Miss Perfect

9:30 AM

Hari ini, 14 Juli 2018, merupakan hari yang cukup bermakna untuk kumaksukkan dalam daftar momen pelipur lara. Blog dambaanku sudah mulai muncul ke dalam-jaringan secara mandiri, tidak lagi numpang nama dengan blogspot. Bukan domain dot com nya yang mampu melipuri lara lamaku, tapi cita-cita yang dalam untuk "menebus" blog ini akhirnya kesampaian juga.

Blog ini telah berhasil membuatku berani untuk membeberkan kepada khalayak akan masam pahit masa jatuhku di Negara Anak Benua ini.


****
Kata sifat perfeksionis menjadi salah satu komposisi dalam karakterku. Dari sekian banyak kata sifat yang menempel didiriki, nampaknya kata sifat ini cukup membuatku sering tak tidur. Tidak ada orang yang sempurna. Benar. Namun tak sedikit juga orang yang ingin menjadi sempurna, menurut versi mereka sendiri. Aku termasuk salah satu dari populasi yang tidak sedikit itu. Menjadi seorang yang sempurna artinya aku mampu menjadikan segala ambisiku tidak hanya sekedar impian yang tertempel di dinding saja. Namun tempelan-tempelan dinding itu bisa kubuktikan kenyataanya, bahwa apa yang tertulis diatas nya benar-benar ada dan terjadi.

Kala itu salah satu dambaanku adalah bisa lulus dari Delhi University jurusan Microbiology, yang merupakan kampus dan jurusan para dewa. Aku sudah terlalu membayangkan betapa bahagianya diriku jika bisa lulus dari kampus tersebut apalagi dengan beasiswa. Mewujudkan ambisi tersebut ke dunia nyata merupakan hal mutlak dalam rangka menyegarkan dahaga akan tuntutan pribadi menjadi orang sempurna sesuai standar yang telah aku tetapkan.

Namun ternyata Tuhan Maha Memahami apa yang hamba-Nya rasakan. Penyakit hati ingin menjadi sempurna yang sedang menimpa diriku ternyata tak dibiarkan makin memerah. Dia menuntunku maju melalui jalan pilihan-Nya. Atau mungkin bukan sebuah jalan. Dia menuntunku menuju tembok tinggi yang mau tidak mau aku harus melampauinya. Saking tingginya hingga bayanganku sendiri tertutup oleh bayangan tembok. Aku menaiki tembok itu dengan nafsuku. Nafsu ingin segera melewatinya. Nafsu untuk segera melaluinya dan mengenakan jubah 'kesempurnaan'. Aku mendaki tembok  itu dengan segala gaya manusia yang aku punya. Namun manusia tetaplah manusia, akan tetap kalah dengan hukum alam dari Tuhan, gaya gravitasi, yang setia menarikku ke punggung bumi dikala aku bernafsu mendaki menuju langit. Aku lelah dengan segala upaya manusia yang ada didiriku, dan akhirnya aku mengikhlaskan diri untuk mentaati hukum alam Nya. Aku drop out dari kampus impian. 

Langit tak mau menerimaku, namun Ibu Bumi lah yang setia menopang rebahan badanku yang memar. Ibu Bumi menimangku dengan nasehat-nasehat cintanya dan mengobatiku deng pil penyembuhnya, seraya berkata "kamu, jiwa ragamu, harus move on". Kutelan pil pahit resep dari Ibu Bumi. Kubiarkan pil itu mengarungi pembuluh darahku. Benar saja. Aku sembuh. Sembuh dari penyakit hati.

Terima kasih Ibu Bumi.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔