Cerita Tentang Tabung Gas

3:54 AM

Impresi pertama orang-orang pada umumnya saat tahu kita kuliah di luar negeri adalah keren. Hal tersebut memang tidak salah, namun terlihat keren bukanlah satu-satunya hal yang para mahasiswa rantau hadapi, apalagi merantau ke luar negeri. Banyak sekali pengalaman-pengalam pahit yang hanya dihadapi oleh mahasiwa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, nyaris deportasi misalnya, hal yang pernah saya alami dua tahun yang lalu. 

Sangat jauh dari keluarga dan jauh dari teman-teman Indonesia lainnya memaksa saya untuk bisa melakukan segalanya sendiri. Segalanya... Mulai dari memperbaiki tabung gas yang rusak, mengangkat galon ke kamar kos, hingga mengurus diri sendiri sendirian saat sakit. 

Saya bersyukur selama dua tahun saya di Hyderabad saya belum pernah mengalami sakit yang serius. Paling banter demam dan flu karena kecapaian kuliah dan organisasi yang dibarengi dengan pancaroba. Namun tetap saja hal tersebut tidaklah nyaman untuk dijalani apalagi di tahun terakhir perkuliahan dimana beban belajar meningkat 200%. 

Sudah hampir dua minggu ini tabung gas saya serahkan ke Si Uncle penjaga warung. Dia cukup dekat dengan saya karena saya langganan telur ayam dari beliau, dan beliau cukup fasih berbahasa Inggris walaupun jika dilihat kita mudah menebak bahwa beliau dari golongan kasta bawah. Namun demikian kemampuannya dalam berkomunikasi dalam Bahasa Inggris bisa dibilang wow. 

Saya memberikan tabung saya ke beliau lantaran gas yang sudah habis. Beliau mengatakan bahwa bagian pemancar api tidak berkerja dengan baik jadi perlu direparasi. Saya mengiyakan supaya direparasi sebab terakhir saya gunakan api memang kurang lancar. Setiap hari sepulang kampus, sehabis maghrib saya selalu ke warung beliau menanyakan kabar tabung gas. Namun tiap hari jawabannya tetaplah sama, "I will deliver it to your home" hingga pada akirnya saya yang muak sendiri. Sebab saya tidak bisa memasak untuk sarapan dan makan malam. Saya hanya mengandalkan rice cooker untuk memasak. Namun jika saya sedang sangat lelah saya lebih memilih untuk membeli lauk dari luar dan menyimpannya di kulkas. 
Saya sendiri tidak bisa marah kepada beliau karena niat beliau sangatlah baik membantu saya. Dia memberikan tabung gas saya ke tukang reparasi untuk diperbaiki. Suatu ketika saya benar-benar sudah lelah dan saya berencana untuk marah-marah ke beliau karena sudah 10 hari tabung tak kunjung diantar padahal saya sudah membayar Rs 280 (60 ribu). Diperjalanan menuju warung Si Uncle, saya sudah  menyiapkan kata-kata yang akan saya lontarkan dan menumpahkan segala emosi saya ke beliau. Namun tiba-tiba ditengah jalan yang cukup gelap saya dikejutkan oleh seorang kakek yang jatuh terjepit oleh sepeda motornya dan tidak sanggup berteriak meminta tolong. Saya satu-satunya yang melihat kakek itu merintih. Sontak saya langsung ikut membantu mengangkat sepeda motor yang menjepit beliau. Namun apa daya badan saya yang kecil tidak cukup kuat untuk mengangkat motor yang menghimpit si kakek. Akhirnya saya menyetop seorang pengendara sepeda motor yang sedang lewat dan memintanya untuk membantu "membebaskan" si kakek dari himpitan motornya.Si kakek pun akhirnya berhasil bebas dan mengucapkan terima kasih kepada kami.

Saya pun melanjutkan berjalan menuju warung Si Uncle dan entah malaikat jenis apa yang ada saat itu, segala emosi saya untuk Si Uncle sudah luluh tak bersisa. Akhirnya saya ke warung Si Uncle tak jadi marah-marah dan sebagai gantinya saya datang sambil memberikan senyuman penuh arti (artinya = mana tabung gasku?). Seperti biasa jawaban beliau masih sama, "I will call the repair man again. It's been 10 days" dan beliau juga menyampaikan permintaan maafnya. 

Hari kedua belas tabung tak kunjung tiba. Malamnya setelah saya selesai memasak nasi, tiba-tiba dari dalam mesin rice cooker keluarlah api yang cukup besar. Saya cukup kaget namun tetap tenang mengamati bara api yang keluar dan setalah api sudah mulai padam saya cabut kabel dari stop kontak. Itulah saat dimana rice cooker saya wafat. Saya mulai memikirkan bagaimana kelangsunan makan saya tanpa tabung gas dan rice cooker. Uang saku saya yang sangat terbatas akan langsung habis jika saya gunakan untuk membeli rice cooker baru.

Pagi harinya badan saya demam  dan kaki saya dingin disertai sakit kepala. Saya memutuskan untuk izin kuliah pada hari itu. Saya sampaikan ke tiga teman saya bahwa saya absen kelas hari Kamis. Malam hari beberapa teman saya menelfon menanyakan kabar saya. Satu orang teman dekat saya marah-marah kepada saya karena saya tidak memberi kabar kepadanya tentang nasib tabung gas yang tak kunjung kembali apalagi ditambah rice cooker yang tiba-tiba rusak dan kondisi badan yang sangat lemas dan diluar sedang hujan sehingga saya nyaris tak bertenaga untuk keluar rumah mencari makanan. Teman saya meminta nomer telfon Si Uncle, dia bilang dia akan memarahi Si Uncle karena sudah membiarkan saya tidak bisa memasak hampir dua minggu. Saya tidak bisa menolak dan saya biarkan dia menelfon Si Uncle dan benar saja 1.5 jam kemudian Si Uncle datang kerumah membawa tabung gas saya yang sudah diperbaiki. Saya memberikan uang untuk membayar komponen yang rusak dan memberikan sedikit uang transport. 

Pagi harinya teman saya yang marah-marah semalam menelfon saya dan meminta saya untuk turun kebawah karena dia meminta salah satu teman cowoknya untuk mengantarkan sarapan ke saya. Saya juga cukup akrab dengan dia. Saya betul-betul merasa tersentuh dengan kepedulian mereka kepada saya. Tidak hanya itu, siang hari nya saya di telfon lagi oleh teman saya dan dia mengatakan dia sudah memesan nasi goreng untuk saya dan sekarang sudah diantar. Padahal sebelumnya saya sudah berusaha menolak halus supaya tidak merepotkan dan saya mengatakan saya akan memasak namun dia memaksa dan tidak memperbolehkan saya untuk memasak. Namun karena sudah terlanjur dipesan dan nasi goreng sudah on the way kerumah ya mau bagaimana lagi😅 

Saya bersyukur walaupun saya adalah satu-satunya mahasiswa asing dikelas namun banyak sekali teman-teman lokal disini yang sangat peduli dengan saya. terutama saat saya sakit. Teman saya bahkan akan memarahi saya jika saya tidak meminta bantuan kepada dia atau justru meminta bantuan ke orang lokal lain yang sebetulnya tidak begitu akrab dengan saya. 

Banyak diluar sana wacana tentang betapa 'ngeri' nya India, saya tidak menyalahkan opini yang beredar di masyarakat kita tentang kondisi sosial disini, namun jika kita persempit lagi sudut pandang kita maka sesungguhnya masyarakat disini bisa dibilang cukup ramah dan sangatlah helpful :) 


Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔