Mendidikan Diri di Anak Benua

9:04 PM Add Comment
Graduation Ceremony by PPI Hyderabad


 Pertanyaan terpopuler selama saya menempuh pendidikan di India adalah, ‘Kenapa memilih India?’. Jawaban saya sederhana, karena Bahasa Inggris saya biasa saja. Kepercayaan diri saya tidak sehebat itu jika harus kuliah di Eropa dengan modal bahasa rata-rata. Maka dari itu sebisa mungkin saya mencari negara tujuan belajar dimana Bahasa Inggris bukan menjadi bahasa ibu namun menjadi bahasa resmi negara tersebut.  Jika saya kuliah di negara dimana Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu, maka mereka akan lebih memahami saat tata bahasa Inggris saya kurang pas ataupun tenses yang salah, karena saya  bukan English native speaker, begitu pula dengan mereka.


Saya merasa kuliah di India merupakan batu pijakan untuk bisa kuliah di Eropa. Jarang sekali ada beasiswa S-1 luar negeri. Oleh karena itu ketika ada pembukaan beasiswa India untuk S-1 sampai S-3 tanpa banyak basa-basi saya langsung mendaftar.

India dalam Sejenak
India, negara berpenduduk lima kali lebih banyak dari pada Indonesia, sesungguhnya (dan memang sebetulnya) mempunyai ikatan cukup erat dengan Tanah Air beta. Walaupun latar belakang saya adalah sains, tapi saya pernah kok kenalan dengan cabang ilmu yang disebut Sejarah. Si Sejarah bercerita bahwa mantan Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru, pernah berkarib dengan Ir. Soekarno. Mungkin tak boleh dilupakan juga bahwa Bahasa India kuno, Sansekerta, pernah diadopsi oleh negara kita dalam rangka pemberian nama Indonesia.

Selain Bollywood, banyak ‘kemewahan’ yang ditawarkan oleh negara ini. Siapa yang sangka bahwa Negeri Pak Gandhi ini pernah melakukan Mars Orbiter Mission termurah? Tak hanya itu, sembilan warga negara India pernah menerima penghargaan Nobel. Angka yang bisa dibilang lumayan untuk negara yang (masih) berkembang. Mantan negara jajahan Inggris ini juga tak kalah saing di dunia Multinational Corporation. Tak sedikit nama-nama India yang masuk dalam jajaran CEO, seperti Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe) dan lain sebagainya. India juga sudah punya angkutan umum metro atau subway yang sangat bagus dan murah. Mobil asli India, Tata Nano, pun sudah ‘berkeliaran’ dimana-mana. Dua bandara internasional India, Indira Gandhi International Airport (New Delhi) dan Chhatrapati Shivaji International Airport (Mumbai) tahun 2015 lalu dinyatakan sebagai bandara terbaik kedua se-Asia Pasifik setelah  Singapore Changi Airport.

Kuliah Bak Kacang Goreng
Secara umum biaya pendidikan kampus negeri di India lebih murah dari pada kampus negeri di Indonesia. Tak sedikit mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing dari Thailand, Cina, Korea Selatan belajar di India tanpa beasiswa alias self-financing lataran biaya pendidikan dan biaya hidup yang murah. Saya ambil contoh Delhi University, universitas terbaik di India, untuk jurusan sains hanya mematok biaya Rs 19.000 (± Rp 4 juta) per tahun. Untuk jurusan ilmu sosial mahasiswa hanya perlu membayar Rs 7.000 (± Rp 1.4 juta) per tahun untuk jenjang S-1 dan Rs 13.000 (± Rp 2.6 juta) per tahun untuk jenjang S-2. Kampus favorit lain adalah Jawaharlal Nehru University (JNU) yang hanya mematok biaya maksimal USD 750 per tahun untuk program sains jenjang S-2 dan S-3. Biaya tersebut adalah biaya untuk mahasiswa asing. Untuk warga lokal sendiri, di JNU, cukup dengan Rs 300 (± Rp 60 ribu) per tahun sudah bisa kuliah S-2. Kampus JNU hanya membuka program S-2 dan S-3.

Selain biaya kuliah yang sangat murah, biaya buku pun tak kalah murahnya. Kami mahasiswa Indonesia tak perlu lagi repot-repot mencari buku bajakan. Untuk kualitas buku tak perlu diragukan. Buku-buku terbitan Oxford University Press, Cambridge University Press, Mc Graw Hill, Willey, sudah bisa ditemukan dimanapun bahkan di toko buku kecil sekalipun. Buku Microbiology oleh J. Pelczar, JR terbitan Mc Graw Hill Education setebal hampir seribu halaman bisa didapat hanya dengan Rp 135 ribu. Buku-buku terbitan India sendiri juga tak kalah bagusnya. Buku-buku kuliah terbitan India rata-rata ditulis oleh para dosen yang sudah S-3 bahkan postdoctoral. Rata-rata aktivitas dosen-dosen disini selain mengajar adalah menulis buku. Tak sedikit dosen saya yang sudah menerbitkan banyak buku. Saya pribadi lebih senang dengan buku-buku karangan dosen India karena harganya lebih murah, walaupun buku terbitan internasional juga murah, dan penggunaan Bahasa Inggris yang lebih simpel sehingga mudah dipahami.

Menimba Sains di India
Saya masih ingat hari pertama kuliah, jujur saja, saya merasa seperti orang yang tidak pernah sekolah. Hal pertama yang cukup membuat saya syok adalah scientific English. Selama saya sekolah di Jogja, fokus saya belajar Bahasa Inggris hanya sebatas kemampuan berkomunikasi secara umum. Kalau saya tidak kuliah di India mungkin saya tidak akan pernah tau bahwa Bahasa Inggris nya Alkana adalah Alkane, Alkena adalah Alkene, and Alkuna adalah Alkyne. Itu hanya sebagian kecilnya saja. Hingga sekarang saya masih terus belajar untuk itu. Teman saya orang Indonesia yang juga anak sains pun menghadapi permasalahan yang sama terkait scientific English. Walaupun saat itu saya dan teman-teman India saya sama-sama baru lulus SMA, namun saya merasa pengetahuan mereka khusunya tentang sains jauh melampaui saya. Padahal saat di Indonesia, saya sekolah di SMA negeri di Yogyakarta, yang notaben nya adalah Kota Pendidikan, dan sekolah saya termasuk lima besar SMA negeri terbaik di DIY saat itu.

Satu hal yang cukup menggembirakan tentang India bagi para penggemar ilmu eksak adalah spesifikasi jurusan. Jurusan ilmu alam untuk jenjang S-1 di India menurut saya cukup variatif. Tidak hanya sekedar Biologi, Kimia, atau Fisika namun sudah lebih spesifik seperti Genetics, Biotechnology, Microbiology, Biochemistry, Biomedical Sciences, Botany, Zoology, Molecular Biology, dsb. Saya pernah cek di NTU dan NUS untuk jurusan sains jenjang S-1 dan S-2 tak sevariatif disini.

Sistem jurusan interdisipliner pun tersedia di kampus India. Misal di kampus saya sendiri ada beberapa kombinasi jurusan yang bisa diambil antara lain Microbiology, Genetics, and Chemistry (MGC), Microbiology, Biochemistry, and Chemistry (MBiC), Biotechnology, Genetics, and Chemistry (BtGC), Mathematics, Physics, and Computer (MPC); Electronics, Mathematics, and Computer (EMC), dsb. Saya pribadi melihat sistem jurusan kombinasi ini sangatlah bagus mengingat saat ini kita hidup di era interdisipliner. Walaupun demikian tak menutup kemungkinan juga jika ingin fokus pada satu disiplin ilmu saja sebab program honors pun banyak tersedia.

Menyandang gelar Ph.D nampaknya bukan lagi jadi barang mewah di India. Tak heran jika hampir semua dosen disini sudah mengantongi gelar Ph.D bahkan Postdoctoral. Sejak semester pertama pun kami sudah ‘disuguhi’ dengan dosen-dosen hebat. Satu hal yang saya senang dengan dosen India adalah, mereka tidak pernah absen mengajar. Mereka hanya mengajar di satu tempat jadi sangat mudah untuk menemui dosen kapanpun jika dibutuhkan. Dua tahun saya belajar di India belum pernah menemukan dosen yang sibuk mengajar sekaligus melakukan penelitian atau proyek. Biasanya mereka akan mengajukan izin cuti untuk penelitian supaya bisa digantikan oleh dosen lain.
Masalah bahasa saya yakin semua mahasiswa Indonesia mengakui bahwa India sudah jauh lebih baik dalam kemampuan berbahasa Inggris. Di kelas saya sendiri masih ada satu atau dua orang yang belum bisa berbicara dalam Bahasa Inggris dengan lancar. Walau demikian, mereka tidak malu untuk berbicara dalam Bahasa Inggris walaupun belum terlalu fasih. Dalam hal menulis, membaca, dan mendengar secara umum mahasiswa disini sudah lancar sebab saat ujian pertanyaan dan jawaban ditulis dalam Bahasa Inggris. Buku pelajaran dan kegiatan belajar mengajarpun semua dalam Bahasa Inggris.

Perkuliahan Sehari-hari
Perkuliahan disini cukup padat. Tak seperti kampus di Indonesia pada umumnya dimana dalam satu hari hanya ada beberapa kelas saja, perkuliahan disini lebih mirip seperti sekolah. Masuk kuliah setiap Senin - Sabtu pukul 10.00 hingga 16.30. Istirahat setiap jam 11.45 dan 14.00.
Dalam satu hari ada empat kelas teori, masing-masing 60 menit, dan satu kelas praktikum selama 120 menit. Proses belajar mengajar hampir tidak pernah dilakukan dengan proyektor atau LCD layaknya di Indonesia. Disini selalu mengandalkan buku dan papan tulis. Selama 60 menit kelas teori, 40 menit dosen akan menjelaskan dan sisa 20 menit untuk mendikte poin-poin penting. Kami dilarang untuk mencatat saat dosen menjelaskan sebab penjelasan dosen selalu berkaitan dengan pemahaman. Satu mata kuliah teori kami mencatat rata-rata 3-4 halaman. Untuk praktikum di lab dilakukan secara individu. Saat praktikum setiap mahasiswa harus bisa mandiri. Jika ada hal yang belum dimengerti selalu diwajibkan bertanya kepada dosen. Saya pernah kena marah karena bertanya pada teman saat praktikum, bukan pada dosen.

Ada saat dimana saya tidak ada praktikum. Biasanya saya akan ke perpustakaan bersama teman-teman untuk mencari bahan tugas. Penugasan atau assignment disini tidak seperti di Indonesia yang bisa dikerjakan dengan Microsoft Word. Semua tugas yang diberikan dosen harus ditulis tangan. Satu tugas biasanya akan menghabiskan  20-25 halaman kertas HVS A4. Tak heran jika dosen biasanya akan memberikan tugas satu bulan sebelumnya. Perlu diketahui bahwa India sangatlah book-oriented. Google nampaknya tidak terlalu menarik perhatian mahasiswa disini. Jika ada hal yang mereka tidak paham, mereka lebih senang mencarinya di buku dari pada google.

Sistem Ujian Semester
Ujian Akhir Semester (UAS) adalah salah satu topik unggulan saat kita membahas pendidikan India. Sistem UAS untuk jenjang S-1 dan S-2 kurang lebih sama. Tidak hanya bagi mahasiswa Indonesia, bagi mahasiswa lokal pun, ujian selalu menjadi momok tersendiri. Bagi mereka nilai adalah segala-galanya. Tak heran saat mendekati ujian mahasiswa akan belajar mati-matian.
Sistem ujian disini amat kontras dengan Indonesia. Tak jarang saat awal-awal semester mahasiswa Indonesia agak keteteran dalam menyesuaikan. Bentuk ujian disini adalah esai. Satu mata kuliah mahasiswa harus menuliskan jawaban rata-rata 20-30 halaman. Sebetulnya tidak ada jumlah minimal halaman untuk menulis jawaban, namun jenis pertanyaan yang diajukan memang mengharuskan kami menulis sebanyak itu. Waktu yang diberikan tiap mata kuliah di ujian teori adalah 3 jam. Tidak ada waktu istirahat. Tidak ada istilah boleh dikerjakan dirumah.

Bentuk pertanyaan yang diajukan di semua mata kuliah adalah short answer dan long answer. Untuk tipe short answer biasanya saya hanya menulis jawaban sekitar dua halaman sedangkan untuk long answer bisa sampai lima halaman atau lebih. Untuk long answer sebisa mungkin saya menyertakan gambar atau diagram. Gambarpun juga saya buat dengan pensil dan tangan saya sendiri.
Dengan sistem ujian yang sedemikian rupa, kami memang selalu dituntut untuk banyak membaca. Satu bulan sebelum UAS dosen sudah mulai ‘menghantui’ kami dengan kata ujian. Persiapan ujian saya lakukan minimal 1,5 bulan sebelumnya. Satu setengah bulan itupun saya tidak bisa sepenuhnya fokus karena satu bulan sebelum UAS aka nada Internal Exam dan tiga minggu sebelumnya akan ada pre-final practical exam. Pre-final practical exam bisa dibilang seperti simulasi ujian praktek. Ujian praktek sendiri akan dilakukan setelah UAS selesai.

Budaya Belajar
India sangat menghargai mereka yang belajar. Mereka selalu yakin bahwa ilmu pengetahuanlah yang bisa membuat kehidupan lebih baik di masa depan. Seperti yang sudah saya tulis diatas bahwa UAS disini bisa dibilang cukup ‘horor’. Tak heran jika mahasiswa India punya semangat membaca yang luar biasa. Dimanapun kita bisa menemukan orang yang asik berkutat dengan bukunya. Metode belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) pun tak berlaku disini. Mahasiswa Indonesia senior, alumni Delhi University, pernah menasehati saya , “Kalau kamu persiapan UAS cuma satu bulan, mending nggak usah ikut ujian. Ikut ujian tahun depan saja.” Kasarannya adalah, jika persiapan UAS hanya satu bulan sudah bisa dipastikan kita tidak lulus.

Pengalaman belajar di negara yang sedang berproses untuk menjadi negara maju menurut saya adalah pengalaman yang luar biasa. Dari situ kita bisa lebih memahami proses dan bentuk kerja keras negara itu dalam membangun negaranya. Jika pengetahuan kita akan India hanya sebatas film Bollywood atau kain sari nya, think again! Di luar sana banyak negara yang justru mengenal India karena roketnya, dokternya, misi ke Mars termurah-nya, CEO-nya, dan lain sebagainya. Dan nampaknya Indonesia perlu mencontoh budaya belajar negara berkembang satu ini. (Rahma S)



Note : Artikel ini pernah dimuat di buletin Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4)

A Poem on Love : The Landlord

11:28 PM Add Comment

[PART I]
I found a home,
I found a home, but that home left me.
Another home came to me.
I went inside the home,
and I found a piece of heart.
I stared at it closely.
The heart was glowing like a diamond.
I took the heart with both hands carefully.
Oh! the heart was so delicate,
and warm, and was radiating affection.
I was wondering,
"What kind of heart is this?"
"What kind of home is this?"
Suddenly I remembered my own heart.
I took mine. I was astounded.
Both hearts were fit perfectly to each other like pieces of a puzzle.
I questioned again, "Whose home is this? I want to see the owner of this home."I walked around the home, holding both the hearts looking for The Landlord.
And that time, I saw you, standing nearby the door.
You were heart-less.
And I understood that you were The Landlord.
 
[PART II]
The heart-less Landlord kept staring at me.
His gaze on me like a child who had just seen his mother for the first time.
He came closer and took his heart delicately from my hand.
"You own a powerful heart, Your Majesty. It's been wounded but still radiating warmth and affection," I said.
But The Landlord spoke none.
"Apology. I have committed a sin by displacing it from the nest." Still, he spoke none.
His tongue now pounded louder than his heart.
But still, he spoke none.

I gazed to the window.
The sun began to set upon the lap of The Mother Earth.
I wished a good night to the asleep sun.

"Bring me home. Bring my heart home. I see my home in you. I see The Eden in you." said the Landlord.
But I spoke none.


*******


I wrote this poem exactly one year ago. 

A Poem on Humanity : The Rotating Sphere

12:33 AM Add Comment

This world already lacks of love and humanity.
Do not live in that kind of world.
Build your own world.
Decorate it with love, joy, and humanity,
and live in it.
That is the actual world.
The prior is fake,
or you can nickname it, The Rotating Sphere.
If your own world does not have those accessories,
then where will you run when the sphere becomes totally loveless?

We are too busy running for president,
or striving for Nobel Prize by discovering more galaxies,
or memorizing a hundred digits of Pi.
We describe it as civilization.
But pity, within us, are uncivilized.

Be on The Mother Earth. Stay on Her lap.
But do not live it.
Live what is within, and you will be more humane.

****


I love poems since I was 15. I love reading them, but never confident enough to write my own. But when I find the right time, idea, and sense, all those three combinations will suffice to drive me to write one. Most of the time, I will just keep my sketchy poems for myself.

The Rotating Sphere, I think, deserves for publication on my blog. This poem was written as my condolences to the number of terrorist attacks happening nowadays. The latest occurrence was the shooting attack happened in Christchurch, New Zealand on March 15. 


There are some philosophical ideas behind The Rotating Sphere. But the main point that I would like to convey through my poem is, it is always the best to maintain the balance between what we build 'outside' and 'inside'. What we build outside is what we have been doing since ages ago, building on civilization. But what we build inside is the one that we may have just started, that is when we start observing injustice and violence. 


Hyderabad, 17th March 2019


Rahma S

BEASISWA ICCR INDIA UNTUK S1-S3 TAHUN 2019-2020

12:37 AM 7 Comments

Beasiswa Indian Council for Cultural Relations

(ICCR) 2019-2020


Assalamu'alaikum teman-teman :) Mudah-mudahan teman-teman selalu sehat dan masih semangat ya karena saat yang selalu ditunggu-tunggu telah tiba. Yes, benar sekali. Beasiswa pemerintah India ICCR untuk jenjang S1-S3 tahun 2019-2020 akhirnya dibuka. Sudah banyak teman-teman yang menyapa saya di email dan Instagram untuk menanyakan perihal ICCR ini. Baiklah tanpa basa-basi lagi kita mulai saja ya.

Sekilas Tentang ICCR 
Ternyata masih banyak juga teman-teman yang bertanya ke saya "Kak, ada gak sih beasiswa buat ke India?" dan semacamnya. Bagi yang belum kenal dengan Beasiswa ICCR, berikut saya utarakan lagi ya teman-teman. Indian Council for Cultural Relations (ICCR) adalah sebuah badan pemerintahan dibawah Ministry of Foreign Affairs (a.k.a Kemlu). Salah satu program ICCR adalah penyediaan beasiswa belajar di India untuk semua jenjang S1, S2, S3, dan Research untuk semua jurusan kecuali Kedokteran (Medicine) dan Kedokteran Gigi (Dentistry) bagi mahasiswa asing di seluruh dunia. Beasiswa yang diberikan ICCR bersifat full-scholarship.

Beasiswa untuk tahun akademik 2019-2020 sudah dibuka sejak tanggal 30 Desember hingga 28 Februari 2019 (Diperpanjang hingga 31 Maret 2019).

Berkas yang Dibutuhkan
1. Foto ukuran 3.5x4.5 cm backgroud warna putih (untuk di upload di formulir)
2. Marksheet ijazah SMA
3. Marksheet pendidikan sebelumnya (jika mendaftar S2 maka sertakan markseet S1)
4. Physical Fitness yang diisi dan ditanda tangani oleh dokter
5. Surat rekomendasi dari sekolah atau kampus
6. Unique ID (Bisa pakai KTP)
7. Sinopsis bagi pendaftar S3
8. Silabus kopi pendidikan sebelumnya (dibawa saat daftar ulang)
7. English Proficiency Certificate i.e. TOEFL, IELTS, etc *

*) Ada beberapa perubahan untuk berkas-berkas yang harus di submit ketika angkata saya dan angkata baru-baru ini. Salah satunya adalah English Proficiency Certificate. Saat tahun saya, ICCR secara jelas menuliskan bahwa kami wajib mengirim tes TOEFL/IELTS bahkan ICCR juga mematok batas minimun skor untuk jenjang S1, S2, dan S3. Sejak dua tahun terakhir, ketika sistem ICCR mulai berubah, saya tidak melihat ICCR secara eksplisit dan secara jelas menuliskan bahwa wajib submit TOEFL/IELTS, sebab nantinya pihak Embassy atau Konjen di Indonesia akan mengadakan tes kemampuan Baasa Inggris.

Jadi apakah tetap harus submit English Proficiency Test? Nah, berhubung bukan ICCR yang akan mengevaluasi berkas kita, namun pihak universitas langsung (ICCR akan mengirimkan berkas ke univ tujuan kita), maka opsi paling aman adalah tetap melampirkan hasil tes sebab pihak kampus biasanya akan meminta bukti hasil tes TOEFL/IELTS saat daftar ulang.

Note: Semua berkas asli harus dibawa saat proses daftar ulang di kampus India.

Fasilitas Beasiswa ICCR
Rs 1 = Rp 200 (kurang lebih)

a. Biaya Hidup Bulanan (Living Allowance)
Untuk jenjang S1 uang saku sebesar Rs 18,000 per bulan. Untuk jenjang S2 uang saku bulanan sebesar Rs 20,000 . Untuk jenjang S3 uang saku bulanan sebesar Rs 22,000 dan untuk jenjang Postdoc sebesar Rs 25,000.

b. Uang Kuliah/SPP
Dibayarkan langsung oleh pihak ICCR ke kampus 

c. Uang Sewa Rumah
Bagi penerima beasiswa yang berada di kota Grade 1 yakni kota metropolitan seperti Delhi, Chennai, Bangalore dan Mumbai maka uang sewa rumah sebesar Rs 6,500 per bulan. Untuk yang tinggal di kota lain yakni sebesar Rs 5,500

Note: setiap penerima beasiswa wajib tinggal di asrama kampus (hostel) dan biaya sewa hostel + listrik akan dibayarkan langsung oleh ICCR kepada pihak kampus. Bagi yang ingin tinggal diluar kampus maka harus mendapat persetujuan dari ICCR dan besaran uang sewa seperti yang tertulis diatas. Bagi yang tidak mendapat persetujuan dari ICCR maka ICCR tidak akan memberikan uang sewa rumah sehingga biaya sewa rumah harus dibayar dengan uang saku pribadi.

d. Uang Buku (Contingent Grant)
Besaran uang buku sebesar Rs 5,000 (S1), Rs 7,000 (S2), Rs 12,500 (S3) dan Rs 15,500 (Postdoc). Nominal tersebut hanya didapat sekali selama masa kuliah berlangsung.

e. Biaya Penelitian atau Projek
Bagi mahasiswa S3 yang wajib melakukan thesis atau desertasi maka ICCR memfasilitasi dana penelitian sebesar Rs 10,000 (S3). Untuk jenjang S1 dan S2 yang tidak wajib thesis namun kampus mewajibkan pembuatan project work maka fasilitas dana yang diberikan sebesar Rs 7,000.

f. Biaya Kesehatan (Medical Benefit)
ICCR akan memberikan biaya kesehatan bagi penerima beasiswa dengan cara menyertakan bukti periksa atau bill obat. Bill periksa atau obat yang dicover oleh ICCR hanya yang berasal dari Klinik atau Rumah Sakit kampus dan Rumah Sakit Pemerintah.

g. Visa Belajar
Semua penerima beasiswa akan mendapatkan VISA  gratis.

h. ICCR Winter and Summer Trips
Setiap tahunnya ICCR akan mengadakan Winter Trip dan Summer Trip ke beberapa tempat wisata di kota pilihan. Biaya trip gratis bagi para penerima beasiswa. Fasilitas yang diberikan berupa transportasi, penginapan, makan, dan tiket masuk tempat wisata.

 
Bagaimana Cara Mendaftar?
ICCR adalah salah satu beasiswa yang paling tidak ribet prosedurnya menurut saya hehe... karena pelamar hanya cukup registrasi melalu website ICCR http://a2ascholarships.iccr.gov.in/
lalu mengisi data-data yang diperlukan dan upload semua dokumen-dokumen yang disyaatkan. Demi proses penulisan artikel ini dan kemudahan teman-teman dalam memahami maka saya juga melakukan registrasi di website ICCR.

Homepage A2A ICCR

 Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat akun di portal Admission A2A ICCR http://a2ascholarships.iccr.gov.in/ pada tab Applicant Registration di pojok kanan atas homepage (lihat gambar)

Setelah klik tab Applicant Registration maka akan muncul halaman seperti dibawah. Setelah itu klik submit dan jika registrasi berhasil maka teman-teman akan mendapatkan email dari ICCR.

Applicant Registration

Setelah proses pembuatan  akun selesai, silakan kembali ke homepage dan log in menggunakan email dan password teman-teman. 

Setelah log in maka teman-teman akan melihat halaman akun seperti dibawah.

Halaman Akun

Pada halaman akun ini tersedia 3 pilihan pada sisi samping kanan; Apply Application, Check Status, dan View Profile. Apply Application untuk mendaftar beasiswa, Check Status untuk melihat status pendaftaran, dan View Profile untuk melihat profil singkat teman-teman. 

Klik tombol Apply Application untuk mulai mendaftar. . 



Setelah selesai mengisi semua data di halaman pertama lalu klik tombol NEXT dan akan muncul halaman kedua seperti dibawah


Bagi pelamar program S1 maka Previous Educational Qualification diisi berdasarkan ijazah SMA, untuk pelamar S2 berdasar ijazah S1, dan pelamar S3 berdasar ijazah S2. Untuk Percentage (%) Grade diisi berdasarkan nilai akhir yang didapat yang sudah diubah kedalam bentuk persen. Misal nilai akhir adalah 8.1 dari 10 maka perentage adalah 81%, jika IPK 3.00 dari 4.00 maka percentage adalah 75%, dst. 

Setelah selesai klik tombol NEXT dan akan muncul halaman seperti dibawah



Jangan lupa untuk siapkan foto tanda tangan dalam format JPG yang tidak lebih dari 200 kb. Setelah itu klik tombol NEXT dan akan muncul halaman akhir pendaftaran yakni upload berkas. 


Perlu diingat bahwa semua dokumen yang disertakan sudah harus berbahasa Inggris. Jika ada dokumen yang masih berbahasa Indonesia maka wajib diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Untuk pelamar S1 dimana ijazah biasanya masih berbahasa Indonesia maka ijazah wajib diterjemahkan oleh Penerjemah Tersumpah.

Note: Ketika Final Admission (Final Submit) sudah dilakukan maka informasi dan berkas yang di-submit tidak bisa diubah lagi.

Setelah semua berkas selesai diupload lalu klik FINAL SUBMIT maka proses pendaftaran telah selesai. Status berkas bisa  dilihat pada halaman awal di bagian Check Status.

Koreksi sebelumnya : data teman-teman akan tetap tersimpan walaupun teman-teman tidak langsung final sumit saat itu juga. Jadi mulai sekarang teman-teman sudah bisa nyicil untuk mengisi formulir dan melanjutkannya di lain waktu


Segala prosedur pendaftaran dilakukan secara online di website ICCR. Pelamar tidak perlu lagi mengirimkan berkas-berkas ke Indian Embassy atau Konjen.

Demikian info seputar beasiswa ICCR 2019-2020. Mudah-mudahan bermanfaat. Budayakan selalu membaca sebelum bertanya karena kompetisi paling awal dalam merai beasiswa adala kesabaran, ketelitian, dan kecermatan dalam membaca formulir.

Teman-teman, sekedar informasi saja bahwa apa yang saya tulis disini juga merupakan hasil saya riset, membaca, dan mempelajari segala informasi yang diberikan oleh ICCR (semejak regulasi dan peraturan baru dari ICCR dua tahun lalu). Jadi, saya mohon maaf apabila informasi hasil riset dan sedikit pengalaman yang tertuang di artikel ini masih banyak ketidaksempurnaan. Saya terbuka untuk segala koreksi demi kebaikan bersama. Saya sangat menyarankan untuk membaca Guidelines dalam format PDF yang sudah saya cantumkan link-nya diatas. Saya akan sesekali membuat penambahan dan sedikit koreksi pada artikel ini jadi saya harap teman-teman tidak berkeberatan untuk membaca 2-3 kali artikel yang sama.

Bagi teman-teman yang ingin bertanya secara langsung bisa dm saya di IG @rahma.fs. Saya akan berusaha menjawab semua pertanyaan. Info-info terkait FAQ berdasarkan pertanyaan teman-teman akan saya posting di Insta Story. Teman-teman bisa cek sesekali jika luang. Alasan saya untuk posting di Insta Story karena itu lebih praktis dan sangat memudahkan saya (berhubung jadwal kuliah semester akhir saya yg sangat padat) ketimbang saya harus berkali-kali memperbaharui tulisan ini (kecuali memang ada banyak info yg wajib saya sampaikan maka saya akan memperbaarui tulisan ini), selebihnya akan saya sampaikan via IG. Mudah-mudaan hal ini tidak menyulitkan dan memberatkan teman-teman dalam mendapatkan informasi yang up-to-date. Sekian dari saya.

Wassalamu'alaikum

Rahma S