbol agama. Banyak yang langsung menyadari bahwa saya muslim namun ada juga yang masih bertanya-tanya. Saya malah pernah beberapa kali dikira orang Hindu oleh penduduk lokal. 

Akses untuk makanan halal sangatlah mudah mengingat penganut Hindu kebanyakan vegetarian. Namun bagi yang ingin sesekali masak daging tentu perlu diperhatikan tempat membeli daging tersebut. Alangkah lebih baik mencari penjual daging yang juga seorang Muslim. Disekitar tempat tinggal saya belum saya temukan penjual daging halal. Biasanya saya akan order ayam secara online dengan menggunakan aplikasi. Beberapa daging biasanya akan tertulis 'Halal cut'. Perlu diingat juga bahwa daging yang saya maksud tentu tidak termasuk daging sapi sebab sapi merupakan bagian dari agama mereka. Sudah seharusnya kita menghormati kepercayaan mereka layaknya mereka menghormati kita.

Akses tempat ibadah tentu menajadi sangat vital apalagi saat kita sedang bepergian. Bagi laki-laki masalah tempat ibadah tentu tidak begitu berarti hanya saja terkadang agak sulit mencari masjid sebab jumlah masjid di India tidak sebanyak di Indonesia. Namun bagi perempuan, boro-boro nemu masjid, masuk masjid saja kadang kita nggak boleh. Tentu saja dari kesekian banyak masjid yang tidak 'menerima' perempuan, ada yang menerima perempuan. Di Delhi sendiri yang saya tahu hanya Jama' Masjid Nizamuddin yang memeperbolehkan perempuan untuk beribadah. Mecca Masjid di Hyderabad juga mengizinkan perempuan untuk beribadah itupun jika kita mengenakan celana kita tidak diperbolehkan untuk masuk. Teman perempuan India saya yang juga muslim pernah mengatakan bahwa perempuan wajib sholat dirumah. Saya tidak terlalu mengerti apakah ini berkaitan dengan mazhab di India yang cenderung Hanafi? 

Bulan Ramadhan tentu menjadi bulan yang sangat berarti bagi masyarakat muslim. Sensasi-sensasi Ramadhan yang biasa kita rasakan di Indonesia tentu tidak akan ada lagi di Indonesia. Tidak ada panggilan sahur berkumandang, apalagi suara bedug Maghrib. Suatu keberuntungan jika kita bisa tinggal di lokasi yang dekat dengan masjid atau di area muslim karena kita bisa mendengarkan suara azan setiap saat. Namun, bagi saya yang selalu jauh dari masjid, tentu alarm sahur dan azan maghrib dari aplikasi smartphone menjadi sahabat setia dikala puasa. Bulan Ramadhan yang selalu jatuh pada musim panas tentu menjadi halang rintang tersendiri. Manahan lapar dahaga pada suhu nyaris 40 derajat atau bahkan lebih mulai pukul 04.00 - 19.30 (India Utara e.g. Delhi) atau 04.15 - 19.00 (India Selatan e.g. Hyderabad) tentu tidaklah mudah. Keteguhan hati dan keistiqomahan tentu menjadi komposisi vital dalam menunaikan ibadah puasa. 

Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha tentu menjadi momen kemenangan bagi setiap muslim. Perayaan Idul Fitri dan Idul Adha tentu tidaklah sekhidmad di Indonesia. Bagi yang berdomisili di New Delhi dan sekitarnya tentu perayaan ini bisa kita rasakan di Kedutaan Besar RI. Bagi berdomisili di kota lain tentu sholat eid menjadi sebuah kebingungan tersendiri. Pasalnya, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia selalu satu hari (kadang dua hari) lebih cepat dari pada India. Alhasil tidak jarang kami mahasiswa Indonesia tidak melaksanakan sholat eid karena ada kuliah. Namun banyak juga dari kami yang membolos dan membuat acara kumpul-kumpul sendiri dengan mahasiswa Indonesia. (P.S. Malam takbiran Ramadhan tahun lalu saya dikamar mengerjakan laporan praktikum Kimia sambil mendengarkan gema takbir dari YouTube) 

Saya sangat bersyukur bahwa rata-rata orang India sangat open-minded dalam hal agama. Selama saya berkuliah di India, saya tidak pernah mempunyai masalah yang berkaitan dengan agama. Saya juga tidak melihat adanya diskriminasi di perguruan tinggi tempat saya belajar dan so far belum ada cerita negatif dari teman-teman Indonesia disini terkait rasisme atau diskriminasi di kampus. Kebetulan semua dosen saya adalah Hindu dan saya adalah satu-satunya Muslim di kelas namun hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi proses belajar disini.

Comments

  1. Yup,bener. Mereka open-minded dan toleran banget. Pernah aku mau sholat Maghrib numpang di halaman orang, di sekitar Birla Mandir. Aku malah disuruh masuk dan sholat di ruang tamu. Padahal waktu itu aku denger adzan gak jauh dari situ, tapi kan... cewek gak boleh masuk masjid. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mbak. Ironis memang. Thanks for visiting Mbak Ayun :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…