Pengalaman Bekerja di KBRI New Delhi

3:26 AM Add Comment
Bersama Bapak Jonan (baju biru), mantan Menteri Perhubungan

Berkesempatan untuk magang apalagi bekerja di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) merupakan sebuah pengalaman yang amat sangat langka. Saat itu di kantor Atdik kondisinya memang sedang membutuhkan tenaga administrasi tambahan karena hanya ada satu staf. Rejeki saya juga, staf tersebut adalah senior saya sendiri di Delhi University dan memang sudah akrab sejak lama sehingga sudah tidak ada lagi acara sungkan, canggung, apalagi grogi :D

Saya mulai 'ngantor' sehari setelah itu karena memang banyak sekali pekerjaan yang harus ditangani jadi tidak perlu banyak basa basi untuk ijab qobulnya. Kontrak kerja saya saat itu selama enam bulan, walaupun pada akhirnya saya bekerja selama tujuh bulan. Jobdesc saya 'nggak jelas' alias 'ngerjain apa aja yang disuruh'. Jadwal ngantor Senin sampai Jum'at jam 09.00 - 17.00 namun biasanya saya akan pulang pukul 18.00 atau 19.00. Beban kerja kami bagi tidak rata karena senior sayalah staf sesunggunya dan saya adalah staf outsoursing, paling tidak begitulah yang tertulis di lembar kontrak. 

Beban kerja yang tidak ratapun sudah amat sangat memeras otak, tenaga, dan kadang pikiran. Namun hal tersebut tidak berjalan lama karena senior saya harus pulang ke Jakarta beberapa bulan untuk tes sekaligus pengurusan paspor biru (atau hitam? - saya agak lupa). Jadilah saya bekerja sendirian di kantor.

Theoritically 9 to 5
Setiap pagi saya berangkat ke kantor mulai pukul 7.30. Bus nomor 604 merupakan angkutan sehari-hari saya saat bekerja karena murah, hanya Rs 20 (sekitar 4000 Rupiah), dan nyaman karena bus nya ber-AC. Perjalanan memakan waktu 30 menit karena jalan raya masih belum terlalu macet, itu alasan kenapa saya selalu berangkat lebih pagi. Selain itu berangkat pagi juga memberikan saya kesempatan untuk menikmati perjalanan sambil berkontemplasi :D 

Saya senang sekali melihat kesibukan para manusia dipagi hari, berjuang mempertahankan kehidupannya dan keluarganya. Tuhan selalu menyuguhkan kita dengan rezeki baru setiap hari, tinggal mau diambil atau diabaikan rezeki itu terserah pelakunya. Namun kadang ada juga mereka yang mengabaikan rezekinya karena malas, dan kalau rezekinya dialihkan ke yang lebih rajin, dia protes, tapi suruh jemput gak mau.... :p Mereka yang setiap pagi saya lihat dari balik kaca bus sudah narik becak atau dorong gerobak sayur adalah bukti ketaatannya pada Sang Pencipta - sadar atau tidak sadar - tidak ada kompromi bahwa bertahan hidup adalah kewajiban semua manusia, diluar itu artinya sudah putus asa dengan kehidupan dan kalau dirunut lagi ada kemungkinan bisa jadi dosa (CMIIW)

Saya selalu turun di  halte depan China Embassy dan berseberangan dengan Norwegian Embassy di daerah Shanti Path. Dari halte saya harus berjalan sekitar 150 meter menuju KBRI. Sampai di KBRI saya langsung menuju kantor Atdik. Biasanya uncle-uncle India yang bekerja di KBRI suda rajin menyapu, menyingkirkan daun-daun kering, ataupun mencuci mobil. Pak Satpam pun juga sudah standby entah sejak jam berapa. "Good morning Ibu" begitu sapanya setiap pagi sembari membukakan pintu gerbang dan menyodorkan kunci kantor untuk saya. Sampai di kantor saya menyalakan semua lampu, AC, komputer, dan membereskan kertas atau majalah-majalah yang berserakan di ruang tamu kantor. Setelah itu saya sarapan dengan sereal dan susu yang sudah tersedia di kantor. Selesai sarapan saya mulai bekerja di depan komputer.

Pak Atdik biasanya datang pukul 09.30. Karena di kantor tersebut hanya kami berdua sehingga ketika beliau datang suasana menjadi agak tegang. Pak Atdik adalah sosok yang amat sangat disiplin, rapi, detail, cekatan, tepat waktu, berwawasan luas sehingga tak heran jika beliau dipercaya untuk memegang kemudi Kantor Atase Pendidikan. Latar belakangnya sebagai seorang aktivis pendidikan, pendidik, dan Guru Besar Matematika di ITB lebih dari cukup untuk membayangkan skala kesungguhan beliau akan kerapihan dan ketelitian. Tak jarang beliau memberikan koreksi untuk surat-surat yang saya buat. Dalam membuat surat, beliau sangat menekankan kepada saya akan pemilihan kata, pembuatan kalimat atau paragraf efektif, hingga penggunaan tanda baca seperti titik dan koma. Pengalaman sejak SMA menjadi seorang sekretaris organisasi dan passion saya dalam menulis nampaknya masih jauh dari nilai D saat diaplikasikan dalam dunia kerja. Pernah suatu ketika karena sedang lola, saya sampai empat kali membuat surat yang sama karena koreksi dari beliau belum bisa saya cerna sehingga beberapa kali saya harus memperbaiki susunan kalimat dan paragraf surat. Beruntung pekerjaan administrasi dan kesekretariatan adalah salah satu 'hobi' saya, sehingga tak pernah sekalipun saya baper kalau dapat banyak koreksi, sebaliknya masukan beliau benar-benar saya perhatikan dan terima dengan hati yang welcome.

Jam kerja 9 pagi hingga 5 sore nampaknya hanyalah teori belaka sebab faktanya saya sering pulang larut pukul 9 malam karena pekerjaan yang menumpuk. Tak jarang saya menginap di wisma tamu KBRI saat Atdik sedang kebanjiran tamu dari Indonesia dan harus dijemput di bandara pukul 5 atau 6 pagi. Saya pernah pulang pukul 12 malam karena harus bolak balik ke bandara sebab waktu ketibaan para tamu yang berbeda-beda. Bekerja saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu pun sudah menjadi hal biasa. Jika sedang kebanjiran tamu, biasanya selama hari Sabtu dan Minggu saya akan menemani para tamu jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Delhi ataupun sekedar belanja. Tak jarang pula mereka ingin mengunjungi Taj Mahal yang lokasinya sekitar  3 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Asik sih asik bisa jalan-jalan gratis, tapi kalau tempatnya itu-itu saja ya rasa asiknya sudah membiasa dan selain itu ada rasa tanggung jawab lebih mendominasi dari pada rasa jalan-jalannya karena para tamu yang datang adalah 'orang besar' seperti rektor, dekan, Kemdikbud, tokoh pemerintahan, dll. 

Working Out Load
Membuat segala macam surat, membalas email, korespondensi dengan lembaga-lembaga di Indonesia (Kemdikbud, BPKLN, Kemlu, Universitas di Indonesia dan India, Think Tank, dll), mempersiapkan dokumen dan kebutuhan Pak Atdik untuk keperluan rapat maupun perjalanan dinas ke luar kota atau luar India, sampai hal yang paling krusial adalah masalah keuangan. Setiap bulan saya harus membuat laporan keuangan bulanan yang dilaporkan ke bendahara KBRI. Sayapun juga harus mengatur pengeluaran belanja kantor. Mengurus keuangan merupakan pekerjaan terhoror dari pada membuat surat atau korespondensi. Jika sudah mendekati akhir tahun maka kami akan disibukkan dengan tutup buku keuangan tahunan karena akan ada audit dari pemerintah dan KPK. Hal tersebut yang membuat saya tidak pulang berhari-hari dan tetap tinggal di kantor walaupun hari libur. 

Disamping pekerjaan wajib utama, banyak pekerjaan sampingan yang cukup memakan waktu karena saat itu saya hanya sendirian. Belanja alat tulis kantor, membayar telepon dan wifi ke Airtel, menjemput tamu, memperbaiki printer atau mesin fotokopi, dan lain sebagainya.

Saya sungguh bersukur pernah mendapatkan kesempatan itu. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disana yang tidak pernah saya temukan di buku Microbiology, Genetics, apalagi Chemistry. Bisa bertemu dan interaksi dengan orang besar dan hebat merupakan bonus tersendiri apalagi sampai bisa jalan-jalan bareng dengan mereka. Saya sungguh beruntung pernah menjadi 'murid' Pak Atdik di kantor Atdik dan bisa tiap hari berinteraksi dengan seorang Guru Besar Matematika ITB yang ide dan opininya sudah 'berserakan' di tiap edisi harian Kompas.


Sainikpuri, 16/9/2018

Hiruk Pikuk Perpanjangan Visa di Hyderabad

12:36 PM Add Comment
Sejak kepindahan saya dari Delhi ke Hyderabad pada Agustus 2016 silam, tiap tahun saya diwajibkan untuk apel ke Foreign Regional Registration Office (FRRO) alias kantor imigrasi untuk perpanjangan Visa Stay. Hal ini cukup horor karena saya agak trauma berurusan dengan kantor imigrasi. Bagi teman-teman yang pernah membaca tulisan saya The Hardest Moment in India : My Transisition from Delhi to Hyderabad sedikitnya ada gambaran mengapa saya sampai bisa terserang penyakit traumatisme. 

Tidak seperti saat di kantor imigrasi Delhi, pengalaman saya di kantor imigrasi Hyderabad cukuplah 'menenangkan'. Saat pertama kali ke kantor imigrasi Hyderabad pun saya dipertemukan dengan malaikat baik berjubah manusia dengan titel pegawai imigrasi. Beliau adalah malaikat penyelamat kedua setelah direktur FRRO Delhi. Beliaulah yang memperjuangkan keberlangsungan pendaftaran studi saya di Osmania University. Saya masih ingat wajah beliau. Tiap kali saya ke FRRO Hyderabad untuk perpanjangan visa, mata saya selalu mencari beliau, walaupun tidak menyapa dan belum tentu beliau ingat saya juga hehe... namun tiap kali melihat beliau saya selalu tersenyum kecil, berterimakasih dan mendoakan beliau dalam hati.

Visa saya jatuh tempo pada 15 September 2018 jika terlambat maka akan dikenai denda sekitar Rs 2000 (kurang lebih 400ribu Rupiah). Jumlah yang sangat sayang untuk kelas mahasiswa rantauan. Mulai tahun ini semua proses perpanjangan dokumen di imigrasi dilakukan secara online. Secara teori, kita tidak perlu nge-print dan fotokopi semua dokumen yang dibutuhkan dan datang ke kantor imigrasi. Cukup bermodal internet dan laptop, semua dokumen tinggal di-upload di website resmi FRRO dan menunggu respon atau instruksi lanjutan pada kolom 'Status Enquiry'.

Saya agak deg-deg-seer karena ini adalah pertama kalinya saya perpanjang visa secara online. Beberapa teman Indonesia disini yang sudah mencicipi fasilitas online FRRO bercerita bahwasaannya ada kemungkinan kita akan tetap di panggil untuk wawancara di kantor FRRO. Tidak hanya sistem online saja yang menjadi hal baru di FRRO, namun kantor FRRO juga sudah bermigrasi yang tadinya di CGO Tower ke daerah Shamshabad dekat bandara Rajiv Gandhi International Airport. Jarak antara rumah saya di Sainikpuri ke Shamshabad cukup jauh, sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan taksi. Pulang pergi maka total sudah empat jam sendiri dalam sehari habis untuk perjalanan saja.

Sejak awal saya sudah merasa tidak tenang dengan sistem baru tersebut. Hal itu karena latar belakang pengalaman yang kurang mengenakan dengan FRRO. Selain itu, setiap kali saya melakukan perpanjangan visa, ada saja hal yang salah yang membuat saya harus pulang dan memperbaiki dokumen dan datang lagi di hari kemudian. Namun saat itu tidak terlalu menjadi masalah besar karena saat itu FRRO masih berlokasi di CGO Tower, hanya 30-40 menit perjalanan dengan taksi. Nah sekarang? Kalau sampai dokumen ada yang bermasalah, bisa bangkrut dan nggak makan sebulanlah saya. Entah kenapa, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya dokumen saya tidak pernah sempurna dimata FRRO :(

Malam itu, setelah mendapatkan bonafide letter dari kampus, saya langsung melakukan registrasi di website FRRO dengan menggunakan email, nomor HP, dan nomor passport. Kemudian saya log in dan mengisi formulir online yang sudah disediakan dan dilanjutkan dengan meng-upload dokumen sesuai dengan permintaan. Saya agak terkejut ketika diminta untuk upload dokumen Tenant Verification pasalnya tahun-tahun sebelumnya tidak pernah diminta dokumen tersebut. Saya mencoba untuk mencari tahu tentang dokumen tersebut dan sampailah saya di website kepolisian India. Disana sudah ada formulir Tenant Verification. Saya unduh dan saya pelajari isi formulir tersebut. Kemudian saya iseng tanya teman dari Gambia yang juga sedang melakukan perpanjangan Resident Permit (RP) di FRRO. Dia bercerita bahwa dia sudah pernah meminta tanda-tangan dan stempel dari kantor polisi Sainikpuri untuk Tenant erification namun ditolak oleh pihak kepolisian setempat dan justru malah menyuruh dia untuk ke kantor polisi besar di daerah Gachibowli. Batin saya, 'gila aja dari Sainikpuri ke Gachibowli bisa sejam lebih pake taksi, itupun cuma buat cari tanda-tangan dan stempel doang'. Karena pertimbangan waktu, lokasi, dan biaya akhirnya saya putuskan untuk skip dokumen tersebut. Saya hanya berdoa dalam hati semoga itu tidak menjadi penghalang nantinya.

Saya cukup diburu waktu sebab saya bisa mulai mengajukan perpanjangan visa 10 hari sebelum expiry date lantaran kemepetan saya dalam membayar SPP di kampus yang itu kaitannya dengan urusan keluarga di Indonesia. Sebetulnya kita dianjurkan untuk melakukan perpanjangan satu bulan sebelum expiry date, jadi sepuluh hari bisa dibilang mepet jika semua dokumen lengkap dan sempurna, dan amat sangat mepet jika dokumen ada yang bermasalah apalagi kurang. 

Sehari setelah melakukan registrasi online saya cek status enqiry di website dan tertulis "Personal Meeting Required, on 7/9/2018 at 10.30. Please bring all the original documents". Mental saya cukup down karena saya harus pergi ke kantor FRRO yang sangat jauh sendirian. Selalu terbayang masa-masa dimana saya masih di Delhi memohon kepada pihak FRRO supaya saya tidak dideportasi. Seharian itu saya mempersiapkan semua dokumen dan yang paling penting adalah mempersiapkan mental untuk menghadapi FRRO. Malamnya saya tidur lebih awal supaya esoknya tidak kelelahan selama perjalanan panjang. 

Saat itu hari Jum'at dan cuaca cukup mendung. Saya berangkat dari rumah pukul 08.00. Selama di perjalanan, saya tak henti-hentinya membaca zikir laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzhalimiin dengan harapan minimal beban dan kekhawatiran di dada bisa sedikit berkurang. Doa Nabi Yunus tersebut pernah menyelamatkan saya minggu lalu saat harus berurusan dengan Foreign Office Osmania University. 

Hampir 2.5 jam perjalanan akhirnya saya sampai di kantor FRRO, Shamshabad. Benar apa kata teman saya, tempatnya memang nampak 'terisolasi' karena jauh dari keramaian. Kanan kiri kantor megah tersebut hanyalah pepohonan kering dan beberapa pohon hidup. Jalan raya tepat didepannya pun terlihat cukup lengang, jarang dilalui transportasi umum. Saya turun dari mobil dan memandangi bangunan baru tersebut dan berkata dalam hati, "Okay Rahma, this is it! Everything will be alright". Saya masuk menemui resepsionis dan diarahkan ke lantai 1. Saya ke lantai 1 dan masuk ke ruang panjang cukup lebar yang ditunjukkan oleh satpam. Saya melihat kanan kiri ruangan tersebut dan mencoba untuk menyerap setiap pemandangan yang terlihat supaya saya lebih tenang di ruangan baru tersebut. 

Saya menyerahkan formulir dan menunggu panggilan. Sepuluh menit kemudian saya dipanggil oleh pegawai FRRO. Saya agak gugup ketika ditanyai terkait dokumen-dokumen yang saya berikan. Ada beberapa hal yang saya tidak bisa jawab karena itu memang kesalahan kampus. "You must re-upload all your documents again and please make a new Rental Agreement (RA)". Saya tidak bisa berkata apa-apa selain "Okay, sir." Saya kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ada perasaan lega, bingung, sakit hati yang bercampur. Lega karena pihak FRRO tidak menginterogasi macam-macam. Sakit hati karena saya sudah jauh-jauh ke Shamshabad dan pada akhirnya hanya diminta untuk upload dokumen ulang. Padahal sebetulnya hal itu sangat mungkin untuk disampaikan melalui 'status enquiry' di website tanpa harus ke Shamshabad mengorbankan waktu kuliah, uang, dan tenaga. Bingung karena saya harus membuat Rental Agreement baru, dimana saya harus ke notaris untuk mendapatkan 'kertas bermaterai'. Saya tidak tahu menahu tentang notaris di Sainikpuri dan prosedur pengurusan RA. 

Saya keluar dari gedung tersebut dan mengeluarkan HP untuk memesan taksi, cukup kaget juga ketika melihat HP tidak bernyawa alias tidak tidak ada sinyal. Saya mondar-mandir kesana-kemari mencari sinyal namun tak juga muncul "tanda-tanda kehidupan". Saya menghampiri tukang bajaj dan meminta dia mengantarkan ke Falaknuma Railway Station namun dia tidak mau. Tak lama kemudian saya melihat bus kecil melintas. Pikir saya saat itu naik saja dulu transportasi apapun yang penting bisa keluar dari "hutan" ini dan dapat sinyal. Saya sudah mencoba untuk melambai-lambaikan tangan kearah mini bus tersebut dan berteriak namun tak mau juga dia berhenti. Sepertinya pak supir tidak melihat dan mendengar panggilan saya. Akhirnya saya hanya berdiri masih sambil melihat HP sampai ketika ada seorang supir taksi menawarkan jasanya. Dia memasang tarif 900 rupees untuk ke Sainikpuri. Saya menawar 600 rupees namun ditolak oleh nya karena menurut dia supir taksi biasa (bukan online macam Uber). Kemudian dia menawarkan 500 rupees dan saya diantar sampai Mehdipatnam dan dari sana saya bisa melanjutkan ke Sainikpuri dengan Uber. Bagus juga nih idenya si Bapak, paling tidak saya keluar dulu dari tempat "tak bernyawa'' ini. Deal.

Sampai rumah saya menyampaikan kendala saya terkait Rental Agreement kepada Uncle pemilik rumah dan saya sangat bersyukur karena beliau memberi saya kertas bermaterai baru yang sudah dibelinya bulan lalu di notaris. Saya persiapkan dokumen baru untuk Rental Agreement, dan saya tidak perlu repot-repot lagi ke notaris. Setelah itu saya upload lagis semua dokumen dan RA baru. Tiga hari kemudian saya mendapatkan email bahwa status perpanjanan visa saya sudah granted :)