Skip to main content

Pengalaman Bekerja di KBRI New Delhi

Bersama Bapak Jonan (baju biru), mantan Menteri Perhubungan

Berkesempatan untuk magang apalagi bekerja di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) merupakan sebuah pengalaman yang amat sangat langka. Saat itu di kantor Atdik kondisinya memang sedang membutuhkan tenaga administrasi tambahan karena hanya ada satu staf. Rejeki saya juga, staf tersebut adalah senior saya sendiri di Delhi University dan memang sudah akrab sejak lama sehingga sudah tidak ada lagi acara sungkan, canggung, apalagi grogi :D

Saya mulai 'ngantor' sehari setelah itu karena memang banyak sekali pekerjaan yang harus ditangani jadi tidak perlu banyak basa basi untuk ijab qobulnya. Kontrak kerja saya saat itu selama enam bulan, walaupun pada akhirnya saya bekerja selama tujuh bulan. Jobdesc saya 'nggak jelas' alias 'ngerjain apa aja yang disuruh'. Jadwal ngantor Senin sampai Jum'at jam 09.00 - 17.00 namun biasanya saya akan pulang pukul 18.00 atau 19.00. Beban kerja kami bagi tidak rata karena senior sayalah staf sesunggunya dan saya adalah staf outsoursing, paling tidak begitulah yang tertulis di lembar kontrak. 

Beban kerja yang tidak ratapun sudah amat sangat memeras otak, tenaga, dan kadang pikiran. Namun hal tersebut tidak berjalan lama karena senior saya harus pulang ke Jakarta beberapa bulan untuk tes sekaligus pengurusan paspor biru (atau hitam? - saya agak lupa). Jadilah saya bekerja sendirian di kantor.

Theoritically 9 to 5
Setiap pagi saya berangkat ke kantor mulai pukul 7.30. Bus nomor 604 merupakan angkutan sehari-hari saya saat bekerja karena murah, hanya Rs 20 (sekitar 4000 Rupiah), dan nyaman karena bus nya ber-AC. Perjalanan memakan waktu 30 menit karena jalan raya masih belum terlalu macet, itu alasan kenapa saya selalu berangkat lebih pagi. Selain itu berangkat pagi juga memberikan saya kesempatan untuk menikmati perjalanan sambil berkontemplasi :D 

Saya senang sekali melihat kesibukan para manusia dipagi hari, berjuang mempertahankan kehidupannya dan keluarganya. Tuhan selalu menyuguhkan kita dengan rezeki baru setiap hari, tinggal mau diambil atau diabaikan rezeki itu terserah pelakunya. Namun kadang ada juga mereka yang mengabaikan rezekinya karena malas, dan kalau rezekinya dialihkan ke yang lebih rajin, dia protes, tapi suruh jemput gak mau.... :p Mereka yang setiap pagi saya lihat dari balik kaca bus sudah narik becak atau dorong gerobak sayur adalah bukti ketaatannya pada Sang Pencipta - sadar atau tidak sadar - tidak ada kompromi bahwa bertahan hidup adalah kewajiban semua manusia, diluar itu artinya sudah putus asa dengan kehidupan dan kalau dirunut lagi ada kemungkinan bisa jadi dosa (CMIIW)

Saya selalu turun di  halte depan China Embassy dan berseberangan dengan Norwegian Embassy di daerah Shanti Path. Dari halte saya harus berjalan sekitar 150 meter menuju KBRI. Sampai di KBRI saya langsung menuju kantor Atdik. Biasanya uncle-uncle India yang bekerja di KBRI suda rajin menyapu, menyingkirkan daun-daun kering, ataupun mencuci mobil. Pak Satpam pun juga sudah standby entah sejak jam berapa. "Good morning Ibu" begitu sapanya setiap pagi sembari membukakan pintu gerbang dan menyodorkan kunci kantor untuk saya. Sampai di kantor saya menyalakan semua lampu, AC, komputer, dan membereskan kertas atau majalah-majalah yang berserakan di ruang tamu kantor. Setelah itu saya sarapan dengan sereal dan susu yang sudah tersedia di kantor. Selesai sarapan saya mulai bekerja di depan komputer.

Pak Atdik biasanya datang pukul 09.30. Karena di kantor tersebut hanya kami berdua sehingga ketika beliau datang suasana menjadi agak tegang. Pak Atdik adalah sosok yang amat sangat disiplin, rapi, detail, cekatan, tepat waktu, berwawasan luas sehingga tak heran jika beliau dipercaya untuk memegang kemudi Kantor Atase Pendidikan. Latar belakangnya sebagai seorang aktivis pendidikan, pendidik, dan Guru Besar Matematika di ITB lebih dari cukup untuk membayangkan skala kesungguhan beliau akan kerapihan dan ketelitian. Tak jarang beliau memberikan koreksi untuk surat-surat yang saya buat. Dalam membuat surat, beliau sangat menekankan kepada saya akan pemilihan kata, pembuatan kalimat atau paragraf efektif, hingga penggunaan tanda baca seperti titik dan koma. Pengalaman sejak SMA menjadi seorang sekretaris organisasi dan passion saya dalam menulis nampaknya masih jauh dari nilai D saat diaplikasikan dalam dunia kerja. Pernah suatu ketika karena sedang lola, saya sampai empat kali membuat surat yang sama karena koreksi dari beliau belum bisa saya cerna sehingga beberapa kali saya harus memperbaiki susunan kalimat dan paragraf surat. Beruntung pekerjaan administrasi dan kesekretariatan adalah salah satu 'hobi' saya, sehingga tak pernah sekalipun saya baper kalau dapat banyak koreksi, sebaliknya masukan beliau benar-benar saya perhatikan dan terima dengan hati yang welcome.

Jam kerja 9 pagi hingga 5 sore nampaknya hanyalah teori belaka sebab faktanya saya sering pulang larut pukul 9 malam karena pekerjaan yang menumpuk. Tak jarang saya menginap di wisma tamu KBRI saat Atdik sedang kebanjiran tamu dari Indonesia dan harus dijemput di bandara pukul 5 atau 6 pagi. Saya pernah pulang pukul 12 malam karena harus bolak balik ke bandara sebab waktu ketibaan para tamu yang berbeda-beda. Bekerja saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu pun sudah menjadi hal biasa. Jika sedang kebanjiran tamu, biasanya selama hari Sabtu dan Minggu saya akan menemani para tamu jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Delhi ataupun sekedar belanja. Tak jarang pula mereka ingin mengunjungi Taj Mahal yang lokasinya sekitar  3 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Asik sih asik bisa jalan-jalan gratis, tapi kalau tempatnya itu-itu saja ya rasa asiknya sudah membiasa dan selain itu ada rasa tanggung jawab lebih mendominasi dari pada rasa jalan-jalannya karena para tamu yang datang adalah 'orang besar' seperti rektor, dekan, Kemdikbud, tokoh pemerintahan, dll. 

Working Out Load
Membuat segala macam surat, membalas email, korespondensi dengan lembaga-lembaga di Indonesia (Kemdikbud, BPKLN, Kemlu, Universitas di Indonesia dan India, Think Tank, dll), mempersiapkan dokumen dan kebutuhan Pak Atdik untuk keperluan rapat maupun perjalanan dinas ke luar kota atau luar India, sampai hal yang paling krusial adalah masalah keuangan. Setiap bulan saya harus membuat laporan keuangan bulanan yang dilaporkan ke bendahara KBRI. Sayapun juga harus mengatur pengeluaran belanja kantor. Mengurus keuangan merupakan pekerjaan terhoror dari pada membuat surat atau korespondensi. Jika sudah mendekati akhir tahun maka kami akan disibukkan dengan tutup buku keuangan tahunan karena akan ada audit dari pemerintah dan KPK. Hal tersebut yang membuat saya tidak pulang berhari-hari dan tetap tinggal di kantor walaupun hari libur. 

Disamping pekerjaan wajib utama, banyak pekerjaan sampingan yang cukup memakan waktu karena saat itu saya hanya sendirian. Belanja alat tulis kantor, membayar telepon dan wifi ke Airtel, menjemput tamu, memperbaiki printer atau mesin fotokopi, dan lain sebagainya.

Saya sungguh bersukur pernah mendapatkan kesempatan itu. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disana yang tidak pernah saya temukan di buku Microbiology, Genetics, apalagi Chemistry. Bisa bertemu dan interaksi dengan orang besar dan hebat merupakan bonus tersendiri apalagi sampai bisa jalan-jalan bareng dengan mereka. Saya sungguh beruntung pernah menjadi 'murid' Pak Atdik di kantor Atdik dan bisa tiap hari berinteraksi dengan seorang Guru Besar Matematika ITB yang ide dan opininya sudah 'berserakan' di tiap edisi harian Kompas.


Sainikpuri, 16/9/2018

Comments

Popular posts from this blog

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2020-2021

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) 2020-2021
Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.
Sekilas Tentang ICCR  Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) da…

[FAQ] Mencari Tempat Tinggal di India

Pertanyaan seputar mencari tempat tinggal di India dalam rangka studi merupakan salah satu pertanyaan yang cukup populer. Saya juga baru menyadari bahwa saya belum pernah membuat tulisan terkait hal tersebut. Jadi bagi teman-teman yang sedang istikharah untuk studi di India, mari kita belajar dulu ilmu mencari tempat tinggal disini.

Artikel ini berjudul 'mencari tempat tinggal' karena memang dikhususkan untuk teman-teman yang siapa tahu nanti kampus nya tidak menyediakan asrama (hostel) seperti kampus-kampus saya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman selama saya sekolah di Delhi dan Hyderabad namun informasi yang tertulis bersifat umum.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa untuk teman-teman yang hendak belajar di kampus India, alangkah baiknya mencari informasi dahulu apakah kampus memfasilitasi hostel bagi mahasiswa asing. Informasi bisa didapatkan melalui website kampus atau bertanya langsung kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di …

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

This world already lacks of love and humanity. Do not live in that kind of world. Build your own world. Decorate it with love, joy, and humanity, and live in it. That is the actual world. The prior is fake, or you can nickname it, The Rotating Sphere. If your own world does not have those accessories, then where will you run when the sphere becomes totally loveless?
We are too busy running for president, or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies, or memorizing a hundred digits of Pi. We describe it as civilization. But pity, within us, are uncivilized.
Be on The Mother Earth. Stay on Her lap. But do not live it. Live what is within, and you will be more humane.
****

I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publicati…