Skip to main content

Hiruk Pikuk Perpanjangan Visa di Hyderabad

Sejak kepindahan saya dari Delhi ke Hyderabad pada Agustus 2016 silam, tiap tahun saya diwajibkan untuk apel ke Foreign Regional Registration Office (FRRO) alias kantor imigrasi untuk perpanjangan Visa Stay. Hal ini cukup horor karena saya agak trauma berurusan dengan kantor imigrasi. Bagi teman-teman yang pernah membaca tulisan saya The Hardest Moment in India : My Transisition from Delhi to Hyderabad sedikitnya ada gambaran mengapa saya sampai bisa terserang penyakit traumatisme. 

Tidak seperti saat di kantor imigrasi Delhi, pengalaman saya di kantor imigrasi Hyderabad cukuplah 'menenangkan'. Saat pertama kali ke kantor imigrasi Hyderabad pun saya dipertemukan dengan malaikat baik berjubah manusia dengan titel pegawai imigrasi. Beliau adalah malaikat penyelamat kedua setelah direktur FRRO Delhi. Beliaulah yang memperjuangkan keberlangsungan pendaftaran studi saya di Osmania University. Saya masih ingat wajah beliau. Tiap kali saya ke FRRO Hyderabad untuk perpanjangan visa, mata saya selalu mencari beliau, walaupun tidak menyapa dan belum tentu beliau ingat saya juga hehe... namun tiap kali melihat beliau saya selalu tersenyum kecil, berterimakasih dan mendoakan beliau dalam hati.

Visa saya jatuh tempo pada 15 September 2018 jika terlambat maka akan dikenai denda sekitar Rs 2000 (kurang lebih 400ribu Rupiah). Jumlah yang sangat sayang untuk kelas mahasiswa rantauan. Mulai tahun ini semua proses perpanjangan dokumen di imigrasi dilakukan secara online. Secara teori, kita tidak perlu nge-print dan fotokopi semua dokumen yang dibutuhkan dan datang ke kantor imigrasi. Cukup bermodal internet dan laptop, semua dokumen tinggal di-upload di website resmi FRRO dan menunggu respon atau instruksi lanjutan pada kolom 'Status Enquiry'.

Saya agak deg-deg-seer karena ini adalah pertama kalinya saya perpanjang visa secara online. Beberapa teman Indonesia disini yang sudah mencicipi fasilitas online FRRO bercerita bahwasaannya ada kemungkinan kita akan tetap di panggil untuk wawancara di kantor FRRO. Tidak hanya sistem online saja yang menjadi hal baru di FRRO, namun kantor FRRO juga sudah bermigrasi yang tadinya di CGO Tower ke daerah Shamshabad dekat bandara Rajiv Gandhi International Airport. Jarak antara rumah saya di Sainikpuri ke Shamshabad cukup jauh, sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan taksi. Pulang pergi maka total sudah empat jam sendiri dalam sehari habis untuk perjalanan saja.

Sejak awal saya sudah merasa tidak tenang dengan sistem baru tersebut. Hal itu karena latar belakang pengalaman yang kurang mengenakan dengan FRRO. Selain itu, setiap kali saya melakukan perpanjangan visa, ada saja hal yang salah yang membuat saya harus pulang dan memperbaiki dokumen dan datang lagi di hari kemudian. Namun saat itu tidak terlalu menjadi masalah besar karena saat itu FRRO masih berlokasi di CGO Tower, hanya 30-40 menit perjalanan dengan taksi. Nah sekarang? Kalau sampai dokumen ada yang bermasalah, bisa bangkrut dan nggak makan sebulanlah saya. Entah kenapa, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya dokumen saya tidak pernah sempurna dimata FRRO :(

Malam itu, setelah mendapatkan bonafide letter dari kampus, saya langsung melakukan registrasi di website FRRO dengan menggunakan email, nomor HP, dan nomor passport. Kemudian saya log in dan mengisi formulir online yang sudah disediakan dan dilanjutkan dengan meng-upload dokumen sesuai dengan permintaan. Saya agak terkejut ketika diminta untuk upload dokumen Tenant Verification pasalnya tahun-tahun sebelumnya tidak pernah diminta dokumen tersebut. Saya mencoba untuk mencari tahu tentang dokumen tersebut dan sampailah saya di website kepolisian India. Disana sudah ada formulir Tenant Verification. Saya unduh dan saya pelajari isi formulir tersebut. Kemudian saya iseng tanya teman dari Gambia yang juga sedang melakukan perpanjangan Resident Permit (RP) di FRRO. Dia bercerita bahwa dia sudah pernah meminta tanda-tangan dan stempel dari kantor polisi Sainikpuri untuk Tenant erification namun ditolak oleh pihak kepolisian setempat dan justru malah menyuruh dia untuk ke kantor polisi besar di daerah Gachibowli. Batin saya, 'gila aja dari Sainikpuri ke Gachibowli bisa sejam lebih pake taksi, itupun cuma buat cari tanda-tangan dan stempel doang'. Karena pertimbangan waktu, lokasi, dan biaya akhirnya saya putuskan untuk skip dokumen tersebut. Saya hanya berdoa dalam hati semoga itu tidak menjadi penghalang nantinya.

Saya cukup diburu waktu sebab saya bisa mulai mengajukan perpanjangan visa 10 hari sebelum expiry date lantaran kemepetan saya dalam membayar SPP di kampus yang itu kaitannya dengan urusan keluarga di Indonesia. Sebetulnya kita dianjurkan untuk melakukan perpanjangan satu bulan sebelum expiry date, jadi sepuluh hari bisa dibilang mepet jika semua dokumen lengkap dan sempurna, dan amat sangat mepet jika dokumen ada yang bermasalah apalagi kurang. 

Sehari setelah melakukan registrasi online saya cek status enqiry di website dan tertulis "Personal Meeting Required, on 7/9/2018 at 10.30. Please bring all the original documents". Mental saya cukup down karena saya harus pergi ke kantor FRRO yang sangat jauh sendirian. Selalu terbayang masa-masa dimana saya masih di Delhi memohon kepada pihak FRRO supaya saya tidak dideportasi. Seharian itu saya mempersiapkan semua dokumen dan yang paling penting adalah mempersiapkan mental untuk menghadapi FRRO. Malamnya saya tidur lebih awal supaya esoknya tidak kelelahan selama perjalanan panjang. 

Saat itu hari Jum'at dan cuaca cukup mendung. Saya berangkat dari rumah pukul 08.00. Selama di perjalanan, saya tak henti-hentinya membaca zikir laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzhalimiin dengan harapan minimal beban dan kekhawatiran di dada bisa sedikit berkurang. Doa Nabi Yunus tersebut pernah menyelamatkan saya minggu lalu saat harus berurusan dengan Foreign Office Osmania University. 

Hampir 2.5 jam perjalanan akhirnya saya sampai di kantor FRRO, Shamshabad. Benar apa kata teman saya, tempatnya memang nampak 'terisolasi' karena jauh dari keramaian. Kanan kiri kantor megah tersebut hanyalah pepohonan kering dan beberapa pohon hidup. Jalan raya tepat didepannya pun terlihat cukup lengang, jarang dilalui transportasi umum. Saya turun dari mobil dan memandangi bangunan baru tersebut dan berkata dalam hati, "Okay Rahma, this is it! Everything will be alright". Saya masuk menemui resepsionis dan diarahkan ke lantai 1. Saya ke lantai 1 dan masuk ke ruang panjang cukup lebar yang ditunjukkan oleh satpam. Saya melihat kanan kiri ruangan tersebut dan mencoba untuk menyerap setiap pemandangan yang terlihat supaya saya lebih tenang di ruangan baru tersebut. 

Saya menyerahkan formulir dan menunggu panggilan. Sepuluh menit kemudian saya dipanggil oleh pegawai FRRO. Saya agak gugup ketika ditanyai terkait dokumen-dokumen yang saya berikan. Ada beberapa hal yang saya tidak bisa jawab karena itu memang kesalahan kampus. "You must re-upload all your documents again and please make a new Rental Agreement (RA)". Saya tidak bisa berkata apa-apa selain "Okay, sir." Saya kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ada perasaan lega, bingung, sakit hati yang bercampur. Lega karena pihak FRRO tidak menginterogasi macam-macam. Sakit hati karena saya sudah jauh-jauh ke Shamshabad dan pada akhirnya hanya diminta untuk upload dokumen ulang. Padahal sebetulnya hal itu sangat mungkin untuk disampaikan melalui 'status enquiry' di website tanpa harus ke Shamshabad mengorbankan waktu kuliah, uang, dan tenaga. Bingung karena saya harus membuat Rental Agreement baru, dimana saya harus ke notaris untuk mendapatkan 'kertas bermaterai'. Saya tidak tahu menahu tentang notaris di Sainikpuri dan prosedur pengurusan RA. 

Saya keluar dari gedung tersebut dan mengeluarkan HP untuk memesan taksi, cukup kaget juga ketika melihat HP tidak bernyawa alias tidak tidak ada sinyal. Saya mondar-mandir kesana-kemari mencari sinyal namun tak juga muncul "tanda-tanda kehidupan". Saya menghampiri tukang bajaj dan meminta dia mengantarkan ke Falaknuma Railway Station namun dia tidak mau. Tak lama kemudian saya melihat bus kecil melintas. Pikir saya saat itu naik saja dulu transportasi apapun yang penting bisa keluar dari "hutan" ini dan dapat sinyal. Saya sudah mencoba untuk melambai-lambaikan tangan kearah mini bus tersebut dan berteriak namun tak mau juga dia berhenti. Sepertinya pak supir tidak melihat dan mendengar panggilan saya. Akhirnya saya hanya berdiri masih sambil melihat HP sampai ketika ada seorang supir taksi menawarkan jasanya. Dia memasang tarif 900 rupees untuk ke Sainikpuri. Saya menawar 600 rupees namun ditolak oleh nya karena menurut dia supir taksi biasa (bukan online macam Uber). Kemudian dia menawarkan 500 rupees dan saya diantar sampai Mehdipatnam dan dari sana saya bisa melanjutkan ke Sainikpuri dengan Uber. Bagus juga nih idenya si Bapak, paling tidak saya keluar dulu dari tempat "tak bernyawa'' ini. Deal.

Sampai rumah saya menyampaikan kendala saya terkait Rental Agreement kepada Uncle pemilik rumah dan saya sangat bersyukur karena beliau memberi saya kertas bermaterai baru yang sudah dibelinya bulan lalu di notaris. Saya persiapkan dokumen baru untuk Rental Agreement, dan saya tidak perlu repot-repot lagi ke notaris. Setelah itu saya upload lagis semua dokumen dan RA baru. Tiga hari kemudian saya mendapatkan email bahwa status perpanjanan visa saya sudah granted :)

Comments

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2019-2020
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) d…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…